AKARPADINEWS.COM | MAKNA dari sebuah identitas diekspresikan para perupa lewat karyanya. Beragam karya seni rupa mereka suguhkan. Karya-karya itu merefleksikan identitas diri maupun identitas nusantara sebagai sebuah kawasan geografis dengan berbagai kekayaan dan problematika kebudayaannya.
Sejak 23 Mei, karya-karya seni rupa itu dipamerkan di ajang Seni Rupa Nusantara 2015. Pameran yang rencananya berakhir 7 Mei 2015 dengan mengangkat tema Art Chipelago itu digelar di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta. Sebanyak 108 karya perupa pilihan dari 23 provinsi di Indonesia dipamerkan. Seniman dari Malaysia, Singapura, dan Filipina, turut memamerkan karyanya di ajang itu.
Sejumah karya lukis, instalasi, seni grafis, keramik, komik, video art, multimedia, dan karya seni rupa lainnya yang disuguhkan di pameran itu merujuk pada upaya merumuskan identitas perupa sendiri, berkaitan dengan identitas kewarganegaraannya dan makna identitas nusantara (archipelago). Politik identitas dan politik kebudayaan juga terlihat kental di berbagai karya di pameran ini.
Konstruksi identitas saat ini, pada dasarnya efek dari identitas tempo dulu, yang terus mengalami perubahan, mulai dari masa kerajaan, kolonial hingga era modern. Misal, dalam karya AA Gede Agung Jaya Wikrama yang berjuluk, "Kuta on The Move memperlihatkan perubahan identitas pada masyarakat Kuta, Bali, akibat akulturasi antara tradisi dan nilai-nilai terbaru (modern). Lukisan dekoratif Agung menunjukan perpaduan tersebut. Dia memadukan teknik melukis gaya Kamasan, dengan mitologi Barong Landung, dan kondisi Kuta saat ini yang ramai oleh turis dengan membawa nilai-nilai kebaruan dan simbol-simbol modernisasi.
Agung menjelaskan, karyanya diilhami sosok Barong Landung yaitu Raja Jayapangus atau Balingkang sebagai Raja Bali kuno yang menikah dengan puteri Cina Kang Cing Wi. Hal itu menunjukan jika proses penetrasi nilai-nilai dari luar ke tradisi yang diwarisi nenek moyang dan diadopsi dalam perilaku masyarakat Bali, telah berlangsung sejak lama. Namun, seiring perubahan jaman--proses akulturasi itu berimplikasi pada perubahan budaya masyarakat saat ini. Identitas masyarakat Bali berubah.
Dan, kondisi tersebut semakin memprihantinkan ketika Bali hanya dipandang sebagai kawasan yang eksostis. Bali hanya menjadi tempat bagi para turis mengaktualisasikan gaya hidup hedonisme sehingga menjadi pasar bagi produk-produk kalipitalisme.
Kurator pameran yang terdiri dari Suwarno Wisetrotomo, Asikin Hasan dan A Sujud Datanto melalui pameran ini mencoba melihat wacana identitas yang masih pantas untuk dimaknai. Mereka menganggap identitas selalu mengalami perubahan seiring terjadinya fluktuasi aktivitas sosial, kultural, hingga efek dari berkembangnya budaya yang disebarkan via media dan teknologi informasi.

Sementara dalam pameran Disinterested yang berlangsung 27 Mei-27 Juni 2015 di Philo Art Space Kemang Timur, lebih mengkerucut pada diri sesorang seniman lewat karya-karyannya yang disajikan dalam ajang tersebut.
Tiga pelukis: Patrick Wowor, Soni Irawan, dan Tjokorda Bagus Wiratmaja yang dipilih oleh kurator Tommy F Awuy, merepresentasikan kediriannya dalam konsep disinterested yakni pergerakan subjektivitas manusia ke ranah seni. Seniman yang seutuhnya manusia tentu mempunyai jejak diri dengan keluarga, pendidikan, agama, negara, dan relasinya dengan berbagai peristiwa sosial.
Pada karya-karya Patrick Wowor asal Jakarta, ia seolah menyelami dirinya secara kontemplatif dalam ruang batin dan daya khayalinya. Dominasi warna-warna gelap disisipi teks-teks seperti pada karya “Mengapa kau tutup pintu malam sedangkan langit sudah terbuka untuk bintang.” Patrick seolah berkata kepada khalayak agar memasuki pintu dan melihat adanya fragmentasi harapan dalam kehidupan masyarakat yang mengakibatkan polah hidup manusia laksana bintang. Sementara hidup mengajarkan agar manusia tidak sekadar menatap namun meraihnya.
Selanjutnya, Tjokorda Bagus Wiratmaja atau dikenal dengan Choki, mengabstraksikan peristiwa melalui garis dan warna yang tegas untuk menyikapi persoalan sederhana dalam keseharian, namun memiliki makna mendalam.
Seekor babi yang dibawahnya, memperlihatkan kepala manusia yang menyusu seperti dalam karyanya berjudul Fat and Rich. Karya itu mendeskripsikan kehausan manusia pada harta dan kekuasaan. Sedangkan Soni Irawan asal Yogyakarta melukiskan tumpukan sosok-sosok dengan gaya dekoratif di seluruh karyanya, manusia yang selalu hidup berkelindan dengan manusia lain dengan berbagai persoalannya.
Kedua pameran itu menegaskan jika seni rupa menjadi media ekspresi dan pembebasan untuk mengungkapkan identitas diri dan identitas nusantara, bahkan identitas masyarakat dari zaman masa lalu hingga kini. Wacana identitas ini akan selalu tumbuh seperti dalam filsafat yang menguraikan tentang manusia yang selalu mempertanyakan tujuan hidup dari mana dan mau ke mana?
Ratu Selvi Agnesia