Palestina, Tanah Suci yang Dinistakan

| dilihat 3184

AKARPADINEWS.COM | KEMERDEKAAN dan kedamaian masih menjadi mimpi Bangsa Palestina. Tanah yang disucikan itu kerap diwarnai letupan amarah yang menyisahkan darah dan air mata. Palestina, seringkali menyuguhkan kisah tragis anak manusia lantaran tak hentinya agresi Israel di sana.

Belum lagi konflik bersaudara antara Hamas dan Fatah. Konflik yang meletup sejak terbentuknya Pemerintahan Kesatuan Palestina, lewat kesepakatan di Mekkah, pada 17 Februari 2007 itu, berkali-kali bermuara pada konflik terbuka yang mengerikan. Ribuan warga Palestina pun terpaksa angkat kaki dari tanah leluhurnya.

Kisah yang menyayat luka Palestina menjadi perhatian bangsa-bangsa sejak lama. Berbagai opsi ditawarkan untuk meradam amuk di sana. Di antaranya, two-states solution, yaitu menempatkan Palestina-Israel untuk melahirkan kesepakatan agar sama-sama saling mengakui kedaulatannya. Namun, opsi itu nyatanya gagal. Palestina-Israel tetap dengan pendiriannya, sama-sama berhak menduduki tanah bersejarah di sana.

Lalu, one-states solution, yaitu menyelesaikan konflik dengan menyatukan wilayah konflik keduanya menjadi satu negara. Namun, opsi itu sulit direalisasikan karena Palestina-Isreal tidak bersedia hidup bersama.

Kemudian, interrspersed nations-state/non-territorial state system. Pendekatan ini tidak sebatas membagi wilayah menjadi dua negara. Namun, juga memerintah warganya masing-masing. Misalnya, dalam pemerintahan di Israel juga diisi perwakilan Palestina. Begitu pula sebaliknya. Opsi itu juga menghadapi jalan buntu.

Bagi Presiden Palestina, Mahmoud Abbas, tidak ada gunanya menghabiskan waktu bernegosiasi dengan Israel. Dia pun mendesak Dewan Keamanan PBB melakukan aksi konkret menghentikan pendudukan ilegal Israel di Palestina, khususnya wilayah Al-Quds.

Abbas juga pun menyampaikan jika Isreal telah memberlakukan pajak berlebihan, melarang akses ke izin bangunan dan menghancurkan rumah-rumah warga. Bahkan, Isreal juga mengusir warga Palestina dari Al-Quds dan tidak menghormati kesucian tempat suci bagi Muslim dan Kristen.

Bagi Indonesia, kemerdekaan Palestina adalah harga yang tidak bisa ditawar. Indonesia memiliki tanggungjawab untuk memperjuangkan kemerdekaan Palestina. Karena, Indonesia berhutang dengan Palestina sebagai negara yang mendukung kemerdekaan, bahkan jauh sebelum proklamasi 17 Agustus 1945. Sangat naif, jika Indonesia tutup mata dengan penjajahan Israel terhadap Palestina.

Berbagai upaya telah dilakukan Indonesia untuk memperjuangkan kepentingan Palestina, mulai dari pendekatan diplomasi, mengirim bantuan kemanusiaan ke rakyat Palestina, mengerahkan pasukan perdamaian, dan kerjasama luar negeri lainnya.

Sikap Indonesia itu tidak berubah. Sampai kapan pun, Indonesia memandang Israel sebagai bangsa penjajah jika sebelum Palestina meraih kemerdekaannya. "Indonesia berdiri bersama dengan negara-negara OKI untuk meneruskan perjuangan yang belum selesai itu," kata Presiden Joko Widodo saat menyampaikan pidato di Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Luar Biasa dari Organisasi Kerjasama Islam (OKI), di Jakarta, Senin (7/3).

Indonesia juga mengecam kebijakan-kebijakan ilegal serta hukuman yang diterapkan Isreal yang menyulitkan Palestina. Dan, sebagai negara yang dihuni mayoritas umat Islam, Indonesia mengecam Israel yang menutup akses umat muslim ke tempat suci: Masjid Al-Aqsa di Jerusalem. Sikap Indonesia itu juga diamini negara-negara Islam yang tergabung dalam OKI.

Namun, desakan Indonesia, negara-negara Islam lainnya, termasuk negara-negara barat yang menentang imprealisme Israel, nyatanya tetap tak bisa memaksa Isreal menghentikan agresinya.

Konflik Palestina-Israel, memiliki rekam jejak sejarah yang sangat panjang. Rakyat Palestina menyatakan sebagai pribumi yang berhak menempati tanah leluhurnya. Palestina diperkirakan sudah ada sejak 8000 tahun sebelum masehi (SM). Namun, sejarah juga mencatat, Palestina adalah tanah leluhurnya umat Yahudi yang menempati kawasan itu tahun 1000 SM-135 masehi.

Yahudi memang merupakan agama Bani Israel yang di bawah Nabi Daud AS, Sulaiman AS, Musa AS, dan nabi-nabi lainnya. Isreal pun mengklaim sebagai penganut Yahudi. Dan, perseteruan memuncak lantaran Yahudi menentang nabi terakhir yang berpindah ke Bani Ismail.

Yahudi menentang ajaran tauhid yang dibawa Nabi Muhammad SAW. Umat Yahudi, khususnya kelompok Haredim yang saat ini berkuasa di Israel, mengklaim umat Allah yang istimewa dibandingkan yang lainnya. Pandangan itu persis klaim Nazi, Jerman, yang menempatkan Ras Arya lebih baik dibandingkan ras-ras lainnya.

Palestina juga pernah berada di bawah kendali Kerajaan Achaemanid Persia (1000 SM-135 M). Lalu, Palestina jatuh ke tangan Dinasti Ptomely dari Mesir, dan Dinasti Selecuid dari India bagian barat, sampai kemudian Roma menaklukkan Dinasti Selecuid pada tahun 63 SM, yang kemudian direbut Raja Chosroes dari Kerajaan Sasan (Persia) tahun 611 M.

Setelah itu, Romawi berhasil merebut kembali Palestina tahun 628 M, pada masa pemerintahan Raja Heraclius. Umar bin Khattab RA (Radiyallahu ‘Anhu) kemudian menyerang Palestina pada tahun 636 M dan berhasil menguasainya. Pemerintahan Islam kemudian beralih dari Umar bin Khattab RA ke Dinasti Umayyah (661-749 M) hingga akhirnya Dinasti Abbasiyyah (749-940 M).

Para sejarawan merunut kronologi konflik Palestina-Israel, tidak terlepas dari konflik antar agama. Tiga agama langit (samawi) yaitu Islam, Yahudi, dan Kristen, sama-sama menganggap Palestina adalah tanah suci. Perebutan kekuasaan dan klaim-klaim yang menganggungkan agama yang dianutnya, menyebabkan tanah suci itu dinistakan.

Di Palestina, terdapat Masjid Al-Aqsa yang menjadi kiblat pertama kali umat Islam. Lalu, Nabi Muhammad SAW memindahkan posisi kiblat ke arah Kabah di Masjidil Haram, setelah hijrah dari Mekkah ke Madinah. Masjid Al-Aqsa merupakan tempat Isra dan Mi'raj, Nabi Muhammad SAW tahun 620, memulai perjalanan menuju Sidrat Al Muntaha atau langit ke tujuh.

Masjid yang juga dikenal dengan nama Baitul Maqdis itu diyakini menjadi tempat Rasulullah shalat, menjadi imam berjamaah bersama 25 rasul dan lebih dari 160 ribu nabi.

Di Palestina juga terdapat Tembok Ratapan yang disucikan umat Yahudi. Tembok itu dibangun Raja Herodes dan pernah dihancurkan lantaran pemberontakan orang-orang Yahudi terhadap Kerajaan Romawi tahun 70 Masehi. Panjang tembok ini aslinya sekitar 485 meter, dan sekarang sisanya hanyalah 60 meter. Kaum Yahudi sempat angkat kaki dari Palestina lantaran serbuan tentara Romawi.

Orang Yahudi menyakini tembok itu tidak akan hancur karena menjadi tempat berdiam "Shekhinah" (kehadiran ilahi). Dulunya, tembok itu dikenal sebagai Tembok Barat, tetapi kini disebut Tembok Ratapan dan menjadi tempat orang Yahudi meminta ampunan dosa.

Dan, Yahudi juga mempunyai doktrin bahwa tanah Palestina adalah tanah yang dijanjikan. Bagi umat Nasrani, Palestina juga terdapat Gereja Kuburan Suci yang menjadi tempat penyaliban, pemakaman, dan kebangkitan Yesus.

Konflik Palestina-Israel memanas tatkala Isreal diakui Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menjadi negara tahun 1948. Beberapa negara Islam di negara di Timur Tengah menentang kemerdekaan Israel. Lebanon, Suriah, Yordania, Mesir, dan Irak melancarkan serangan. Negara-negara itu membela Palestina dari upaya pencaplokan wilayahnya oleh Israel. Namun, Israel tidak berdiam, membangun dukungan negara-negara barat.

Perang itu dimenangkan Israel. Di tahun 1967, Israel pun makin agresif menyerang negara-negara yang menentang pengakuan kedaulatannya seperti Mesir, Yordania, dan Suriah, dan berhasil menguasai Sinai, Jalur Gaza, dataran tinggi Golan (Suriah), dan Yerussalem. Kemenangan Israel itu memaksa warga Palestina mengungsi lantaran tanahnya direbut Israel.

Konflik Palestina-Israel tak sekadar menyangkut batas teritorial saja. Namun, meluas. Konflik sulit dikendalikan lantaran klaim-klaim rasialis, di mana Yahudi menganggap lebih tinggi kedudukannya dibanding bangsa Arab dan mengatasnamakan kesucian agama.

Bagi muslim Palestina, Israel adalah kafir harbi, yang layak diperangi karena telah merampas hak-haknya. Ketamakan dan kesombongan Yahudi juga ditegaskan dalam Al-Qur’an, di mana Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik” (QS Al-Maaidah: 82).

Upaya perdamaian sebenarnya selalu diupayakan. 13 September 1993 lalu, difasilitasi Amerika Serikat, digelar pertemuan antara Presiden Otoritas Nasional Palestina, Yasser Arafat bersama Perdana Menteri Kelima Israel, Yitzhak Rabin. Namun, perang terus meletup hingga saat ini.

Dukungan negara-negara Islam dalam membebaskan Palestina memang tidak pernah berhenti. Namun, Palestina masih juga dijajah Israel. Selain karena persoalan agama, persoalan itu tidak terlepas dari ketidaksolidatan negara-negara Islam dalam membantu Palestina.

Arab Saudi misalnya, diketahui memiliki hubungan spesial dengan Tel Aviv. Di bawah kendali rezim Al Saud, Riyadh dan Tel Aviv sangat mesra. Saudi juga bekerjasama dengan Zionis untuk menyerang Yaman dan Suriah. Saudi juga mengembangkan kerjasama militer dengan Israel secara diam-diam untuk menghadapi Iran yang dikhawatirkan menyebarkan paham Syiah di negara timur tengah. Kuwait juga disebut-sebut menjalin hubungan dengan Israel.

Israel juga ditopang Amerika Serikat. Di Negeri Paman Sam, warga AS yang menganut Yahudi piawai dalam urusan melobi. Kemampuannya melobi tidak terlepas dari kekuatannya mengontrol sebagian besar media massa, sumber keuangan, dan jabatan-jabatan strategis di AS.

Wajar, jika AS selalu menerapkan standar ganda dalam menyikapi agresi militer Israel terhadap Palestina. AS juga merangkul Israel untuk menjaga kepentingannya di kawasan Timur Tengah yang kaya akan minyak. Karenanya, dunia perlu terus mendesak AS agar tidak menerapkan standar ganda terkait konflik Palestina-Israel dan serius mendorong kemerdekaan Palestina. PBB pun harus terus didesak agar memainkan peran optimal dalam memberikan perlindungan bagi Palestina.

KTT Luar Biasa OKI yang berlangsung di Jakarta, 6-7 Maret 2016 lalu, telah menghasilkan sejumlah deklarasi. OKI sebagai organisasi negara-negara Islam sepakat membentuk kekuatan politik di forum internasional untuk mendesak PBB untuk memberikan dukungan nyata kepada Palestina. OKI juga mendesak Israel mencabut pembatasan akses beribadah di Masjid Al-Aqsa serta tindakan Israel mengubah status-quo dan demografi Al-Quds Al-Sharif. 

Deklarasi Jakarta juga mengutuk Israel untuk menghentikan pendudukan atau okupasi terhadap Yerusalem dan Palestina, serta pembangunan pemukiman ilegal di wilayah Palestina, termasuk memboikot produk Israel.

Tentu, seruan itu tidak sekadar seruan. Namun, harus ada tindakan nyata yang mendukung kemerdekaan Palestina. Upaya dialogis pun terus didorong agar penyelesaian dilakukan dengan cara-cara beradab, bukan dengan angkat senjata.

Editor : M. Yamin Panca Setia | Sumber : Berbagai sumber
 
Energi & Tambang
Humaniora
11 Mei 26, 09:34 WIB | Dilihat : 111
Sandal dan Kain Ihram Gratis
30 Apr 26, 15:18 WIB | Dilihat : 271
Layanan Fast Track Memudahkan Jamaah Haji 2026
25 Apr 26, 18:31 WIB | Dilihat : 256
Dahilang
20 Apr 26, 13:48 WIB | Dilihat : 566
Perihal Wartawan Senior Indonesia 60 Plus
Selanjutnya