Rakyat Sudah Menentukan Pilihannya

Jangan Terkecoh Fantasi Politik

| dilihat 2508

Bang Sem

SEPERTI sudah saya perkirakan sebelumnya dan saya kemukakan melalui media sosial, tak ada Partai Politik Pemenang Pemilihan Umum 2014, sama seperti tak satupun parpol yang bisa meraih suara di atas 20 persen. Hasil hitung cepat pemungutan suara menunjukkan: di mata rakyat, tak ada parpol terbaik. Perolahan suara real count yang akan dilakukan KPU (Komisi Pemilihan Umum) kelak tak akan banyak berbeda. Perubahan pola memilih di kalangan swing voters menarik dicermati pada meningkatnya angka perolehan suara untuk Partai Gerindra dan Partai Kebangkitan Bangsa.

Platform perjuangan partai, strategi dan pola kampanye Partai Gerindra yang sejak awal memang sudah berada pada track yang tepat dan konsisten dilaksanakan, berbuah hasil yang maksimal, kendati belum optimum. Gempuran black campaign dan beragam tembakan dahsyat ke arah Prabowo Subianto, ternyata tak mempan menghambat partai yang relatif baru berusia 6 (enam) tahun ini. Eksekusi taktis di penghujung kampanye yang dilakukan oleh Wakil Ketua Umum Fadli Zon, anak muda yang kreatif, itu memang jitu. Terutama melalui puisi ekspresif yang menusuk bokong ‘banteng gemuk bermulut putih.’ Momennya tepat, ketika PDIP menayangkan iklan politik yang menjadi bumerang bagi dirinya.

Strategi kampanye Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) juga mantap, sejak Ketua Umum Muhaimin Iskandar memainkan ‘beckel effect’ yang diperoleh dari keberadaan Jusuf Kalla, Said Agil Siradj, Rusdy Kirana, Rhoma Irama, Ahmad Dhani, dan Ridho Rhoma Irama. Kesemuanya membuka mata pemilih tradisional dan kalangan pemilih muda untuk memberikan dukungan langsung terhadap partai yang didirikan KH Abdurrahman Wachid, ini. Pendek kata, citra PKB sebagai partai kaum nahdliyin yang terbuka untuk seluruh warga negara Indonesia kian menguat.

Apa yang dilakukan PKB memang berbeda dengan apa yang dilakukan dan dialami PAN (Partai Amanat Nasional). Selain warga Muhammadiyah sudah kadung berjarak dengan partai berlambang ‘matahari putih’ itu, klaim keberhasilan yang dilansir dan dilekatkan langsung dengan Hatta Radjasa, Ketua Umum-nya tak mampu menarik simpati rakyat lebih besar. Bahkan di daerah – daerah kantung suara yang akan memberikan konversi kursi yang memadai, seperti di Sulawesi Utara dan Gorontalo, akibat banyak kalangan yang kecewa dengan carut marut renegosiasi kontrak karya pertambangan, serta izin pinjam pakai hutan untuk eksplorasi pertambangan.

Partai Golkar yang paling berpengalaman menghadapi pemilihan umum, kali ini harus terima nasib, karena banyak faktor yang mengganjal lajunya partai ini, sejak Aburizal Bakrie terpilih sebagai Ketua Umum pada Munas Riau. Belum lagi berbagai persoalan lain yang melekat dan dilekatkan dengan keluarga Bakrie dan sepak terjang bisnisnya. Lebih dari itu, di tubuh Partai Golkar sendiri, tak bulat suara untuk menjagokan Aburizal Bakrie sebagai Calon Presiden.

Partai Demokrat masih beruntung, karena H. Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) berhasil menyelamatkan partai berlambang bintang mercy itu, melalui KLB (Kongres Luar Biasa). Tapi, nampak jelas, bagaimana SBY nyaris berjibaku hanya ditemani segelintir orang kepercayaan dan keluarga dekat seperti Marzuki Alie, Jero Wacik, Syarifuddin Hasan, Amir Syamsudin, dan Pramono Edhie Wibowo. Ditambah kehadiran peserta Konvensi Calon Presiden Partai Demokrat seperti Anies Baswedan, Dahlan Iskan, Endiartono Sutarto, Ali Masykur Musa, dan Dino Patti Djalal. Peserta konvensi lainnya, seperti Gita Wirjawan, Hayono Isman, dan Irman Gusman tak memberi dampak sedikitpun untuk membuat perolehan suara tak merosot drastis.

Partai Demokrat (PD) terbilang partai peserta Pemilu 2014 yang paling luar biasa menghadapi persoalan. Terutama karena partai ini dihancurkan justru oleh kader dan ‘kader’-nya sendiri. Ironisnya, sejumlah kader dan bahkan pendiri partai ini, justru banyak tersisihkan oleh arus besar mereka yang hanya numpang pada kebesaran Partai Demokrat (2004 – 2011). Karenanya, bila kali ini Partai Demokrat berada pada posisi yang seperti sekarang ini, boleh dikata masih luar biasa. Hal itu juga berkat kerja keras para caleg dari kalangan kader yang baik dan sungguh berjuang mempertahankan eksistensi partai yang kadung dirusak citranya dengan beragam ulah para penyamun yang menyelusup ke dalam partai. Kondisi PD mirip dengan Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Bedanya, secara internal masih begitu banyak kader PKS yang solid.

Partai Nasdem sudah bisa dihitung sejak awal, tidak akan memperoleh suara signifikan. Restorasi Indonesia yang hanya diusung dengan retorika tak akan menghasilkan banyak. Meskipun upaya Ketua Umum, Surya Paloh harus dilihat kegigihannya menempatkan partai ini sebagai pemain baru di parlemen. Selebihnya, Partai Persatuan Pembangunan (PPP) mengalir saja dengan gaya ‘as siyasah as shagir’ dan lumayan berhasil menunjukkan, asumsi tentang partai berbasis agama selama ini, tak sepenuhnya benar.  Akan halnya Partai Hanura, ya seperti lambangnya, nancep dan mentok di urutan buncit.

Bagaimanapun juga, yang mesti dicatat baik-baik oleh para petinggi parpol saat ini adalah: kian dalamlah mawas diri.  Jangan terkecoh dengan jebakan fantasi yang dilansir lembaga survey dan aksi media sosial yang maya... |

 

Editor : Web Administrator
 
Humaniora
26 Mei 26, 06:53 WIB | Dilihat : 78
Dimensi Haji
21 Mei 26, 21:54 WIB | Dilihat : 282
Jamaah Haji Syarikat Islam Apresiasi Peningkatan Layanan
11 Mei 26, 09:34 WIB | Dilihat : 572
Sandal dan Kain Ihram Gratis
Selanjutnya
Energi & Tambang