
AKARPADINEWS.COM | BLOOMBERG TV Indonesia (BTVI), TV franchais yang dicetuskan Sandiaga Uno dan Rosan P. Roslani, akhirnya sungguh menghentikan siarannya. Pengakhiran siaran itu, bahkan terkesan tanpa salam lebih dulu.
Tanda-tanda stasiun televisi yang mengedukasi pemirsa tentang bisnis, ini dari sisi konten, terbilang mempunyai standar kualitas yang tinggi -- antara lain seperti yang nampak pada performa Kania Sutisnawinata cumsuis. Boleh dikata, secara neck to neck berhadapan dengan Net.tv yang juga mempunyai standar kualitas yang sama. Bedanya, Net.tv main di pentas fundamental: televisi hiburan yang edukatif dan informatif.
Perbincangan akan berakhirnya siaran BTVI, sebenarnya sudah mengemuka di kwartal pertama 2015, selepas Adhitya Chandra – CEO-nya undur diri. Kala itu, kepada pers, Chandra mengemukakan, BTVI yang dipimpinnya belum menemukan fokus pasar yang sesuai. Chandra mengemukakan, BTVI tidak merugi.
Kendati demikian, dari sisi dinamika, BTVI bagai “the lonely eagle,” karena di pangsanya, tidak ada stasiun televisi lain yang masuk menjadi kompetitor. Artinya, dari sisi kompetisi, BTVI tidak berkompetisi secara head to head dengan tv broadcast house yang lain.
Sebelum itu sempat tersiar kabar, pemegang saham BTVI sedang melobi Erwin Aksa, boss Bosowa Group. Bintang dari Timur itu, dikabarkan berencana mengakuisisi 55 persen saham BTVI. Mereka menargetkan proses akuisisi itu bisa rampung dua bulan ke depan. Bahkan, telah tersiar kabar, Erwin akan memilih skema penambahan modal untuk melakukan akuisi atas BTVI.
Dengan kepemilikan 55 persen saham, diharapkan Bosowa bisa melakukan ekspansi usaha dan memperbaiki peralatan produksi dan siaran. Erwin memandang, BTVI mempunyai peluang strategis di pasar yang relatif besar.
Ternyata, kabar itu baru sebatas wacana, belum menjadi aksi bisnis. Meskipun begitu, sejumlah analis mengemukakan, bila Bosowa jadi mengakuisisi BTVI, hal itu merupakan langkah bisnis yang tepat. Terutama, karena ‘Pangeran Bisnis’ dari Makassar, itu belum mempunyai media. Dan, industri media, merupakan ladang bisnis yang memikat.
Di bisnis inilah sejumlah ‘Pangeran Bisnis,’ seperti Erick Thohir, Ardiansyah Bakrie, Agus Lasmono Sudwikatmono, dan James Ryadi, dan lainnya ‘berladang’ bisnis berbasis iklan, itu. Mereka mamacu diri, berkompetisi dengan para pendahulunya, Surya Paloh dan Harry Tanu untuk menjadi media mogul. Bagi pebisnis muda, media televisi memang lebih memikat, terutama karena di ladang ini mereka bisa bersinergi dengan orang-orang muda kreatif Indonesia.
Bila Bosowa masuk ke industri ini, akan terjadi dinamika yang lebih kaya, dan akan berkembang diversifikasi usaha yang akan lebih memacu industri media audio-visual yang dilengkapi dengan media digital akan menawarkan media multi formal, multi channel, dan multi platform kepada khalayak.
Sungguhkah pengakhiran siaran ‘tanpa salam’ itu terjadi karena krisis finansial di BTVI? Boleh jadi benar. Pasalnya, tanpa publikasi yang besar, sejumlah karyawan BTVI menemui Menteri Tenaga Kerja, membicarakan nasib mereka. Antara lain, pasal gaji dan pesangon yang belum terbayarkan.

Kania Sutisnawinata cumsuis Membuktikan Indonesia Punya Brodkaster Hebat | foto : ISTIMEWA
Biasanya, kalau fokus pembicaraan seputar gaji dan pesangon, pastilah ada persoalan finansial yang tak bisa lagi ditutupi dan ditutup-tutupi. Apalagi, ketika pertumbuhan ekonomi sedang melambat, posisi Rupiah tak lagi bermartabat di hadapan mata uang Dollar Amerika dan mata uang asing lainnya. Termasuk fluktuasi pasar modal, yang baru membaik beberapa hari terakhir.
Sebagai penikmat siaran televisi (selektif) dan selama beberapa tahun memimpin stasiun televisi, saya bisa merasakan situasi yang dialami. Terutama, ketika sesanti the show must go on, tak bisa lagi dipertahankan di tengah belanja iklan yang belum lagi stabil. Juga, ketika stasiun televisi yang sudah mapan, tengah berkutat mempertahankan eksistensinya dengan berbagai cara. Termasuk melakukan finance arrangement melalui berbagai skema financial viability.
Ketika isu pengakhiran siaran kian menguat di tanggal jigo, penghujung bulan lalu (25 Agustus 2015), dan tiga hari kemudian isu itu sungguh nyata, barulah kita tersedar, bahwa BTVI memang telah meninggalkan pemirsanya. BTVI memang tak lagi nampak di line up BiG-TV, begitu juga di FirstMedia.
Selaras dengan itu, hengkangnya sejumlah tv presenter dan newscaster ke stasiun televisi lain, seperti CNN Indonesia, kian menegaskan, isu menghilangnya BTVI bukan lagi sekadar ‘geremengan.’ Tapi, berbeda cerita dengan perginya MTV Indonesia dari layar televisi Indonesia, BTVI membuat masygul. Terutama, karena BTVI selama ini menjadi referensi akurat dan tajam tentang dinamika perekonomian Indonesia.
Perginya BTVI yang ‘tak tampak punggung’ itu, sertamerta membawa serta media referensial dalam proses pengambilan keputusan. Baik bagi pengusaha besar, pengusaha menengah, maupun khalayak pemirsa peminat informasi ekonomi. Termasuk hilangnya sejumlah brodkaster cerdas yang selama ini enak dilihat dan perlu.
Kita boleh menyayangkan menghilangnya BTVI. Tapi, apa boleh buat, saluran televisi ekonomi itu sudah menghilang begitu saja. Akankah pesona dan persona BTVI dapat ditemukan kembali? Rasanya agak sulit, meskipun, telah hadir CNN Indonesia. Terutama, karena pangsa dan segmentasi pasar yang berbeda.
Kita tidak tahu pasti, apakah para pemegang saham alias pemilik modal BTVI tak menyadari, sejak siaran sampai menghilang, stasiun televisi ini telah memberi warna sendiri di jagad pertelevisian Indonesia. Bahkan, menjadi salah satu penandang perkembangan baik 53 tahun pengenalan khalayak Indonesia atas siaran televisi.
Yang pasti, dari pengalaman BTVI kita beroleh pelajaran berharga, terjun ke industri media dan mengelola siaran televisi, memang memerlukan nafas panjang. Dan, prinsip “the show must go on,” bukan sekadar sesanti.
Hikmah lain yang bisa diserap dari perginya BTVI adalah: Indonesia punya tv broadcaster yang baik dan tak kalah dengan stasiun tv dunia.. Jadi, industri ini memang mempunyai modal insan yang bisa membuat bisnis ini lebih kompetitif.| bang sem