53 Tahun Kelahiran

Lelaki Itu Bernama Anies Rasyid Baswedan

| dilihat 323

Bang Sém

Lelaki tampan dengan senyuman khas dan akhlaknya yang baik. Ia dilahirkan di Kuningan, Jawa Barat, 7 Mei 1969.

Suami Fery Farhati yang dinikahinya tahun 1996, itu adalah putera pasangan intelektual Rasyid Baswedan - mantan dosen Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia (UII) - Yogyakarta dan Aliyah - guru besar di Fakultas Ilmu Sosial dan Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta.

Ia cucu pahlawan nasional Abdurrahman (AR) Baswedan - tokoh nasionalis religius dalam proses panjang perjuangan kemerdekaan Indonesia. Khasnya dalam meyakinkan Palestina dan Mesir untuk mengawali pengakuan dunia internasional atas kemerdekaan Republik Indonesia.

Ayah dari Mutiara Annisa, Kaisar Hakam, Ismail Hakim, dan Mikail Azizi dan saudara kandung Abdillah dan Ridwan, ini menampakkan pesona pribadinya sejak masa kanak-kanak.

Ya.. lelaki itu adalah Anies Rasyid Baswedan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI (2014-2016) dan Gubernur DKI Jakarta (2017-2022). Mantan aktivis kampus Universitas Gadjah Mada dan pemimpin demonstran di masanya.

Pesona persona Anies mengemuka pada masa belia, kala menjadi salah seorang tumpuan dalam acara gunemcatur (talkshow) Tanah Merdeka -- penghujung dekade 80-an -- yang berdampak baik pada perkembangan karir Kepala TVRI Stasiun Yogya kala itu, Ishadi SK.

Lewat acara itu, Anies sebagai pewawancara belia (masih pelajar SMA) itu berhasil mewawancarai para tokoh bangsa yang sungguh kompeten di bidangnya, seperti Fuad Hassan (Menteri Pendidikan dan Kebudayaan), Emil Salim (Menteri Lingkungan Hidup dan Kependudukan), Tien Soeharto (Ibu Negara), dan sejumlah tokoh lainnya.

Anies  lulusan Universitas Gadjah Mada, School of Public Policy dan Universitas Illinois Utara - Amerika Serikat, yang sempat menjabat Rektor Universitas Paramadina, dan beroleh penghargaan sebagai salah seorang dari 20 tokoh yang dinilai mampu membawa perubahan oleh Majalah Foresight yang terbit di Jepang (April 2015).

Majalah itu mensejajarkan Anies dengan Vladimir Putin (kini Presiden Rusia), Presiden Venezuela Hugo Chavez, Menlu Inggris David Miliband, anggota parlemen dan Sekretaris Jendral Indian National Congress - India - Rahul Gandhi, serta politisi muda partai Republik - anggora parlemen Amerika Serikat, Paul Ryan.

Majalah itu menyebut, Anies merupakan calon pemimpin Indonesia yang akan menggerakkan perubahan menjadi lebih baik. Majalah itu menulis, Anies merupakan seorang muslim moderat yang kondisten pada pendiriannya untuk tidak memihak pada kekuatan politik tertentu.

Majalah itu juga memprediksi, Anies akan beroleh kepercayaan luar biasa dari khalayak luas, tak hanya di Indonesia, namun di kalangan masyarakat global.

Jauh masa sebelumnya (April 2008), Majalah Foreign Policy - Amerika Serikat, Anies pernah terpilih sebagai satu-satunya warga negara Indonesia, yang masuk ke dalam daftar "100 Tokoh Intelektual Dunia."

Di dalam daftar, itu nama Anies sesanding dengan sejumlah nama sohor kaliber dunia, antara lain : bersama Noam Chomsky, Al Gore, Francis Fukuyama, Samuel Huntington, Vaclav Havel, Thomas Friedman, Bernard Lewis, Lee Kuan Yew, dan pemenang Nobel asal Bangladesh, Muhammad Yunus.

Setahun kemudian (2009), Anies beroleh penghargaan sebagai salah seorang "Young Global Leaders 2009" dari Forum Ekonomi Dunia (The World Economic Forum, WEF).

Nama Anies sesanding dengan 230 orang pemimpin muda dunia yang berprestasi dan berkomitmen kuat dengan masyarakatnya, serta berpotensi memainkan peran strategis dalam memperbaiki dunia di masa mendatang. Nama-nama tokoh muda dunia, itu antara lain: CEO Facebook Mark Zuckerberg, pegolf Tiger Woods, Anchor CNBC-India Shireen Bhan, CEO YouTube Chad Hurley dan pebalap F-1 Michael Schumacher.

Integritas pribadinya yang kuat, membuat Anies banyak diundang sebagai pembicara di forum-forum internasional, jauh sebelum kiprah internasionalnya sebagai petinggi negeri beberapa tahun terakhir.

Ia berbicara di berbagai forum internasional yang digelar di Tokyo, Copenhagen, Madrid, London, dan lain-lain. Sampai sehari sebelum hari kelahirannya ke 49 tahun, ia masih menjadi pembicara pada pertemuan puncak pemimpin muda dunia, Young Global Leaders Summit di Tanzania, Afrika.

Boleh jadi karena sejak kanak-kanak sudah karib dengan laku intelektual dari lingkungan keluarganya, termasuk terlibat dalam interaksi dengan kakeknya tentang berbagai hal kebangsaan, bagi Anies perjuangan memajukan bangsa merupakan panggilan jiwa dan panggilan untuk kaum intelektual.

Hal tersebut mengemuka pada setiap kali dia menerima amanah. Kala menerima amanah sebagai Rektor Universitas Paramadina, dia melakukan perubahan transformatif. Antara lain dengan memberlakukan mata kuliah Anti Korupsi dan berbagai perubahan lainnya lagi.

Selepas itu dia menggerakkan aksi Indonesia Mengajar dan Gerakan Turun Tangan. Kala menjabat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, dia memberi perhatian khas pada pendidikan seni dan budaya, dengan menunggalkan fungsi Direktorat Kesenian. Antara lain dengan memulai dan mengembangkan program SMS (Seniman Masuk Sekolah) dan BBM (Belajar Bersama Maestro).

Seperti dikemukakan Endang Caturwati - guru besar Seni Pertunjukan ISBI (Institut Seni Budaya Indonesia) Bandung, Direktur Kesenian Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan saat itu, SMS dan BBM memperluas cakrawala siswa tentang seni budaya secara dimensional. Mulai dari proses kreatif sampai proses inovasi.

Tentang SMS dan BBM sebagai bagian dari model interaksi pendidikan dan pengajaran disinggung Anies ketika rapat bersama Akademi Jakarta, Dewan Kesenian Jakarta, dan Institut Kesenian Jakarta, tentang berbagai hal pengembangan Jakarta sebagai salah satu simpul budaya di tengah percakapan global tentang kebudayaan dan peradaban (25 April 2022).

Pada rapat itu juga Anies mengemukakan pandangannya yang lebih merupakan kebijakan operasional yang akan harus dilakukan terkait dengan Taman Ismail Marzuki sebagai Pusat Kesenian Jakarta, selepas renovasi.

Terasa, Anies mumpuni dalam menemukan solusi cepat dan menemukan cara keluar dari kebuntuan dalam mereview dinamika yang berkembang antara kalangan birokrat dengan lembaga independen yang berperan sebagai mitra dalam pengembangan kebudayaan dalam makna luas.

Kemumpunian Anies juga tampak nyata dan jelas ketika menghadapi dan menyikapi pandemi global nanomonster Covid-19. Ia melangkah lebih awal merespon situasi, ketika banyak kalangan masih legalila.

Saya melihat, sekurang-kurangnya 7 (tujuh) hal penting yang menjadi pembelajaran dalam proses perubahan yang dilakukannya kala memimpin DKI Jakarta, untuk mewujudkan sesanti yang diusungnya dalam kampanye: "Maju kotanya, Bahagia Warganya." Yaitu:

Pertama, Kebangsaan. Anies menempatkan dimensi kebangsaan dalam konteks ke-Indonesia-an yang plural dan multikultural sebagai sesuatu yang utama. Anies, tegas dalam bersikap mewujudkan prinsip asasi bhinneka tunggal ika secara utuh. Mensyukuri perbedaan, sebagai keberbagaian yang faktual, dan karena itu tak lelah mengikhtiarkan - memperjuangkan persatuan;

Kedua, Kerakyatan. Anies mengubah minda birokrasi ke dalam paradigma people centric. Mendahulukan layanan kepada rakyat dengan berbagai gagasan yang menyertainya, sehingga program pembangunan berorientasi kepada rakyat;

Ketiga, Keadilan. Bagi Anies, keadilan adalah segala-galanya. Mewujudkan keadilan merupakan tanggungjawab utama dan pertama yang menjadi tanggungjawab pemerintah, serta seluruh stakeholder dan shareholder dalam proses pembangunan;

Keempat, Kemanusiaan. Kiprah kepemimpinan Anies di Jakarta bertolak dari simpati, empati, apresiasi, dan respek sebagai upaya untuk menemukan kembali 'sesuatu yang lepas dari tangan' dalam kehidupan sehari-hari, yakni: cinta! Hal ini mencerminkan makna namanya (Anies), yakni kemesraan sekaligus kehangatan;

Kelima, Keilmuan. Sebagai penyandang nama Rasyid - cerdas, kecerdasan yang memandu arah dalam mencapai tujuan, Anies menempatkan sains dan teknologi sebagai principalis elementum - faktor utama dalam memajukan kota dan warganya di tengah arus besar perubahan - transformasi peradaban digital;

Keenam, Keniscayaan. Anies menunjukkan kemampuannya mengelola pemerintahan sesuai dengan prinsip good governance (fairness, transparancy, responsibility, accountability, independency) - kewajaran, kejelasan, tanggungjawab, kebertanggungjawaban, dan kemandirian. Kesemuanya adalah anasir keniscayaan. Khasnya dalam konteks kemajuan - kesejahteraan dan kebahagiaan. Nilai-nilai ini yang tertampak oleh kasad mata dan terasakan oleh nurani yang jernih setiap perubahan di Jakarta. Termasuk pemenuhan janji-janji politiknya;

Ketujuh, Kenegarawanan. Enam faktor utama kemajuan masyarakat - bangsa, itu akhirnya menghadirkan secara nyata dimensi kepemimpinan yang dijalankan Anies sebagai cermin kenegarawanan. Anies berhasil menunjukkan, bahwa demokrasi merupakan cara mencapai harmoni kebangsaan dan keseimbangan insaniah. Inilah sebabnya, segala gempuran berbagai pihak yang masih tertambat dalam gaya politik masa silam, hanya menjadi letusan-letusan 'mercon kepandiran politik' belaka.

Tujuh principalis elementum, itu berhasil menempatkan Anies sebagai satu dari kalangan yang sedikit di tengah zaman yang dipengaruhi oleh kegamangan, ketidakjelasan, kompleksitas (keribetan) dan kemenduaan ini.

Di tengah ironi: "banyak petinggi, sedikit pemimpin; banyak politisi, sedikit negarawan; banyak sarjana, akademisi dan guru besar, sedikit intelektual;.......," itulah Anies menjadi bagian dari yang sedikit.

Sebagai bagian dari yang sedikit itulah, Anies memberikan cara ketika rakyat sedang memerlukannya. Dia tidak menjadi bagian dari kalangan yang memberikan alasan, ketika rakyat sedang memerlukan cara menyelesaikan masalah.

Di tengah krisis ekonomi, kesehatan, mental, dan moral yang bergerak menuju krisis politik, Anies berhasil menerapkan 5 (lima) kebijakan - cara penyelesaian persoalan asasi masyarakat. Yakni: (1) Menjamin ketersediaan pangan, sandang, dan papan; (2) Stabilisasi daya beli rakyat; (3) Keterjaminan tetap berlangsungnya proses pendidikan dan penguatan akses rakyat terhadap ekstensi kesehatan; (4) Tak henti melaksanakan proses transformasi sebagai cara memelihara semangat dan daya hidup; (5) Mengendalikan kemiskinan kultural di tengah arus persistensi kemiskinan struktural.

Tema besar "Jakarta Kota Kolaborasi," diwawar dan ditegakkan dengan segala dinamikanya, dengan memberikan isyarat-isyarat penting tentang integrasi, silaturrahmi, dan sinergi dengan integritas sebagai pemimpin inklusif, jauh dari politik perkauman. Buahnya, arus besar dukungan rakyat kepadanya. Meski, lelaki itu, Anies Rasyid Baswedan tetap dengan pakaian nuraninya: tawaddu' - rendah hati, santun, apa adanya, yang mewujud dalam pesona personanya sebagai anak saleh. InsyaAllah pemimpin yang saleh akan mampu mewujudkan masyarakat yang saleh kelak. |

Tulisan ini merupakan pandangan pribadi

Editor : delanova | Sumber : berbagai sumber
 
Ekonomi & Bisnis
03 Des 22, 15:17 WIB | Dilihat : 38
Ginanjar Nilai Semua Investasi Jepang Lancar
15 Jun 22, 09:26 WIB | Dilihat : 360
Gobel : PMK Hewan Memukul Kedaulatan Pangan
Selanjutnya
Sainstek
27 Okt 21, 17:41 WIB | Dilihat : 516
Waspadai Kabar Palsu Artis Meninggal di Media Sosial
20 Nov 19, 13:05 WIB | Dilihat : 2338
Rumah Ilmuwan Bukan di Menara Gading
Selanjutnya