Wayang

Petruk, Punakawan Kritis Penuh Canda

| dilihat 9164
AKARPADINEWS.COM | Masyarakat Indonesia pasti mengenal masing-masing personel dari wayang Punakawan. Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong hadir di Indonesia menjadi salah satu ikon budaya bangsa ini. Keempat punakawan tersebut dikenal karena kejenakaan dalam tindak-tanduk. Meskipun jenaka, biasanya dalang yang memainkan wayang punakawan akan menyelipkan kritik-kritik atas keadaan sekitar, baik itu kritik sosial maupun politik.
 
Salah satu tokoh wayang punakawan yang sering digunakan oleh dalang untuk menyampaikan kritik sosial-politik yang tengah terjadi di masyarakat ialah wayang Petruk. Dalam cerita wayang, Petruk merupakan tokoh yang menjadi anak angkat dari Semar. Ia bersama Semar dan saudara-saudaranya, Gareng dan Bagong, menjadi sosok yang sering membimbing raja-raja mereka menuju jalan kebaikan.
 
Petruk, sebagai salah satu tokoh wayang asli Indonesia, memiliki beberapa versi nama atau dalam bahasa Jawa disebut dengan dasanama. Nama-nama tersebut di antaranya ialah Dawala, Kantongbolong, Dublajaya, dan Pentungpinanggul. Dasanama Petruk itu biasanya digunakan dalam beragam pertunjukkan wayang. Dalam pertunjukkan wayang golek Sunda, dasanama Petruk yang digunakan ialah Dawala.
 
Di dalam dunia wayang, Petruk dikisahkan sebagai anak dari pertapa raksasa bernama Begawan Salantara. Sebelum bernama Petruk, ia bernama Bambang Pecrukpanyukilan. Di tempat asalnya, Pecrukpanyukilan memiliki watak jenaka, senang bercanda, sakti dan senang berkelahi. Ia akhirnya ingin menguji dirinya dengan berkelana hingga ia sampai di pertapaan Bluluktiba.
 
Di pertapaan tersebut, Pecrukpanyukilan bertemu dengan Bambang Sukskadi yang juga tengah mencari lawan tanding untuk menguji kesaktiannya juga. Keduanya kemudian terlibat dalam adu kesaktian hingga akhirnya wajah keduanya menjadi cacat. Hidung Pecrukpanyukilan menjadi panjang karena ditarik oleh Sukskadi dan kaki Sukskadi menjadi pincang karena diinjak oleh Pecrukpanyukilan.
 
Pertarungan keduanya dihentikan oleh Semar dan Bagong yang kebetulan lewat. Karena merasa dirinya sudah tidak keadaan sebelumnya, baik Pecrukpanyukilan dan Sukskadi enggan untuk pulang ke rumah. Keduanya akhirnya mendapat nasihat dari Semar dan mengikuti Semar kemanapun ia pergi. Pecrukpenyukilan akhirnya diberi nama oleh Semar dengan nama Petruk.
 
Petruk merupakan tokoh wayang yang cukup populer dengan kejenakaannya. Kepopulerannya membuat beberapa dalang sering memainkan lakon carangan yang menggunakan Petruk sebagai tokoh utamanya. Salah satu lakon carangan tersebut ialah Petruk Dadi Ratu yang merupakan lakon untuk mengritisi penjajah Belanda yang mengambil upeti dengan seenak hatinya tanpa memikirkan rakyat. Pada masa kini, lakon tersebut sering juga digunakan untuk mengritisi pemerintahan yang sedang berkuasa. Di dalam lakon Petruk Dadi Ratu, Petruk menjadi raja dengan nama Prabu Welgeduwelbeh.
 
Bila memperhatikan tingkah polah Punakawan, khususnya Petruk, dalam sebuah pertunjukan wayang, baik wayang kulit maupun wayang orang, maka akan keluar lawakan-lawakan nyinyir yang merupakan satire atas keadaan masyarakat. Tak pelak, penampilan Petruk dan kawan-kawannya dalam adegan gara-gara mengeritik dengan sangat tajam namun dibalut kejenakaan tokoh-tokohnya. Biasanya, Petruklah yang menjadi pemicu kritik jenaka tersebut dalam sebuah pertunjukkan wayang. |Muhammad Khairil.
Editor : Web Administrator