
Kunjungan Anies Rasyid Baswedan - Calon Presiden pasangan No.1 AMIN ke Pekanbaru untuk kepentingan kampanye di ibu kota Provinsi Riau tersebut (Rabu, 13/12/23), terasa khas.
Kali ini, ia tak datang hanya dengan Timnas AMIN, melainkan bersama ibunya, Prof. Aliyah dan istrinya, Feri Farhati. Tidak bermalam di hotel, melainkan bermalam di Rumah Omak -yang disiapkan untuk Allahyarhamah Hajah Muhana, ibunda Ustadz Abdul Somad (UAS) di lingkungan Ma'ahad Az Zahra.
Pada malam hari, selain berdiskusi tentang banyak hal. Selepas salat Subuh, di Ma'ahad Az Zahra, bersama para santrinya, UAS memimpin zikir. Ia yang juga memberikan buku Zikir & Do'a yang disusunnya, Buku tersebut juga diberikan kepada Prof. Aliyah dan Feri.
Selepas berdzikir, UAS menjelaskan isi buku dan makna hakikat dari bacaan zikir dan do'a yang merujuk kepada berbagai tafsir al Qur'an, hadits, dan pemikiran para ulama.
UAS juga menjelaskan, sejumlah kalangan bertanya kepadanya, apakah diidzinkan memperbanyak buku tersebut. Sambil senyum UAS mengatakan, boleh. "Tapi jangan pasang gambar caleg, capres, dan cawapres, kecuali wajah pasangan AMIN," ujarnya.
UAS juga bercerita, sesuai dengan rujukan beberapa kitab, ia menanam pohon bidara di halaman rumahnya, sambil menjelaskan bagaimana menggunakan daun bidara tersebut untuk berbagai ikhtiar kesehatan.
Kemudian membaca do'a yang di-amin-kan Anies, dengan membacakan beberapa ayat dalam Surah Yaasin sampai ayat terakhir, kemudian bersalawat.
"Ya.. Allah mudahkanlah urusan kami, terutama urusan negara kami. Jadikanlah bapak Dr. Anies dan bapak Muhaimin Iskandar menjadi pemimpin negeri ini.. ya Allah," mohonnya. Lalu melanjutkan do'anya, seraya mendo'akan Allahyarham Rasyid Baswedan ayah Anies, Allahyarham Bachtiar dan allahyarhamah Hajah Muhana - ayah dan ibu UAS.

Kemudian UAS meminta Anies menyampaikan Kuliah Tujuh Menit (Kultum). Kuliah tersebut direkam untuk dibagikan kepada para santri dan seluruh jama'ahnya.
Pada kesempatan menyampaikan Kultum tersebut, Anies menyatakan, bahwa Subuh tersebut sebagai subuh penuh makna, subuh penuh hikmah yang hikmahnya kelak akan dibawa seterusnya.
Anies menjelaskan, bagaimana mereka berdiskusi pada malam hari dan sempat mati lampu. "InsyaAllah ini termasuk yang harus dibereskan, nanti," tukas Anies, mengundang senyum. "Ini semua melengkapkan silaturrahmi kita," tambahnya.
Anies, atas nama ibunda, istri, dan rombongannya mengucapkan terima kasih atas sambutan hangat UAS sebagai penanda persaudaraan yang kuat.
Anies lantas bicara kepada para santri. Anies menjelaskan dulu istilah santri bermula dari bahasa sanskerta: cantrik dan mantrik. Anies kemudian bertanya kepada santri tentang aktivitas mereka.
Seorang santri menjelaskan mereka dari pukul 03.00 pagi bangun sampai tidur malam. Mulai salat tahajjud, salat berjama'ah, muroja'ah, halaqoh, makan, istirahat dan lain-lain.
Ketika Anies bertanya tentang permata dan batubara, seketika para santri tertawa, karena UAS adalah Abdul Somad Batubara. Lalu Anies menjelaskan, bahwa di setiap lokasi penambangan batubara, ada permata. Namun, dijualnya berbeda ukuran, meski material dan unsur dan tempat yang sama.
Permata dijual dengan ukuran gram, dan batubara dijual dengan ukuran ton. Permata bernilai tinggi karena ditempa secara alamiah dengan sangat berat dibandingkan dengan batubara. "Mudah-mudahan adik-adik di sini kelak menjadi permata umat, karena digembleng sedemikian rupa," ungkap Anies.
Anies bertanya, "Adik-adik mau jadi permata atau batubara?" Semua santri menyebut, permata. Anies menjelaskan proses menjadi permata, sesuatu yang mulia, jauh dari orang tua, adik, kakak.. melalui proses yang berat. Tidak instan. "Yang instan itu, mie instan," katanya berseloroh. Anies menjelaskan bahwa dalam hidup kita seperti seorang pendaki yang terus mendaki mencapai puncak.

Pada kesempatan lain dalam perbincangan malam hari yang santai, terungkap cerita, ketika Anies SMP mendapat tugas OSIS mengurusi pengabdian masyarakat. Mengurusi donasi atau dana amal untuk siapa saja yang mengalami duka kematian. Pada masa itulah, Anies sering kena buli. Termasuk ketinggalan pelajaran.
Dalam perbincangan tersebut, UAS juga 'membongkar' kisah - kisah khas dan penuh hikmah yang dialami oleh Anies, termasuk bagaimana dia melalui proses kepemimpinan, sehingga menjadi Ketua OSIS se Indonesia, saat kelas 1 SMA.
Anies lantas bercerita tentang pentingnya pelatihan-pelatihan kepemimpinan bagi pelajar dan mahasiswa. Anies juga bercerita tentang pertukaran pelajar pasa masa SMA, sehingga dia bisa ke Amerika Serikat melalui AFS Intercultural Program.
"Itu ada bukti-buktinya ya?" canda UAS. "Foto Wisuda-nya juga ada," jawab Anies mengundang gelak. Lantas, UAS bertanya kepada Prof. Aliyah tentang masa kecil Anies. "Anies itu nakal, tetapi tidak cengeng," ujar Bu Aliyah. Lalu perbincangan mengarah ke cara mendidik anak. "Sejak Anies kecil, kami memang tidak memanjakan anak," kata Bu Aliyah.
Anies menyebut nenek, kakek, ayah, dan ibu yang hebat, dan Anies beruntung karena serumah. Anies sering diajak ke berbagai pertemuan. Termasuk di ajak ke ruang kuliah, pertemuan-pertemuan sosial.
UAS juga membongkar ihwal keterpikatan Anies kepada Feri. Perbincangan yang hangat dan mencerminkan persaudaraan yang kuat. UAS merekam perbincangan tersebut dan menayangkan di channel Youtube Ustadz Abdul Somad Official.
Di Pekanbaru, Anies berkunjung ke kawasan Kampung Kumuh yang berada di jalan Budi Agung, Kecamatan Sail, Kota Pekanbaru, bertemu dengan tokoh Riau dan makan siang di RM Khas Melayu, mengikuti program "Desak Anies" yang diselenggarakan di Pasar Sail, Kota Pekanbaru, dan mengadakan pertemuan terbatas dengan masyarakat serta pendukungnya di GOR Pekanbaru. | delanova