Akhlak Kepada Alam [5]

Hancur Bangsa Karena Semena-mena Kepada Alam

| dilihat 3010

N. Syamsuddin Ch. Haesy

SAYYIDINA Ali menjelaskan, dalam proses pen­ciptaan alam, khususnya bumi, tempat Tuhan menitip­kan sebagian kecil saja dari kekayaan dan kemurah-hatiannya kepada manusia, pertanda yang bisa dipahami  oleh manusia adalah waktu. Artinya, sumber daya alam yang diperuntukan bagi kehidupan manusia, itu mengali proses pem­bentukan dalam waktu yang sangat panjang bagi ukuran manusia. Perkembangan ilmu pengetahuan dan  teknologi mendeskripsikan kepada manusia, bagai­mana Tuhan menciptakan ber­bagai mineral dan energi di bumi, melalui proses pembentukan, hingga mencapai jutaan tahun.

Sebongkah batubara, meng­alami proses pem­bentukan jutaan tahun, setidaknya dua puluh juta tahun. Demikian juga halnya dengan bebatuan, fosil, dan lainnya. Mereka yang menyadari proses pembentukan demikian, berbasis keimanan, ilmu pengetahuan, dan teknologi, manusia akan dapat me­ngelola alam dengan sebaik-baiknya.

Sebaliknya, manusia yang mengabaikan dimensi keimanan, menggunakan ilmu pengetahu­an dan teknologi yang mereka kreasikan, sebagai perangkat untuk menghancurkan sumber daya alam itu sendiri. Sebagai akibatnya, Tuhan meng­gerakkan alam untuk menghukum mereka.

Karena sumber daya alam secara hakiki me­rupa­kan milik Allah secara absolut, maka penge­lolaan sumber daya alam itu oleh manusia, harus jelas manfaat­nya, dan harus pula terjamin ke­lestariannya, sehingga dapat menjamin kehidupan yang berkelanjutan.  Baik sumber daya alam yang dapat diperbarui  maupun yang tak dapat diper­barui. 

Oleh sebab itulah, akhlak terhadap alam menjadi urgen dan prioritas. Karena pada akhirnya, akhlak ter­hadap sumber daya alam ini, selalu ber­korelasi dengan daya dukung lingkungan hidup dan kehidupan manusia. Dalam menjalani akhlak ter­hadap alam, itulah aspek ke­hidupan sosial budaya sedemikian penting, sehingga dapat memberikan nilai lebih atas pencapaian nilai ke­ekonomian yang efisien, melalui penerapan ilmu pe­ngetahuan dan teknologi ramah lingkungan.

Akhlak manusia terhadap alam, merupakan bagi­an dari politik sumber daya alam, sebagai landasan dan sistem pengelolaan yang baik dan benar. Ali bin Abi Thalib, mengingatkan akhlak  manusia terhadap sumber daya alam, akan me­mungkin­kan manusia mengelola alam berdasarkan cintanya ke­pada Allah. Oleh karena itu, mereka yang berakhlak, tak akan pernah menimbul­kan ke­rusakan sumber daya alam, yang akan berakibat ke­pada binasanya suatu bangsa.  Di atas landasan politik sumber daya alam, berhimpun akhlak dan hukum yang tegas.

Sejarah mengajarkan, seringkali kehancuran suatu bangsa disebabkan oleh ulah manusia yang se­mena-mena, serakah, dan pongah terhadap alam. Mereka terang-terangan mengangkangi sumber daya alam yang diberikan Tuhan untuk kepentingan hidup bermewah-mewahan, dan menggunakan nilai keeko­nomian sumber daya alam untuk ke­makmuran peng­uasa. Tidak untuk kesejahteraan rakyatnya. Mengguna­kan keunggulan ilmu penge­tahuan dan teknologi, serta nilai keekonomian sumber daya alam untuk menjajah bangsa-bangsa lain.

Mereka menjelajah berbagai belahan bumi, dan menebar kerusakan di mana-mana, usai mereka meng­ibarkan bendera-bendera kekuasaan di Timur dan di Barat.  Kemudian Tuhan me­lenyapkan mereka dengan  berbagai bencana yang di­timbulkan oleh berubahnya daya dukung sumber daya alam. 

Kisah hancurnya suku Amalek yang di­abadikan di dalam Perjanjian Lama sebagai bangsa penjajah.  Mereka menyerang bangsa Yahudi yang eksodus dari Mesir, di kawasan Ephraim (sekitar Gunung Sinai) pada zaman Hezekiah. Setelah ke­hancurannya, bangsa ini menjadi obyek sumpah serapah, dan menyebabkan dendam tak ber­ke­sudahan bangsa Yahudi. Dendam kesumat yang di­gerakkan oleh hawa nafsu untuk menguasai sumber daya alam dan menguasai bangsa lain, ini pula yang kemudian mendorong bangsa Yahudi akhirnya menjadi kaum zionis. |

Editor : Web Administrator | Sumber : Cawandatu N. Syamsuddin Ch. Haesy
 
Polhukam
01 Mei 26, 16:27 WIB | Dilihat : 113
Jurnalisme Tengah Dicekik
27 Apr 26, 01:51 WIB | Dilihat : 197
Trump Anggap Penyerangnya Preman Sakit
22 Apr 26, 08:30 WIB | Dilihat : 214
Langkah Australia Hadapi Ketidakpastian Energi
18 Apr 26, 09:49 WIB | Dilihat : 305
ISWAMI Imbau Media Sajikan Narasi Harmonis
Selanjutnya
Budaya
20 Mar 26, 08:16 WIB | Dilihat : 362
Budaya Betawi Mesti Jadi Cover Budaya Jakarta
18 Feb 26, 00:08 WIB | Dilihat : 666
Muhammadiyah Berbeda dengan Pemerintah itu Biasa
26 Nov 25, 18:48 WIB | Dilihat : 768
TIM Harus Kembali Menjadi Mercu Suar
Selanjutnya