
Sem Haesy
BAGAIMANA menilai seorang laki-laki untuk diberi kepercayaan sebagai pemimpin? Selain harus memenuhi kriteria dasar: dapat dipercaya, benar dan berpihak kepada kebenaran, cerdas dan arif, serta komunikatif, lihatlah juga bagaimana dia memperlakukan isteri dan keluarganya.
Mereka yang sukses mengelola rumah tangga atau keluarganya, mempunyai kepatutan dan kelayakan sebagai pemimpin. Karena bagaimanapun, keluarga yang harmonis merupakan indikator keberhasilan dalam memimpin. Mereka yang gagal dalam berumah tangga, tak berhasil mendidik dan mengasuh anak-anaknya, boleh diragukan kemampuannya dalam memimpin masyarakat. Apalagi bangsa.
Rumah tangga atau keluarga sebagai unit sosial terkecil dalam peradaban manusia, merupakan organisasi yang – meskipun sederhana dalam format – mempunyai tingkat kerumitan yang kompleks. Rumah tangga akan menguji seorang lelaki menerapkan prinsip-prinsip asasi good governance: fairness (kewajaran), transparancy (kejelasan), responsibility (tanggung jawab), accountability (dapat dipertanggung jawabkan), dan independent (mandiri).
Kehidupan rumah tangga (keluarga), juga merupakan ujian bagi seorang laki-laki sebagai kepala keluarga menjalani fungsi dan praktik kepemimpinannya menerapkan demokrasi, yang bermuara pada harmoni. Di dalam mengelola rumah tangga atau keluarga, akan nampak dengan jelas, seberapa besar seorang laki-laki mengambil berbagai decision (keputusan) dan direction (pengarahan) dalam kapasitasnya sebagai imam.
Selebihnya, kepemimpinan di dalam rumah tangga, merupakan tolok ukur pertama bagi seorang laki-laki untuk menunjukkan kapasitasnya. Termasuk dalam berbagi peran dengan isteri dalam mengelola keluarga, sebagai bagian dari proses delegation of authority.
Tuhan menciptakan laki-laki untuk menjalankan fungsi decision dan direction, dan menciptakan perempuan untuk mengemban amanah fungsional menata (to manage) rumah tangga. Karenanya pasangan suami isteri menjadi teladan bagi seluruh anggota keluarganya.
Kehidupan di dalam rumah tangga, menunjukkan kualitas moral atau akhlaq seseorang. Mulai dari bagaimana memperlakukan orang tua dan mertua, anak, ipar, saudara – kerabat, sampai anggota keluarga lainnya: pembantu rumah tangga, pengemudi, dan pengasuh anak. Lalu, bagaimana pula akhlaq-nya dalam bersosialisasi, termasuk hubungan dengan tetangga.
Kita tidak mungkin akan memilih lelaki yang terbiasa melakukan kekerasan di dalam rumah tangga --baik dalam bentuk fisik maupun psikis – sebagai pemimpin. Lelaki semacam ini, sangat mungkin melakukan abuse of power.
Kita tidak mungkin akan memilih seorang lelaki yang membiarkan isteri dan anak-anaknya hidup di luar dimensi etika sosial yang lazim, sebagai pemimpin. Lelaki seperti ini, akan cenderung membiarkan masyarakatnya hidup dalam anomali.
Kita tidak mungkin akan memilih seorang lelaki yang memberikan nafkah bagi isteri dan anak-anaknya secara tidak halal, sebagai pemimpin. Kelak ia terbiasa membiarkan tindakan korupsi dan kolusi.
Kita tidak mungkin akan memilih seorang lelaki yang gemar berjudi sebagai pemimpin. Lelaki semacam ini akan menghadapkan masyarakat, negara, dan bangsa terpuruk dalam pusaran risiko yang sangat tinggi.
Kita tidak mungkin akan memilih mereka yang tidak mampu menghormati orang tua, mertua, isteri, anak, dan keluarganya, sebagai pemimpin. Karena lelaki semacam ini, tidak akan pernah mau dan mampu menghormati rakyatnya. Jadi? Nilailah lelaki dari bagaimana dia mengelola rumah tangganya. [Tentang yang satu ini, dari Itali kita mendapat contoh bagaimana jatuhnya Perdana menteri Silvio Berlusconi...] |