Membasuh Hati

| dilihat 3420

DALAM pertemuan di Istana Negara, beberapa waktu berselang, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memberikan buku kumpulan puisinya terbaru: Membasuh Hati. Lepas berdiskusi tentang puisi-puisinya, termasuk yang terkumpul dalam buku Taman Kehidupan, kami berbincang tentang berbagai pemikiran visioner ihwal pembangunan bangsa berbasis gerakan pro rakyat.

Presiden SBY merupakan penulis yang produktif. Selama menjabat Presiden Republik Indonesia, beliau menyelesaikan beberapa buku yang memerlukan pemikiran keras, dan dua buku puisi yang mengembarakan imajinasi dan sikapnya dalam paduan estetika – artistika – etika. Buku Membasuh Hati, ditulis di sela kesibukannya. Baik di Cikeas, Ambon, Ciwidey, Ternate, Bogor, Wisma Negara, dan Jakarta.

Dalam buku Membasuh Hati, Presiden berbicara banyak tentang berbagai hal menyangkut bangsa. Mulai dari bagaimana merajut kembali persatuan dan kesatuan bangsa, sampai berbagai hal menyangkut praktik demokrasi. Tentang orang-orang kecil, rakyat kebanyakan yang bergerak di tengah proses transformasi demokrasi. Pun, tentang kerinduannya pada Aira, cucunya. Juga tentang jati dirinya sebagai tentara. Beberapa puisinya, secara spesifik, bahkan berkisah tentang bagaimana berlangsungnya praktik penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan, dan pemberdayaan masyarakat di daerah dan pedesaan.

Di Cikeas, Presiden SBY menulis puisi tentang tentang Bang Sukur, penjual bubur ayam yang bersukacita karena para bocah yang dulu berebut bubur ayamnya, kini telah jadi orang. Dalam konteks perenungan, dalam puisi Membasuh Hati, Presiden SBY mengekspresikan suasana batinnya. Begini :

Benar, / jika aku sibuk melihat orang lain / kapan aku bisa melihat diriku sendiri / yang tidak luput dari kurang dan khilaf // Benar, . jika orang lain selalu kulihat keburukannya / kapan aku bisa melihat kebaikannya / yang dirikupun belum tentu punya // Dan, bila / sepanjang malam hatiku tergoda untuk menabur dengki dan fitnah / kapan aku bisa tafakur dan beribadah / dan mencegah dosa, berbuat baik kepada sesama // Menjaga hati yang bersih adalah akidah / mengapa kita menjauhdan tak pandai mencari berkah // Sebelum akhirat datang / masih ada hari di hadapan / mendidik diri,/ membasuh hati / dan menitip hidup di jalan ilahi //.

Di tengah kesibukannya menjalankan amanah sebagai Presiden Republik Indonesia, Pak SBY masih sering meluangkan waktu berdiskusi secara demokratis dan terbuka. Termasuk pemikiran kritis terhadap kebijakannya. Dan, semua itu memperkaya puisinya, sekaligus menambah air kearifan baginya untuk membasuh hati terus menerus. |

Editor : Web Administrator
 
Lingkungan
19 Jun 26, 11:49 WIB | Dilihat : 247
Penang
07 Jun 26, 12:42 WIB | Dilihat : 373
Jakarta Baur Budaya
28 Apr 26, 14:29 WIB | Dilihat : 487
Jumhur Hidayat
03 Des 25, 18:35 WIB | Dilihat : 890
Jangan Pernah Menentang Semesta
Selanjutnya
Seni & Hiburan
16 Nov 25, 10:19 WIB | Dilihat : 1124
Hazieq Rosebi Berjenaka dengan Nurlela
19 Nov 24, 08:29 WIB | Dilihat : 3255
Kanyaah Indung Bapak
Selanjutnya