Catatan Piala AFF 2014

Sepak Bola Indonesia Teruslah Berbenah Diri

| dilihat 3720
 
Meskipun gagal melaju ke babak semifinal Piala AFF 2014, tim nasional Indonesia, pengurus maupun pecinta bola Indonesia tetap patut bersyukur karena Skuad Garuda tak jadi juru kunci dalam penyisihan grup A. Meski begitu, Indonesia teruslah untuk berbenah diri dengan mengelar banyak kompetisi dan pembinaan pemain secara berjenjang.
 
Kemenangan 5-1 atau Laos di laga ketiga pada Jumat  malam (28/11) patut di apresiasi dengan baik. Adanya rasa syukur itu disampaikan oleh salah satu pemain, Zulham Z, usai bertanding di sebuah tayangan televisi. Zulham yang dimasukkan pelatih Alfred Reidl di babak kedua lawan Laos itu menyumbangkan sebuah gol. “Ya kita memang gagal ke semifinal tetapi patut bersyukur karena bisa  bermain bagus dan menang pada pertandingan ini,”ucapnya.
 
Zulham juga tak mempersoalkan mengapa pelatih Riedl baru memilihnya di pertandingan babak kedua itu. Meski begitu, dirinya sangat bersyukur bisa dipercaya bermain di ajang ini. “Itu keputusan pelatih, saya hanya berupaya bermain yang terbaik saja,”tambah Zulham.
 
Harus diakui, bisa menang dari Laos itu sangat luar biasa, karena kubu Indonesia memang dilanda ’paceklik’ pemain lantaran pemain-pemain timnas banyak terkena cidera. Bahkan, timnas harus bermain dengan 10 pemain ketika lawan Laos karena salah satu pemainnya terkena kartu merah pada pertandingan sebelumnya.
 
Atas kemenangan Indonesia ini, tim Laos menjadi juru kunci grup A dan harus melalui playoff untuk bisa tampil di ajang AFF berikutnya. Sementara, juara grup A ditempati Vietnam yang mengalahkan Filipina dengan skor 3-1, dan Filipina menjadi runner up grup A.  Keduanya melaju ke semifinal melawan juara dan runner up grup B, Thailand dan Malaysia.
 
 
 
Benahi Kompetisi dan Pembinaan
 
Melihat penampilan Indonesia di ajang AFF 2014, para pengurus Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) segeralah berbenah dalam mengelar kompetisi dan pembinaan atlet.
 
Pertama, sebaiknya PSSI mengelar kompetisi yang banyak dengan sistem yang sehat. Masksudnya, tak ada lagi dualisme kepemimpinan dalam melakukan pembinaan maupun kompetisi sepak bola, yang berakibat kisruh berkepanjangan karena ego masing-masing.
 
Jika kompetisi banyak digelar dengan sistem yang benar di bawah naungan PSSI maka periodesasi atau musim kompetisi akan berjalan terstruktur dan sistematis serta profesional, sehingga tak akan menganggu kebugaran pemain, jika salah satu pemainnya diminta untuk bermain dalam tim nasional.
 
Tak bisa dimungkiri, masalah jadwal kompetisi begitu mempengaruhi penampilan  para pemain. Jelas terlihat, penampilan beberapa pemain Indonesia itu sangat jauh dari bugar. Bahkan nampak jelas, para pemain bermain lambat dan bisa dikatakan untuk berlari dan menendang bola pun amat berat karena sangat kelelahan usai tampil di kompetisi lokal. 
 
Pemain senior, Firman Utina usai bertanding lawan Filipina mengakui, bahwa permainan mereka amat buruk namun dirinya tak mau menyalahkan pihak manapun. Meski begitu, waktu yang minim selama latihan, diakui Firman, menjadi penyebab utama melorotnya stamina para pemain dan berimbas pula pada minimnya waktu adaptasi pola permainan antarpemain.
 
Kita tahu, timnas baru berlatih bersama sekitar sepekan menjelang AFF digelar dan itu sangatlah sulit bagi pelatih untuk mengembalikan kebugaran dan kekompakan tim meskipun kebanyakan diantaranya adalah pemain senior. “Waktu latihan sangat sedikit jadi ini sangat mempengaruhi penampilan kami,”ucap Firman.
 
Dalam laga terakhir, pelatih Alfred Reidh mengubah strategi dengan memberi kesempatan pemain muda turun bermain. Seperti Evan Dimas Darmono. Bahkan Evan mampu menyumbangkan gol cantik di pertandingan awal lawan Laos, di susul dua gol dari Ramdani dan satu gol dari Zulham. Sedangkan satu gol lagi diperoleh dari gol bunuh diri pemain Laos, yang tak lain dari kapten kesebelasannya.
 
Kedua, soal pembinaan atlet,  para pengurus belajarlah dari ajang ini, di mana kompetitor Indonesia sudah beranjak jauh lebih baik dari Skuad Garuda. 
 
Filipina misalnya, yang dari 21 pertemuan sebelumnya, 19 kali Indonesia menang dan terakhir seri, tetapi dalam penampilan di AFF 2014  Filipina cukup luar biasa karena bisa menaklukkan Indonesia 4-0, yang tak lain runner up empat kali Piala AFF, 2000, 2002, 2004 dan 2010. Program naturalisasi dan menempatkan pemain-pemain muda di bawah 28 tahun yang dilakukan Filipina, mampu mendongrak penampilan tim Filipina meski tampil tak luar biasa. Karena akhirnya di laga ketiga Filipina mampu dikalahkan Vietnam 1-3, sedangkan Indonesia mampu bermain imbang dengan Vietnam, 2-2.
 
Pembinaan berjenjang menjadi hal yang wajib dilakukan oleh pengurus PSSI. Melihat penampilan luar biasa pemain-pemain muda dari tim-tim lawan di ajang AFF, memperlihatkan betapa minim kaderisasi dari timnas Indonesia. Brunei dan Filipina sudah berhasil mengalahkan Indonesia. Jangan sampai, Indonesia semakin terpuruk. Benar kata Firman Utina, tak perlu sibuk cari siapa yang salah ketika kalah. Belum terlambat untuk berbenah dan mulailah dari sekarang.  Kalau tidak sekarang, kapan lagi.
Editor : Nur Baety Rofiq
 
Sainstek
27 Okt 21, 17:41 WIB | Dilihat : 516
Waspadai Kabar Palsu Artis Meninggal di Media Sosial
20 Nov 19, 13:05 WIB | Dilihat : 2338
Rumah Ilmuwan Bukan di Menara Gading
Selanjutnya
Seni & Hiburan
31 Jul 21, 04:03 WIB | Dilihat : 452
Mata Maut
Selanjutnya