Banten Al Muktabar

| dilihat 248

Nota Bang Sèm

CIRI orang berilmu, punya kemampuan mendengar, menyimak, lalu bicara tentang substansi gagasan yang berorientasi pada kemaslahatan orang banyak.

Pendapat ini saya peroleh dari allahyarham ayah, yang kuat menyimak sambil sekali sekala mengajukan pertanyaan kecil, setiap kali dikunjungi anak-anaknya. Kecuali orang sengaja datang dan meminta pendapatnya tentang sesuatu hal, yang sepenuhnya adalah solusi.

Sampai masa belia, sebelum bertahun-tahun tak pulang, saya selalu menyaksikan sikap semacam itu darinya. Hal yang sama, juga saya dapatkan dari allahyarhamah Ibu, yang bicara lebih detil dan rinci tentang sesuatu hal.

Rabu (21/9/22) malam, di Serang, ketika menghadiri Pelantikan Majelis Wilayah Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Provinsi Banten, teringat kembali nasihat orang tua saya itu.

Saya melihat sesosok orang berilmu sebagaimana termaknai dari nasihat, itu. Sosok itu adalah Al Muktabar, Pejabat Gubernur Banten yang dilantik Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian (12/05/22).

Mantan Ketua Umum IWI (Ikatan Widyaiswara Indonesia) dan Kepala Bidang Kerjasama Antar Negara di Kementerian Dalam Negeri, itu saya perhatikan sangat serius menyimak seluruh rangkaian acara.

Dari mimbar, ketika menyampaikan orasi, saya perhatikan lelaki kelahiran Tenabang, 12 Juni 1965 yang merampungkan studi S1 di Universitas Bengkulu, itu sangat tekun menyimak. Matanya memandang serius dengan tatapan tajam ke arah saya, meski orang yang duduk di sebelahnya tampak mengajaknya bicara.

Apa yang nampak pada diri Al Muktabar malam itu, berbeda kontras dengan sebagian hadirin dan hadirat yang sibuk bicara dengan sesamanya, sehingga terdengar 'geremengan,' sehingga saya harus membesarkan volume suara, meski telah menggunakan mic yang tersambung dengan loudspeaker.

Al Muktabar menyelesaikan studi pasca sarjana program studi Ketahanan Nasional di Universitas Gadjah Mada - Yogyakarta (1996), kemudian melanjutkan lagi dan menyelesaikan studi Applied Statistics Polytechnic di Institute of New York (1998). Ia lulus dan meraih gelar Doktor Studi Administrasi Negara - Universitas Padjadjaran Bandung (2004), dan Philosophy Doctor (Ph.D) Studi Urban and Regional Planning  di The Florida State University - Amerika Serikat (2006).

Semua proses studinya itu membumikan namanya, Al Muktabar yang berarti mulia, terpandang, dan terhormat. Hal itu tercermin dari sikap dan pandangannya yang obyektif dan terbuka, ketika dia mengemukakan perlunya kontrol khalayak kepadanya, yang kini menyandang tiga jabatan sekaligus (GWS: Gubernur, Wakil Gubernur, dan Sekretaris Daerah) di Provinsi Banten.

Performa, ilmu, dan tongkrongan Al Mukatabar dalam pandangan saya memang pas ditempatkan di Banten, tempat berhimpunnya keulamaan, kecendekiaan, dan kejawaraan (dalam makna heroisme).

Tak hanya karena Banten sedang intensif melakukan proses perjuangan mengembalikan lagi muru'ahnya sebagai sentra unggulan dan peradaban, yang pernah menjadi pamornya di masa lalu. Melainkan juga, karena Banten sedang berjuang mengatasi persoalan-persoalan laten untuk menghambat terjadinya loss generation melalui pendidikan dan ketahanan keluarga.

Setarikan nafas, Banten juga akan harus mengembalikan muru'ah dan keunggulan komparatifnya sebagai gerbang dan sekaligus strategic hub kemajuan dan pembangunan multidimensi di Barat Pulau Jawa, bersama-sama Jakarta Raya (yang akan berkembang sebagai Global City penting di Asia Pasifik) dan Jawa Barat (sebagai sentra pendidikan, industri, pertanian, dan ekonomi)

Sinergi Banten, Jakarta Raya, dan Jawa Barat akan menjadi titik tumpu yang penting sebagai kawasan ekonomi bisnis multi dimensi dan akan mengalami proses perubahan dramatik yang menguatkan jejaring utama khalayak urban dan sub urban, sebagai daya utama suatu megapolitan baru (dalam makna sesungguhnya).

Banten, Jakarta Raya, dan Jawa Barat akan menjadi simpul utama megapolitan baru yang akan menghubungkan pertumbuhan Sumatera dan Jawa yang dihubungkan oleh Jalur Lintas Sumatera dan Jawa (Trans Sumatera - Java Connection). Terutama, ketika Ibu Kota Negara (IKN) di Kalimantan Timur, sungguh mewujud kelak.

Perubahan geo ekonomi - bisnis (yang membawa serta orientasi baru geo politik) dari koneksi Amerika Serikat Eropa ke Asia Pasifik, dengan beragam tantangan baru abad ke 21.

Ketika menyampaikan orasi malam itu, saya berusaha menghadirkan dan menghubungkan simptoma kearifan - kecerdasan lokal masa lampau dengan fenomena dan tantangan hari ini dan esok, serta peluang besar yang tersedia.

Saya juga ingin memantik kesadaran kolektif kaum terdidik yang (mestinya, berkualitas) insan cita Banten, untuk menggerakkan perubahan dramatik (transformasi) menempatkan pembangunan sebagai suatu gerakan peradaban (civilization movement).

Titik beratnya adalah transformasi modal insan (human investment transformation). Paling tidak, menjawab simptoma yang telah diisyaratkan para leluhur masa lalu dengan pandangan-pandangan visioner, antara lain dari prediksi visioner para ilmuan dunia, seperti James Martin (tokoh Revolusioner dari The Oxford University).

Banten mempunyai modal yang memadai untuk itu. Mulai dari Universitas Mathla'ul Anwar -- yang bisa menjadi model Green and Village Campus --,  Universitas Tirtayasa, Universitas Islam Negeri Syarief Hidayatullah, Institut Teknologi Indonesia, Swiss German University, Universitas Multimedia Nusantara, International Liasion University Indonesia, Universitas Monash Indonesia, Universitas Pamulang, Universitas Pradita, pesantren modern dan tradisional, Madrasah Insan Cendekia, Pusat Nuklir Serpong, International Airport Zone - Soekarno Hatta, Shouth Marine Zone dan lain-lain.

Ketika tiba giliran bicara malam itu, sebagai Pejabat Gubernur, Al Muktabar menyampaikan sesuatu yang membangun kesadaran kita untuk mengenali dan mengakui kelemahan Banten kini, sehingga mempunya ruang untuk membangun kekuatannya esok.

Al Muktabar memulai dari informasi obyektif tantangan yang dihadapi Banten dan keluar dari intuitive reason yang selama ini menyelimuti banyak kalangan, dan memberikan tawaran strategis: kolaborasi dan sinergi. Dikatakannya, banyak nilai yang dapat menjadi transformation way untuk mencapai Banten yang Sejahtera, Adil dan Membahagiakan.

Pidato Al Muktabar malam itu dan juga pandangannya dalam berbagai kesempatan lain, saya terima sebagai suatu kesadaran baik untuk menjawab berbagai isyarat yang dikemukakan James Martin (The 17 Great Challenges of Tweenty One Century).

Mulai dari bagaimana mengelola wilayah ekologis sebagai cara merawat bumi dengan konsistensi penataan ruang yang tepat. Termasuk mengatasi kesenjangan antar wilayah -- terutama Banten Utara - Banten Selatan.

Lantas, membalik kemiskinan dengan menghidupkan kembali entrepreneurial dan entrepreneurship yang pernah menjadi ciri khas masyarakat Banten di masa lalu. Malam itu, saya sebut, mengubah terminologi Usaha Kecil Menengah (small medium business) menjadi Usaha Kreatif Mandiri (independent creative business), dengan memperluas independent business owner yang menjadi salah satu ciri kaum muslim Banten pada masanya.

Lalu, pengendalian demografi, sehingga pada masanya (dekade kini sampai dekade 2040-an) sungguh akan memperoleh bonus demografi dan bukan petaka demografi. Diperkuat dengan gaya hidup lestari (achieving sustainable lifedata-style), yang memungkinkan kemampuan menghadapi globalisme secara efektif.

Dalam hal ekonomi bisnis, Banten pernah dikenal dengan kemampuan menawarkan konsep universe prosperity (kesejahteraan semesta) di masanya. Wasiat Sunan Gunung Jati kepada Maulana Hasanuddin, yang kemudian diperjuangkan oleh Maulana Yusuf, dan kemudian Sultan Ageng Tirtayasa, menunjukkan hal itu. Bahkan di awal masa kemerdekaan republik ini, Banten dan Aceh mengawali aksi moneter yang historikal melalui ORIDA (Oeang Republik Indonesia Daerah Aceh) dan ORIBA (Oeang Republik Indonesia Banten), ketika ketahanan politik dan militer dalam menjaga kedaulatan, menghadapi masalah.

Tantangan yang perlu dijawab juga, menaklukan pandemi dan penyakit yang disebabkan oleh rusaknya alam lingkungan dan menyebarkan virus berbahaya seperti nanomonster Covid-19.

Tak mudah memang memimpin Banten, apalagi hanya dalam masa transisi sampai 2024. Terutama untuk melakukan reinventing government sekaligus mengembangkan memetika (tularan akalbudi) yang bertumpu pada kesadaran, kemauan, dan kemampuan menghidupkan budaya kreatif, inovatif, dan inventif dalam memanfaatkan sains dan teknologi.

Setarikan nafas, Banten juga mesti menghidupkan perluasan potensi manusia -- rakyatnya --secara terencana, sistematik dan terukur. Khasnya manusia yang mampu mengelola keseimbangan nalar, naluri, nurani, dan dria-nya. Keseimbangan kecerdasan dan keterampilan dengan akhlak dan kearifan.

Dalam bahasa Al Muktabar adalah realisasi keselarasan pemikiran dan inspirasi untuk  pembangunan Banten untuk kesejahteraan masyarakat. Keselarasan pembangunan fisik dengan watak - mental dengan berbasis membangun pendidikan.

Kata Al Muktabar, bila pendidikan masyarakatnya cukup baik dipastikan Banten dan Indonesia akan bergerak maju dan setara dengan negeri-negeri dan bangsa-bangsa lain.

Apalagi, Provinsi Banten memiliki potensi hampir lengkap untuk entitas kehidupan, yakni industri di Utara, budaya di Selatan, bisnis, pendidikan, dan wisata tersebar pada keduanya. Kolaborasi dan sinergi seluruh pemangku kepentingan dengan pemerintah Provinsi Banten yang sadar perubahan, akan mengubah potensi Banten Al Muktabar menjadi realitas.

Di sini, KAHMI Banten, kaum cendekiawan dan generasi milenial Banten berpeluang mengambil inisiatif. Paling tidak, menggelar dialog sceenario plan. |  

Editor : delanova
 
Ekonomi & Bisnis
03 Des 22, 15:17 WIB | Dilihat : 41
Ginanjar Nilai Semua Investasi Jepang Lancar
15 Jun 22, 09:26 WIB | Dilihat : 360
Gobel : PMK Hewan Memukul Kedaulatan Pangan
Selanjutnya
Sainstek
27 Okt 21, 17:41 WIB | Dilihat : 516
Waspadai Kabar Palsu Artis Meninggal di Media Sosial
20 Nov 19, 13:05 WIB | Dilihat : 2338
Rumah Ilmuwan Bukan di Menara Gading
Selanjutnya