
Catatan Bang Sèm
Bila Prof. James Martin (Jim's), tokoh revolusioner ilmu sosial dan peradaban Universitas Oxford masih hidup (dia wafat 24 Juni 2013 dalam usia 80 tahun), tentu akan bersukacita dan menyambut Anies Rasyid Baswedan, serta menyimak kuliah cucu pahlawan nasional Abdurrahman Rasyid Baswedan, ini di Divinity School yang legendaris, itu. Ia akan menyimak visioneri generasi baru menghadapi tantangan yang diwanti-wantinya.
Agaknya, sikap apresiasi dan respek bagi kalangan generasi baru yang pada diri Jim's -- yang menulis lebih dari 100 buku teks, dan menjadi nominee Anugerah Pulitzer (1978) lewat bukunya, "The Wired Society: A Challenge for Tomorrow" -- terwakili dengan sikap dan aksi Prof. Timothy Power, mitra dan penerusnya.
Dalam buku karyanya, "The Wired Society" Jim's mendeskripsikan secara sangat akurat ihwal bagaimana komputerisasi, telekomunikasi dan kebangkitan internet akan mengubah dunia. Dalam karyanya yang lain, "The Meaning Of The 21st Century: A Vital Blueprint For Ensuring Our Future, 2006," ia mewanti-wanti dunia tentang sejumlah tantangan Abad 21 bagi generasi baru.
Tantangan-tantangan tersebut, antara lain: Perubahan kemampuan manusia untuk mengelola bumi, iklim planet yang berubah, dan kita harus berlajar hidup dengan perubahan; Kesenjangan hidup umat manusia, ketika di dunia, miliaran orang hidup dalam kemiskinan ekstrim dengan kehidupan yang singkat dan brutal; Pengendalian demografi yang terkait dengan kemiskinan; Perubahan ke arah gaya hidup lestari yang tak menyulitkan lingkungan hidup; Mencegah perang all out; Menjaga keseimbangan planet yang tepat dan efektif dengan globalisma - termasuk menjaga keseimbangan global - lokal untuk mencegah negara gagal.

Lantas? Mencegah ekstrimitas dan meredakan segala kemungkinan yang memicu dan memacu terorisme melalui peningkatan kerjasama budaya untuk menurunkan potensi konflik dan sikap saling bermusuhan; Pengembangan budaya kreatif berbasis teknologi, serta mendorong generasi baru menjadi entrepreneur bersamaan dengan dinamika kehidupan kesaling-terhubungan di tengah masyarakat yang sudah teralgoritmakan; Menaklukan wabah, pandemi dan endemi dengan pendekatan saintifik yang memungkinkan masyarakat siaga menghadapinya.
Kemudian? Memperluas potensi manusia dengan sadar menggunakan teknologi sebagai alat untuk mempercepat proses belajar dan bukan menjadi tumpuan semata; Singularitas, reaksi berantai dari kecerdasan buatan - mesin komputer dengan menghidupkan dimensi kedalaman manusia untuk mengontrol secara teknis, agar perkembangan teknologi tetap berkembang terkendali ke segala arah; Menghadapi risiko eksistensial manusia; Menjelajahi transhumanisma untuk menjaga keseimbangan antara mereka yang menguasai dan tidak menguasai teknologi, sekaligus melakukan perubahan tanpa konsekuensi negatif keseluruhan.
Tantangan berikutnya adalah merencanakan peradaban lanjutan dengan menentukan, "peradaban macam apa yang akan kita bangun" karena dunia kadung memproduksi dan memassalkan gadget lebih cepat. Akhirnya, adalah tantangan untuk menjembatani keterampilan dengan kearifan, agar kearifan bisa mengimbangi perkembangan cepat kecerdasan untuk terus menjaga manusia tetap manusiawi. Itu sebabnya, James Martin menggelorakan transformasi umat manusia, sampai ajalnya tiba.
James Martin mendirikan Oxford Martin School pada tahun 2005 yang merupakan sumbangan terbesar untuk Universitas Oxford dalam sejarahnya selama lebih dari 900 tahun. Lembaga itu diteruskan oleh mitra dan penerusnya, di antaranya adalah Profesor Power, yang sampai kini menjabat sebagai Kepala Divisi Ilmu Sosial.
Prof. Power beroleh penugasan akademis yang dibagi antara Departemen Politik & Hubungan Internasional dan Oxford School of Global and Area Studies (OSGA). Guru besar inilah yang meminta Anies Rasyid Baswedan - menjadi intelektual Indonesia pertama sebagai anggota dewan pendiri dan pengarah pada Institute for ASEAN Studies, yang didirikan di dalam dan sebagai bagian integral Universitas Oxford.

Anies diundang dan diminta, bukan serta merta karena dia pernah menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (2014-2016) dan Gubernur DKI Jakarta (2017-2022). Saya menduga, Prof. Power sudah 'mengintai' Anies sejak lama, termasuk kala dia menjabat Rektor (Termuda) Universitas Paramadina yang didirikan Allahyarham Nurchalish Madjid. Dugaan saya tersebut terkait dengan prediksi seorang diplomat (karir) senior Malaysia pada tahun 2012, yang setiap jumpa saya selalu bertanya tentang Anies, yang disebutnya sebagai 'calon pemimpin ASEAN.'
Ketika arus besar politik global kian besar dan kuat -- pasca pandemi nanomonster Covid 19 -- menggerakkan perubahan orientasi geopolitik dan geoekonomi global dari Amerika - Eropa ke Asia Pasifik, Oxford School of Global and Area Studies (OSGA) mencermati kiprah Anies secara intens. Termasuk dalam konteks kepemimpinan 40 kota kunci dunia. Tak terkecuali interaksi Asia Pasifik - Amerika Latin (hubungan gagasan dan visioneering antara Anies dengan Daniel Quintero - Walikota Medellin, Columbia dan Yuriko Koike - Gubernur Tokyo, Jepang)
Prof. Power intens memimpin penelitian terkait dengan Latin America Centre. Khasnya, penelitiannya meliputi demokratisasi, presidensialisme, lembaga-lembaga politik komparatif (partai-partai, legislatif, dan pemilihan umum) dan politik dan pemerintahan Amerika Latin. Khasnya Brazil dan Columbia.
Selama Anies memimpin DKI Jakarta, separuh masanya dicurahkan untuk 'menaklukan pandemi' secara scientific -- meski kemudian dia dan puterinya menjadi penyintas Covid-19. Separuh masa kepemimpinannya berkaitan erat dengan upaya-upaya membalik kemiskinan, mengendalikan demografi dan penguatan keberdayaan - optimisme masyarakat dengan landasan kolaborasi.

Anies juga menempatkan pembangunan sebagai suatu gerakan kebudayaan, dan dengan visi kebahagiaan insaniah berbasis kemanusiaan dan keadilan, Anies terasa melakukan ikhtiar menghidupkan proses demokratisasi, menerapkan prinsip keberlanjutan dan perubahan, serta membawa minda baru khalayak tentang kebangsaan, dari narrow nationalism menjadi global nationalism. Tak terkecuali, menghidupkan inklusivisma (memperjuangkan persatuan dalam keberbagaian yang sesuai dengan zamannya). Selain itu, dia juga menawarkan gaya hidup lestari dengan pencapaian udara bersih.
Prof. Power -- yang juga associate editor Journal of Politics in Latin America dan menjabat sebagai dewan editorial Comparative Political Studies, Political Behavior, Latin American Politics and Society (AS), América Latina Hoy (Spanyol), Política y Gobierno (Meksiko), dan Dados (Brasil) -- dalam dugaan saya, mencermati kiprah Anies dalam konteks kepemimpinan. Bukan sebagai antitesa dari kepemimpinan siapapun. Bahkan, justru merupakan sintesa dari beragam model kepemimpinan nasional Indonesia, sejak sebelum merdeka, dengan perspektif yang berbeda.
Dugaan saya kian besar, ketika Anies (14 Mei 2022) diminta menjadi pembicara dalam suatu diskusi di Chatam House, Royal Institute of International Affairs, suatu lembaga pemikir kebijakan independen yang berbasis di London. Lembaga ini mengemban misi membantu membangun dunia yang aman, makmur dan adil secara berkelanjutan. Chatam House House melakukan analisis independen dan ketat terhadap tantangan dan peluang global, regional, dan negara tertentu yang kritis.
Lembaga bergengsi dunia ini, mengundang Anies dalam diskusi ihwal, "A World Through Megacities." Kehadirannya sebagai pembicara dalam diskusi lembaga independen yang tidak berafiliasi kepada pemerintah atau badan politik mana pun, itu tentu menarik perhatian kalangan intelektual dan akademisi di Universitas Oxford.

Alhasil, dalam dugaan saya, visioneri atau pandangan pemikiran jauh ke depan Anies, dengan tetap berpijak pada realitas ruang dan waktu, yang mempengaruhi Prof. Power mengundangnya menjadi anggota Dewan di institusi Universitas Oxford, memang hanya bisa dipahami oleh kalangan intelektual dan akademisi bermarwah di tingkat dunia.
Karenanya, di tengah ironi "banyak akademisi - guru besar dan sarjana, tetapi miskin intelektual dan rendah intelektualisma; banyak petinggi tetapi miskin pemimpin; dan banyak politisi tetapi amat sedikit negarawan," Prof. Power beserta akademisi dan intelektual di OSGA sangat jeli melihat.
Apalagi, secara personal, selama memimpin Jakarta, Anies dengan terang benderang dapat dilihat sebagai sosok yang 'bercahaya' di tengah suramnya Asia Tenggara. Terutama karena seringkali menjadi sasaran perundungan (bully) dan cerca kaum yang nirminda (tak berakalbudi).
Hal ini klop dengan pemikiran Jim's tentang fenomena abad ke 21. Khasnya, ketika singularitas - dalam bentuk tingkat ketergantungan yang tinggi pada gadget, teracuni oleh presumsi-presumsi buruk yang menyuburkan kejahilan abad 21, seperti: kefudulan (kepoh alewoh), ghibah (rumors), perwadulan (buhtan, hoax), dan fitan, penyebab human distraction. |
ARTIKEL TERKAIT : Anies Rasyid Baswedan Orang Indonesia Pertama Anggota Board Universitas Oxford