
Bang Sem
Jum'at malam (11/8/23) saya berkunjung (tak resmi) ke Madrasah tua Nurul Iman (kini Pondok Pesantren) di tepian sungai Batang Hari - Seberang Kota Jambi. Persisnya di Kelurahan Ulu Gedong - Kecamatan Danau Teluk. Bagian kota Jambi, yang diyakini banyak kalangan sebagai kawasan pemukiman multi ras dan multi etnik.
Kawasan permukiman ini mempertemukan masyarakat Jambi pituin dan mukimin (antara lain dari Tarim - Hadramaut, Champa, Johor, Terengganu, Perak, Kelantan, Kedah, Kedah, Banjar, dan Banten). Salah satu sentrum penting masyarakat Melayu sejak abad ke 17.
Ricko, generasi baru dari kawasan ini dan mak cik-nya mendampingi, bersama Andre - putera Jambi berayah asal Temanggung dan ibu Pamijahan - Tasikmalaya, Roy dan Herlambang putera Jambi pituin asal Tebo.
Secara pibadi dan atas dorongan hati -- yang tak pernah bisa saya kendalikan --, acap ke Jambi, saya selalu mengambil kesempatan untuk datang ke kawasan -- yang kini menjadi salah satu sentra batik Jambi -- ini. Selalu merasa, sudah sungguh sempurna datang ke Jambi, bila sudah berkunjung ke sini. Biasanya, saya mengunjungi Madrasah tua Nurul Iman dan Jauhharen.
Ketika memasuki laman madrasah dengan bangunan berbahan kayu bulian ini, para santri sedang menderas Al Qur'an di lantai dua. Di bagian lain, nampak para santri perempuan. Beberapa santri keluar lewat jendela dari asrama yang terletak di seberang jalan, persis di hadapan madrasah. Berlari masuk ke madrasah, lantas bergabung dengan dengan santri lainnya yang sedang menderas.

Kayu-kayu bangunan utama madrasah ini nampak masih kokoh, sejak dibangun tahun 1915. Hanya di laman bagian kiri depan ada bangunan baru kantor, dan bagian muka kanan sudah bertembok. Toren besar nampak di atas dak bagian muka kanan madrasah ini.
Beberapa saat, para santri berhambur keluar dengan sukacita. Mereka menghampiri saya dan bergantian mencium tangan, sebelum bergantian melangkah ke asrama mereka. Suasananya romantis, terbangun suasana dan atmosfer-nya oleh lampu pijar dengan daya watt kecil. Baru kali ini saya datang pada malam hari. Biasanya saya datang siang.
Madrasah Nurul Iman dan Jauhharen, sebagaimana madrasah tua Saadatudaren desa Tahtul Yaman, dan Nurul Islam, tak sekadar bangunan warisan sejarah masa lampau Jambi yang masih terpelihara hingga kini.
Keberadaannya merupakan bagian tak terpisahkan dari tambo atau sejarah tamadun Melayu Jambi dan proses perjuangan panjang bangsa Indonesia (sebelum dan sesudah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945). Bahkan sejarah Jambi itu sendiri, sebagai bagian penting dan salah satu saka peradaban Melayu.
Garis sejarah peradaban Melayu Jambi, saya ambil dari penggal pengaruh Orang Kayo Hitam (abad XI) yang berproses dalam dinamika pada masanya, sehingga menjadi Kesultanan Islam Jambi (awal abad ke XVI) dengan dinamika syi'ar islamiyah.

Pada masa inilah tercatat sejumlah ulama, seperti Qadi Haji Muhammad Thaiyib, Qadi Muhammad Saman Yamani, Qadi Abdul Ghani, Qadi Nasaruddin. Dari ulama-ulama inilah, antara lain masyarakat muslim Jambi belajar intensif tentang aqidah, syariah, muamalah, dan akhlaq, selain tasawwuf, sejarah, bahasa Arab - termasuk menulis dan membaca aksara pegon Arab Melayu - qira'ah - tilawah - tahfidz, hadits, pencak silat, tradisi (peringatran hari As Syuraa, Nisfu Sa'ban), dan seni (antara lain hadhrah, zapin, gambus, mahfudzat -- kelak menjadi pantun dan seloko,dan lain-lain).
Jambi lantas menjadi persemaian peradaban Melayu berbasis Islam (abad XX). Apa yang ditanamkan melaui proses taklim - pembelajaran interaktif dan kuliah - semakan, kian bertumbuh dan berkembang dinamis antara abad XVII - XX, melalui dakwah dan taklimat para ulama berikutnya, seperti Sayid Husin Baraqbah, Haji Ishak bin Karim – Mufti Jambi, Kemas Haji Muhammad Zein bin Kemas Haji A. Rauf Al-Jambi As-Syafi’i Al Asy’ari An Naqsabandi, Pangeran Penghulu Noto Sgomo, Syekh Mohammad Syafe’i Bafadhal, Sayyid Alwi Al-Baithi, Al-Qadhi Abd. Ghani bin Haji Abdul Wahid, KH Abdul Majib bin H. Moh Yusuf Karamat, Sayyid Al Musawwa, dan lainnya.
Proses pembelajaran - taklimat dengan metodologi a la madrasah di Tarim - Hadhramaut atau dalam tradisi pesantren di Jawa dikenal sebagai sorogan. Yakni metode pembelajaran langsung dari ulama (Syeikh, Tuan Guru, Kyai) mengkaji berbagai kitab buah fikir ulama dan cendekiawan muslim era Mardova (Madinatul Munawwarah - Cordova).
Dalam metode ini, murid atas santri secara individual atau berkelompok secara bergiliran menyampaikan kepada gurunya penguasaan mereka atas bacaan Al Qur'an, Hadits dan berbagai pelajaran dari kitab, apa yang sudah diajarkan sang guru sebelumnya.
Pergerakan dakwah melalui syi'ar dan taklimat masa itu berkembang dengan panduan karya literasi kolaboratif para Tuan Guru dalam kitab Qurrotu al 'Ain. Metodologi dan tradisi ini terus berkembang dan meluas, dan dilanjutkan oleh para Tuan Guru generasi berikutnya, seperti Zainuddin Ahmad bin Abdul Aziz Al-Ma’bari Al-Malibari Al-Fannani, Syekh Ali bin Abdullah bin Mahmud bin Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari yang juga menghasilkan karya literasi kitab I'anah Ath-Tholibin.

Metodologi dalam proses belajar mengajar berkembang dan mengalami perubahan, bersamaan dengan lahirnya kesadaran yang dikelola secara antusias dalam penguatan jama'ah dan jami'iyah melalui pembentukan organisasi muslim modern di Jambi, Perkumpulan (Perukunan) Tsamaratul Insan - yang dapat dimaknai sebagai investasi insani (human investment). Suatu organisasi sosial - keagamaan yang didirikan untuk menyemai, menanam, dan merawat tauhid - aqidah - syariah - muamalah (ekonomi, kesejahteraan sosial - termasuk pengurusan - penanggulangan musibah, pendidikan, kesehatan) Islamiyah dan akhlaq kariimah. Sekaligus sebagai wadah persatuan umat.
Organisasi ini berdiri atas perjuangan para Tuan Guru, yang diinisiasi Sayyid Al Musawwa dan kawan-kawan. Beroleh izin dari Residen Jambi No. 1636 pada 10 September 1914 atau 1 Zulhijjah 1333 H. Kesadaran dan entusiasme pendiriannya senafas dan seirama dengan berdirinya Sarekat Dagang Islam yang didirikan KH Samanhudi di Laweyan - Solo (1905) dan kemudian berkembang menjadi Sarekat Islam yang dipimpin Omar Said Tjokroaminoto (dan baru diakui Pemerintah Hindia Belanda 1911), Muhammaddiyah yang didirikan KH Achmad Dahlan (1912), dan Al Irsyad Al Islamiyah yang diinisiasi KH Achmad Soorkati (1914).
Tsmaratul Insan inilah yang mendirikan lembaga-lembaga pendidikan Islam: Madrasah Nurul Iman, Madrasah Al-Jauhharen, Madrasah Nurul Islam, dan Madrasah Sa’adatuddaren. Organisasi ini tumbuh sebagai institusi yang dibangun masyarakat - kaum muslim, sekaligus menghidupkan ghirah dan gairah sebagai suatu kaum dan bangsa yang harus berdaulat dan merdeka.
Sebagaimana halnya Sarekat Islam dan jami'iyah islamiyah lainnya masa itu, pemerintah Hindia Belanda mengawasi ketat organisasi ini. Tak hanya karena amal usahanya di bidang pendidikan dipandang sebagai sesuatu yang tak sesuai dengan esensi politik etik penjajah Belanda melalui western school yang mereka bangun, temasuk Volkschool - sekolah desa.
Lembaga-lembaga pendidikan yang didirikan Tsamaratul Insan, sesuai dengan prinsip dasar human investment merupakan institusi kader bertauhid, berjiwa kebangsaan (nasionalisme) dan bermodal ilmu pengetahuan. Institusi yang sungguh melahirkan modal insan (human capital) bukan sekadar sumberdaya manusia (human resources). Melalui amal-usahanya terbangun kesadaran peran diri dalam menghidupkan kaum yang merdeka dan berdaulat.

Lembaga-lembaga pendidikan yang didirikan Tsmaratul Insan bertumbuh sebagai wahana bagi tertanam, tersemai, dan terawatnya kesadaran kreatif dan inovatif untuk menggali dan mengembangkan investasi budaya dan investasi ekonomi bagi suatu masyarakat yang merdeka dan berdaulat kelak. Dalam konteks budaya dan tamaddun Melayu Jambi, meruju pada apa yang tersurat dan tersirat dalam Tajussalatin, Bustanussalatin, Syair Muko-Muko, dan Sajarat Perak, Tsamaratul Insan menjadi pokok utama dalam pengembangan dan perluasan kecerdasan dan kearifan budaya bernafas Islam. Sekaligus modernisma.
Pencapaian peradaban Islam sampai era Mardova seperti yang terpancar melalui karya-karya pemikiran, kreativitas, inovasi dan invensi para cendekiawan muslim seperti Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Ibnu Chaldun, Al Farabi, Al Khawarizmi, Yusuf Al Khuri, Al-Husmi, Abu al-Qasim al Zahrawi, Ibn An Nafis, Al-Biruni, Al-Arabi, Muhammad al Syaibani, Al Tusi, dan lain-lain menginspirasi Tsamaratul Insan.
Melalui madrasah-madrasah yang didirikan dan dibina organisasi ini, terbinas kaum muslim Jambi terdidik dan mampu mengembangkan sistem bahasa, pola komunikasi, sistem pengetahuan, olah teknologi, adat resam, senio, ekonomi, hukum, dan politik. Lewat karya budaya Jambi, Seloko tercermin dan terefleksikan kecerdasan dan kearifan budaya tersebut, termasuk akulturasinya dengan budaya Minang (Pagaruyung), sebagaimana tercemin dalam platform nilai: "adat bersendi syara,' syara' bersendi kitabullah. Termasuk nilai-nilai modernisma yang membentuk watak demokratis, toleran, inklusif, adaptif, dan visioner.
Dalam konteks ekonomi pun berkembang prinsip-prinsip praktis dalam niaga, yang dalam kekinian dikenal dengan best trading mindset, best agro-mine practice, best investment practice, entrepeneurship, termasuk good governance berbasis etika dalam bisnis. Setarikan nafas juga menempa watak kepemimpinan dalam siyasah dan penegakan keadilan. Isyarat dalam tambo : "teluk sakti, rantau betuah, gunung badewo" mencerminkan nilai asasi tentang bagaimana mengelola ekologi dan ekosistem; dan, dalam tata kelola manajemen dan penegakan hukum berlaku prinsip kejujuran: "jangan telunjuk lurus, kelingking bekait."
Prinsip-prinsip perjuangan yang dilandasi oleh sikap cinta tanah air - tanah tumpah darah, sebagaimana banyak dapat digali dari isyarat seloko, juga menjadi ruh perjuangan Sultan Thaha Syaifuddin (1858-1904), dan menjadi bagian penting perjuangan Raja Batu Abdul Wahid dan rakyat Jambi di Muaro Tembesi, Sarolangun, Muara Tebo, Bangko, dan lain-lain. Termasuk bergabungnya Haji Agus pimpinan Sarekat Islam Afdeling Jambi (16 Agustus 1916) dalam perjuangan Raja Batu, beberapa bulan setelah Pidato Tjokroaminoto "Zelf Bestuur" di Societat Concorde (kini Gedung Merdeka) - Bandung (16 Juni 1916).

Menyaksikan Madrasah Nurul Iman (pula madrasah-madrasah lainnya) yang masih berdiri hingga saat ini, dan menelusuri beragam perkembangan dinamis masyarakat Indonesia dan Jambi, dan cara pandang Gubernur Jambi, Dr. H. Al Haris, S.Sos., M.H. (Datuk Mangkubumi Setio Alam) -- yang saya serap dalam perbincangan di rumah dinas Gubernur pada pagi harinya --, saya membayangkan Jambi dengan kesadaran tamaddun Melayu-nya, dapat menjadi simpul penting kebangkitan Melayu Raya di sepanjang Al Jaziratul Mulq - dari Madagaskar sampai Maluku.
Bayangan tersebut memantik imajinasi saya tentang Jambi mendatang. Khasnya ketika berbincang dengan Fachrori Umar - Gubernur Jambi (2019-2021), dan generasi baru seperti A.S Ardiansyah yang sedang merintis Pesantren Ar Ridha - Jambi, dan beberapa kalangan lainnya, termasuk seniman, jurnalis, dan penggiat budaya Jambi yang belum terkontaminasi pragmatisma politik. Terutama ketika adat, resam, platform nilai, dan kecerdasan budaya (termasuk watak kepemimpinan) yang ditinggalkan para ulama, cendekiawan, dan Sultan Thaha Syaifuddin beserta investasi insaniah, ekonomi, resam budaya, dan siyasah yang senafas dengan Pancasila terus dihidupkan.
Investasi Insani dan nasionalisme ( dijiwai patriotisme) sebagai modal masa depan dalam mengelola dan membangun Jambi, terutama dalam proses transformasi peradaban maju era Society 5.0 yang ditopang oleh kemajuan pesan dan dramatik sains dan teknologi, khasnya teknologi informasi. Tak hanya terkait dengan internet on think, dan pengendalian percepatan artificial intelligent (yang mendebarkan), pengendalian demografi agar tak terperosok ke dalam petaka demografi, pengendalian singularitas, kemampuan mengelola dan memberi daya bagi keseimbangan kecerdasan dan keterampilan dengan kearifan, sehingga mampu melayari transhumanisma.
Manifestasi Tamadun Melayu Jambi dengan platform kekinian dan masa depan, termasuk kemerdekaan selaras nalar - nurani - rasa dalam akal budi, adalah bagian tak terpisahkan dari upaya-upaya memantapkan Jambi sebagai zona kemajuan budaya, ekonomi, demokrasi beradab, dan penyelenggaraan negara yang baik (good government) dan tata kelola sosial (social good governance). Zona ke-Indeonesia-an yang tak tercemari oleh kebiadaban korupsi - raswah, dan dihidupan oleh cinta (rahman - rahim), syukur nikmat atas karunia Ilahi, konsisten dan konsekuen di jalan lurus, dan cakap mengambil pelajaran dari pengalaman lampau. Bukan jalan kaum yang dimurkai.
Pencapaian dari seluruh proses aktualisasi Tamaddun Melayu Jambi tersebut adalah visioneering yang memandu umat - rakyat mengelola siyasah wadhihah - clean clear politic untuk mencapai kemajuan khas dan distinctive. Terutama dalam mewujudkan kebahagiaan rakyat melalui penegakan hukum berkeadilan, peradaban unggul, dan kemanusiaan (dengan sustainable culture, pengembangan potensial, sadar menghadapi risiko eksistensial).

Menghidupkan syari'ah wal ibadah - wasathiyah (moderasi) melalui pengembangan sosial ekonomi umat, menolak ekstrimitas dan ideologi kekerasan, melalui pendidikan umat (termasuk community college - khasnya untuk kaum perempuan) dan pengembangan nilai "ambil benih sampaklah sarap," menyiangi kebaikan dengan keburukan dalam kehidupan sehari-hari.
Menghidupkan persatuan umat, penyelenggaraan pemerintahan yang melayani dan berintegritas, sehingga mencapai persamaan derajat manusia dalam kemerdekaan sejati. Spirit ini mengemuka dalam perbincangan tentang dimensi perjuangan Jambi dengan Hamdan Zoelva - Presiden Syarikat Islam dan KH Yumni - sesepuh pesantren Ar Ridho, Jambi di salah satu sudut rintisan pondok pesantren itu.
Investasi insani dan nasionalisme dalam Tamaddun Melayu Jambi saya bayangkan, menjadi saka utama dalam membentang proses transformasi ke jaman baru. Memberi aksentuasi atas kemerdekaan bangsa, sebagai dimensi ruang waktu yang cukup bagi melakukan pengabdian berkualitas bagi tanah air, negara dan bangsa.
Sekaligus melahirkan pemimpin-pemimpin yang melayani, mengayomi, dan memandu jalan ke masa depan menuju cahaya benderang. Pemimpin-pemimpin berkarakter, "ibarat sebatang pohon, batangnyo besak tempat besandar, daunnyo rimbun tempat belindung ketiko hujan tempat beteduh ketiko panas, akarnyo besak tempat besilo, pegi tempat betanyo, balik tempat babarito."
Dari Madrasah Nurul Iman yang beberapa kali saya kunjungi, terasa getar sejarah kemuliaan yang membangun kesadaran untuk melakukan sesuatu secara ikhlas. Inilah inti spirit perjuangan para pahlawan. Saya yakin, imajinasi saya tentang Jambi, bukan "Awak pipit nak nelan jagung." Bukan fantacy trap ! |
Artikel Terkait: Membentang Kembali Layar Perjuangan dari Batang Hari