Pandora Paper Menguak Kejahatan Kuasa Politik dan Ekonomi Global

| dilihat 151

Meski menggunakan berbagai cara untuk sembunyi dari di balik tirai demokrasi, politik dan ekonomi global dengan segala bentuk kiat dan siasat, kejahatan akan selalu terkuak.

Janji Tuhan, "kejahatan akan lenyap, kala kebenaran datang," terbukti nyata, ketika media memainkan perang fungsional dan profesional utamanya, yakni menguji kebenaran.

International Consortium of Investigative Journalists (ICIJ) alias konsorsium jurnalis investigasi yang berkedudukan di Washington DC - Amerika Serikat, menunjukkan hal tersebut, melalui jaringan 140 organisasi lembaga media di dunia, yang melakukan dalam penyelidikan global terbesar, selama berbulan-bulan.

The Pandora Papers menguak hampir 12 juta dokumen yang mengungkapkan kekayaan tersembunyi, penghindaran pajak dan, dalam beberapa kasus, pencucian uang oleh beberapa orang kaya dan berkuasa di dunia. Khasnya dari kalangan politisi dan selebritas.

Lebih dari 600 jurnalis di 117 negara telah menelusuri file dari 14 sumber selama berbulan-bulan, dan menemukan cerita yang mengegerkan dunia, setelah diterbitkan pekan ini.

ICIJ mengemukakan, kebovoran informasi yang terungkap dalam Pandora Papers mencakup 6,4 juta dokumen, hampir tiga juta gambar, lebih dari satu juta email, dan hampir setengah juta spreadsheet. Suatu kerja jurnalistik yang luar biasa, meskipun di berbagai belahan dunia, sebagian besar media sudah dikuasai oleh jaringan konglomerasi dan oligarki politik yang kuat.

Jutaan dara dan informasi dari seluruh dokumen, itu mengungkap cerita di balik informasi tersembunyi yang tak mencuat jadi berita. Antara lain, kepemilikan lebih dari 1.500 properti Inggris yang dibeli menggunakan offshore company (perusahaan lepas pantai), termasuk individu yang dicurigai dan dituduh melakukan aksi maling uang negara (korupsi dan suap).

Mengemuka juga informasi tentang keluarga penguasa Qatar yang menghindari pajak sebesar £18,5 juta untuk supermansion London; Sir Philip dan Lady Green melakukan pesta properti setelah membongkar rantai ritel BHS (dengan 238 jaringan superstore dan 11 ribu pekerja) yang kemudian runtuh; dan, donatur terkemuka Tory yang terlibat dalam salah satu skandal korupsi terbesar di Eropa

Pandora Paper juga mengungkap, Raja Abdullah II - penguasa Yordania, menghabiskan 70 juta poundsterling untuk properti di Inggris dan AS melalui perusahaan yang dimiliki secara rahasia. Begitu juga, keterlibatan tersembunyi keluarga terkemuka Azerbaijan dalam kesepakatan properti di Inggris senilai lebih dari 400 juta pound sterling.

Tak terkecuali,  perdana menteri Ceko yang menggunakan perusahaan investasi offshore untuk membeli dua vila Prancis seharga 12 juta poundsterling. Dokumen ini juga mengugkap, bagaimana keluarga presiden Kenya Uhuru Kenyatta diam-diam memiliki jaringan perusahaan lepas pantai selama beberapa dekade.

Dalam dokumen itu juga terdapat dua nama petinggi dalam pemerintahan Indonesia yang sedang berkuasa. File-file tersebut, memang mengungkap, bagaimana beberapa orang paling berkuasa di dunia - termasuk lebih dari 330 politisi dari 90 negara - menggunakan perusahaan offshore rahasia untuk menyembunyikan kekayaan mereka.

Lakshmi Kumar dari lembaga pemikir Global Financial Integrity AS menjelaskan bahwa orang-orang ini "mampu menyalurkan dan menyedot uang dan menyembunyikannya," seringkali melalui penggunaan perusahaan anonim.

Apa sungguh yang dimaksud dengan offshore company atau perusahaan lepas pantai, itu?

ICIJ menjelaskan, Pandora Papers mengungkapkan jaringan kompleks perusahaan yang didirikan secara lintas batas wilayah negara, yang seringkali mengakibatkan kepemilikan uang dan aset yang tersembunyi.

Misalnya, seseorang mungkin memiliki properti di Inggris Raya, tetapi memilikinya melalui rantai perusahaan yang berbasis di negara lain, atau "lepas pantai".

Negara atau wilayah lepas pantai ini adalah tempat yang mudah untuk mendirikan perusahaan, dengam berbagai sarana, antara lain regulasi yang 'ramah investasi,' dengan mengubah berbagai undang-undang yang dianggap mempersulit identifikasi pemilik perusahaan. Sekaligus memanjakan investor dengan pajak perusahaan yang rendah, atau bahkan tidak ada.

Negara-negara destinasi investasi tersebut, juga sering disebut sebagai 'surga pajak atau yurisdiksi kerahasiaan.' Tidak ada daftar pasti surga pajak, tetapi tujuan yang paling terkenal antara lain adalah  Kepulauan Cayman, Kepulauan Virgin Inggris, serta negara-negara seperti Swiss dan Singapura, serta sejumlah negara di kawasan Asia Pasifik.

Menurut laporan Pandora Papers, celah dalam undang-undang memungkinkan orang untuk secara hukum menghindari kewajiban membayar pajak dengan memindahkan uang mereka atau mendirikan perusahaan di snegara-negara 'urga pajak,' tetapi sering dianggap tidak etis. Pemerintah Inggris mengatakan penghindaran pajak "melibatkan operasi dalam surat, tetapi bukan semangat, hukum".

Disebutkan dalam Pandora Paper, ada juga sejumlah alasan sah bagi siapa saja yang mungkin ingin menyimpan uang dan aset di negara yang berbeda, seperti perlindungan dari serangan kriminal atau menjaga keadaan pemerintahan yang tidak stabil dan lemah dalam menghadapi oligarki.

Meskipun memiliki aset luar negeri secara rahasia dan tidak ilegal, para 'investor lepas pantai' itu mempunyai cara sempurna untuk menyembunyikan hasil kejahatan mereka, dengan menggunakan jaringan perusahaan rahasia yang kompleks untuk memindahkan uang dan aset.

Di sejumlah negara yang selama ini memudahkan siapa saja menanamkan modalnya, setelah Panama Papers mengemuka beberapa waktu lalu, berkembang seruan berulang kepada politisi untuk mempersulit siapa saja menghindari pajak atau menyembunyikan aset. Tapi, di sejumlah negara, tak terkecuali di Asia Tenggara, politisi atau penguasa yang namanya masuk dalam Panama Papers, tetap saja tak ditindak.

Ryle mengatakan, Pandora Papers menunjukkan bahwa orang-orang yang bisa mengakhiri kerahasiaan di luar negeri, memang diuntungkan. Jadi tidak ada insentif bagi mereka untuk mengakhirinya".

Seberapa mudah sih menyembunyikan uang di luar negeri?

Pandora Paper mengungkap, tidak terlalu rumit. Pemilik uang hanya perlu mendirikan perusahaan cangkang di salah satu negara atau yurisdiksi dengan tingkat kerahasiaan yang tinggi. Ini adalah perusahaan di atas kertas. Punya nama perusahaan, nama pengurus, tanpa harus punya staf atau kantor.

Tentu, hal ini memerlukan uang. Perusahaan spesialis dibayar untuk mendirikan dan menjalankan perusahaan cangkang atas nama pemilik uang. Perusahaan-perusahaan ini dapat memberikan alamat dan nama direktur berbayar, sehingga tidak meninggalkan jejak siapa yang akhirnya berada di belakang perusahaan, itu.

ICIJ menyatakan, tidak mungkin untuk menyatakan pasti, berapa banyak uang yang disembunyikan di luar negeri, tetapi diperkirakan berkisar dari 5,6 triliun hingga 32 triliun dolar Amerika Serikat (AS). Dana Moneter Internasional mengatakan penggunaan negra-negara 'surga pajak' merugikan pemerintah di seluruh dunia sampai 600 miliar dolar AS dalam bentuk pajak yang hilang setiap tahun.

Kumar mengatakan, hal itu merugikan masyarakat lainnya. "Kemampuan  menyembunyikan uang memiliki dampak langsung pada hidup Anda, karena hal itu  mempengaruhi akses anak Anda ke pendidikan, akses ke kesehatan, akses ke rumah," katanya.

Inggris adalah salah satu negara yang paling dikecam karena mengizinkan properti dimiliki oleh perusahaan anonim di luar negeri.

Pemerintah Inggris menerbitkan rancangan undang-undang pada tahun 2018 yang mengharuskan pemilik utama properti Inggris diumumkan. Tapi masih menunggu untuk disampaikan ke anggota parlemen.

Sebuah laporan parlemen tahun 2019 mengatakan, sistem Inggris memikat orang-orang "seperti pencuci uang," yang mungkin ingin menggunakan properti untuk menyembunyikan dana terlarang mereka.

Karenanya, investigasi kriminal sering "dihambat" karena polisi tidak dapat melihat siapa yang pada akhirnya memiliki properti. Inggris sedang memikirkan membuat undang-undang yang tegas dan keras, ketika di banyak negara yang memelihara situasi sebagai 'surga pajak,' dan 'ramah investor' menyederhanakan berbagai undang-undang, lantaran tekanan oligarki. | tique

Editor : Sem Haesy | Sumber : ICIJ, BBC, F24, ABC, WP
 
Humaniora
13 Okt 21, 09:25 WIB | Dilihat : 136
Pendekar Mabuk di Tengah Coronastrope
05 Okt 21, 16:00 WIB | Dilihat : 266
Penista Nabi Muhammad Mati Dilahap Truk
03 Sep 21, 12:31 WIB | Dilihat : 210
Membaca Tantangan Abad 21 dan Hegemoni Pendidikan Global
20 Agt 21, 09:28 WIB | Dilihat : 574
Politik Kematian Simbol Kediktatoran
Selanjutnya
Sporta
12 Jul 21, 10:12 WIB | Dilihat : 186
Italia Boyong Piala Eropa via Penalti
23 Agt 20, 12:51 WIB | Dilihat : 673
Anggur Hijau Douro untuk Bayern Munchen
22 Okt 19, 13:15 WIB | Dilihat : 1594
Pertamax Turbo Ajak Konsumen ke Sirkuit F2 Abu Dabi
Selanjutnya