sketsa

Sebelum Senja Merapat

| dilihat 1814

Bang Sem

RANTI baru saja beringsut dari pusara ayahnya. Perlahan ia meninggalkan taman pemakaman di sudut kota Ceribon. Sudah terlalu lama ia tak singgah di kota tempat Maulana Nurullah menyebarkan kebajikan, dan kemudian dikenal sebagai Sunan Gunung Jati.

Perempuan cantik ini, puteri bungsu dari tiga bersaudara. Ayahnya, Abdullah adalah lelaki Ceribon – Jawa Barat, dan Ibunya, Asmah adalah puteri Pangkalan Brandan – Sumatera Utara. Ayah dan ibunya bertemu dan kemudian menikah karena sama bekerja di Pertamina. Perjodohan itulah yang membuat Ranti, tinggal berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain.

Mulanya tinggal di Pangkalan Brandan, lalu ke Medan. Di kota inilah Ranti dilahirkan. Tapi masa kanak-kanak Ranti melaju di Plaju, Sumatera Selatan. Masa remaja dihabiskannya di Balikpapan, yang disebutnya ‘Kota Migas.’ Di kota inilah hatinya tercuri oleh Riduan, teman sekelasnya. Keduanya sama datang dari keluarga karyawan Pertamina. Perjodohan Ranti dengan Riduan, berlangsung, selepas keduanya menyelesaikan pendidikan di Bandung. Riduan lulus dari ITB dan Ranti lulus dari UNPAD.

Tak lama setelah meninggalkan Balikpapan dan ditugaskan ke Indramayu, ayah dan ibu Ranti menetap di Ceribon. Ayahnya wafat dan berwasiat untuk dimakamkan di kota ini. Ranti sendiri masih tinggal di Balikpapan bersama suami dan anak-anaknya. Ia senang menyaksikan ibunya yang menjalani hari tua dengan suka cita. Apalagi, sejak setahun terakhir, kakaknya Rinda bersama suaminya bertugas pula di Cirebon, sehingga ibunya tak merasa hidup sebatang kara di perantauan.

Usai dari makam, Ranti menumpahkan kangen pada ibunya. Ketika jemarinya memijat kaki ibunya, Ranti terpana seketika. Ibunya tiba-tiba saja menukas, “Ranti.., almarhum ayahnya mungkin sedang berbahagia dengan ziarahmu..” Nampak mata ibunya berkaca-kaca. Ranti melanjutkan lagi memijat kaki ibunya.

“Kau tahu? Di Ceribon inilah untuk pertama kali kekayaan minyak dan gas bumi Indonesia ditemukan pada tahun 1871. Tapi, karena hasilnya sedikit, lalu ditutup.., sampai akhirnya ditemukan lagi ladang minyak dan gas bumi di Balongan dan Bongas,” tukas sang ibu.

Ranti memandangi wajah ibunya, yang terus bercerita.  “Tapi, untuk pertama kalinya migas diusahakan dengan menggunakan teknologi terbaik pada masanya, di kampung ibu, Telaga Said - Pangkalan Brandan, tahun 1883” lanjut ibunya. Itulah untuk pertama kalinya pula, pengusahaan minyak dan gas bumi (migas) yang dimiliki bangsa ini dikuasai asing. “Sultan Langkat memberikan konsesi pengusahaan minyak kepada Aeilko J. Zijker, dari Royal Dutch,” lanjutnya.

Sejak saat itu, sepanjang abad 19, kekayaan migas Indonesia dikuasai asing, dieksploitasi oleh Royal Dutch dari Belanda yang miskin sumberdaya mineral dan energi. Royal Dutch inilah akhirnya yang merajai industri perminyakan di negeri ini. Mereka membangun kilang di Sumatera Utara, lalu Balikpapan – Kalimantan Timur, Peurlak – Aceh, dan Plaju – Sumatera Selatan. Royal Dutch inilah yang kemudioan melibatkan perusahaan minyak lainnya, sekutu mereka, seperti Shell, Stanvac, Caltex, dan lainnya yang kemudian kini dikenal bernama Chevron.

“Bangsa ini baru menerima penyerahan ladang minyak, tahun 1945 selepas proklamasi. Ketika itu, Jepang disaksikan Sekutu, menyerahkan ladang minyak di Sumatera Utara, yang sudah mereka sedot dan hanya tinggal sisanya belaka,” ujar Bu Asmah.

Baru pada 10 Desember 1957, atas perintah Jendral Nasution, berdiri perusahaan minyak nasional yang kemudian menjadi Pertamina. Ranti tercenung. Ia tersentak, ketika tiba-tiba ibunya bilang, “Katakan pada Riduan suamimu, bila kelak dia beroleh amanat memimpin Pertamina, jadikan perusahaan negara itu pemilik sah seluruh ladang minyak di negeri ini..”

Senja merapat. Kumandang azan maghrib bergema. Tak lama sesudah itu, dalam sujud, Ranti berdo’a: Ya Allah, kabulkan harapan ibuku.. |

Editor : Web Administrator
 
Lingkungan
Seni & Hiburan
31 Jul 21, 04:03 WIB | Dilihat : 134
Mata Maut
03 Mar 21, 06:38 WIB | Dilihat : 367
Industri Game Naik Saat Pandemi
Selanjutnya