Bersikap dan Bertindak Adil

| dilihat 124

Catatan Bang Sem

 

pisang barangan letak di bilah

dimakan tok dolah pembuat bedil

bila timbangan berat sebelah

bagaimana boleh hamba berlaku adil

 

Sebulan terakhir saya dihadapkan oleh suatu masalah pelik yang menuntut pandangan saya tentang keadilan secara dimensional.

Tentu saja, apapun yang saya kemukakan, mestilah merupakan keadilan relatif, karena setiap orang mempunya pandangan dan sikap yang juga relatif tentang keadilan.

Nyaris setiap hari, selalu terbayang pandangan Sayyidina Ali bin Abi Thalib karamahu wajhah, yang telah saya dengar sejak kecil dari ayah, ibu, dan guru yang mengasuh saya.

"Janganlah kebencian membuatmu berbuat tidak adil." Begitu kalimat yang selalu saya ingat dan coba wujudkan dalam memberikan penghargaan atau sanksi.

Pantun yang mengawali artikel ini, merupakan refleksi kecil dari apa yang saya pikirkan dan renungkan.

Saya merujuk apa yang difirmankan Allah (QS An Nisa 135) yang menugaskan insan beriman sebagai pembaga sekaligus penegak standar keadilan dan bertindak adil dalam seluruh laku kehidupan.

Sayyidina Ali bin Abi Thalib karamahu wajhah adalah salah satu sosok insan beriman yang dipilih Allah sebagai contoh tentang bagaimana menegakkan keadilan.

Hal ini pula yang kemudian menjadi misi Sayyidina Husain bin Ali bin Abi Thalib, meski kemudian mendapatkan perlakuan tak adil dari kaum yang memusuhinya.

Ali bin Abi Thalib dan puteranya Husain, bertegak kepada Allah dan Rasul-Nya dalam hal berbuat dan menegakkan keadilan. Dimensinya menyeluruh kepada seluruh kaum, di atas apa yang kemudian kita pahamkan sebagai dua prinsip dasar.

Yakni: kesetaraan dalam konteks menempatkan konstelasi manusia, dan keadilan dalam konteks menempatkan realitas fungsi - eksistensi manusia di lingkungan komunitas dan sosialnya.

Kesemuanya bermula dari pandangan dan sikap pribadi secara asasi, yang menjadi sumber kebijaksanaan dalam berfikir, dan sikap moral - kearifan dalam bersikap dan bertindak.

Antara Cara dan Alasan

Keadilan lahir karena keseimbangan nalar, naluri - nurani, dan rasa yang kuat, sehingga melahirkan kemauan dan kemampuan bertindak adil dalam memutuskan sesuatu masalah. Termasuk atas berbagai friksi dan konflik yang terjadi dalam lingkungan sosial: keluarga, komunitas, masyarakat, dan khalayak.

Karenanya, keadilan bukan sesuatu yang hanya menjadi topik percakapan -- apalagi perdebatan dengan gaya 'sentak sengor' yang dilaburi oleh emosi tak terkendali --  karena ada pihak yang merasa diperlakukan tidak adil, tanpa menyadari sungguhkah rasa diperlakukan secara tidak adil itu merupakan sesuatu yang benar.

Suatu masa saya dianggap tidak adil, ketika harus mengganti sejumlah manager -- bahkan yang secara personal dekat dengan saya, berprestasi, patuh dan taat dengan perintah saya -- di perusahaan yang saya pimpin.

Pada saat itu, saya dihadapkan oleh masalah rumit, memimpin perusahaan keluar dari krisis, sehingga memerlukan manager dengan kategori dan kriteria tertentu yang sesuai dengan tantangan yang harus ditaklukan.

Hasil seleksi menunjukkan, yang memenuhi kriteria adalah mereka yang selama ini dipandang sebagai pembangkang, tidak patuh, dan kerap bersikap kritis terhadap saya.

Sejumlah argumen yang saya kemukakan, tak bisa diterima oleh sesama kolega di jajaran direksi. Alasan mereka sederhana sekali: bagaimana mungkin saya harus mengganti mereka yang taat dan patuh dengan mereka yang membangkang.

Dalam situasi saya sedang memerlukan cara mengatasi masalah, mereka menyampaikan alasan yang tak menyelesaikan masalah. Ada 'kebencian di balik alasan.'

Saya bersiteguh melaksanakan apa yang saya yakini benar dan saya yakini tidak melanggar keadilan dalam memperlakukan seluruh karyawan sesuai dengan standar dan prosedur yang berlaku.

Hasilnya? Tak hanya tantangan perusahaan bisa ditaklukan dan berhasil melaksanakan seluruh misi dan program kerja sesuai rencana. Lebih dari itu, berbagai sumber masalah, termasuk ketidak-adilan dalam memperlakukan karyawan terkuak dan teratasi.

Pengalaman demikian terjadi berulang ketika saya memimpin dan menjalankan amanah di institusi lain.

Good Governance

Prinsip-prinsip keadilan yang berpijak pada obyektivitas dengan parameter yang jelas, serta bertegak di atas kaidah-kaidahnya secara tepat, akan menghidupkan kesadaran, antusiasme, simpati, empati, apresiasi, respek dan cinta terhadap keadilan tersebut.

Tak mudah melaksanakannya, karena akan mendapatkan reaksi dari lingkungan komunitas dan sosial yang beragam. Namun, ketika kita meyakini, bahwa kesadaran imani, bahwa pada setiap amanat melekat fungsi sebagai pembawa standar keadilan, laksanakan!

Dalam hal berfikir, bersikap, dan bertindak adil, dimensi ruhaniah menjadi sesuatu yang sangat penting. Dimensi ruhaniah ini yang akan menghidupkan introspeksi dan kesadaran di dalam diri.

Inilah juga yang akan terus menghidupkan keberanian berfikir, bersikap, dan bertindak adil. Landasannya adalah aqidah, tauhid. Hatta harus menghadapi gugatan dan hujatan, formal, informal, maupun non formal.

Berrfikir, bersikap, dan bertindak adil, harus dimulai dari diri sendiri dengan mengenali keseimbangan nalar, naluri - nurani, dan rasa. Karena rasa keadilan tidak cukup diucapkan dalam kata-kata penghias dalam pidato pada upacara-upacara atau bahkan dalam orasi ilmiah sekalipun.

Bagi Nietzsche, keadilan mengalir dalam kebijaksanaan yang diperlukan dalam memperlakukan orang lain, tidak untuk menghakimi orang lain. Melainkan untuk dipraktikan dalam  mengelola kebebasan yang dikembangkan dalam hidup secara kreatif dan eksperimental dengan menempa, atau mengatur, dengan nilai-nilai sendiri.

Prinsip-prinsip keadilan itu juga yang membebaskan kita  -- khasnya para pemimpin lembaga -- untuk membedakan secara jelas dan nyata persekongkolan dengan kolaborasi, meski sama berwujud kerjasama.

Di masa kini, salah satu prinsip keadilan dalam suatu institusi atau komunitas adalah good governance -- tata kelola yang baik -- meliputi kejelasan (transparansi), kebertanggung-jawaban (akuntabilitas), tanggung jawab (responsibilitas), kemandirian (independensi), dan kewajaran (fairness). |

Editor : delanova
 
Sainstek
27 Okt 21, 17:41 WIB | Dilihat : 444
Waspadai Kabar Palsu Artis Meninggal di Media Sosial
20 Nov 19, 13:05 WIB | Dilihat : 2236
Rumah Ilmuwan Bukan di Menara Gading
Selanjutnya
Humaniora
10 Sep 22, 12:45 WIB | Dilihat : 160
WSI Bergerak Tanpa Lelah Menjawab Tantangan Zaman
09 Sep 22, 08:23 WIB | Dilihat : 78
Pemimpin versus Penguasa
Selanjutnya