EURO 2016

Pelaku Kerusuhan di Marseille Terlatih

| dilihat 2633

MARSEILLE, AKARPADINEWS.COM | HOOLIGAN Rusia dianggap sebagai dalang kericuhan massal di Kota Marseille, Perancis, yang menodai perhelatan EURO 2016, pada Sabtu (11/6) lalu. Dari hasil penyelidikan otoritas setempat, kelompok yang menamakannya "Ultras" itu melancarkan serangan dengan cara-cara terlatih.

Bila tudingan itu terbukti, bisa jadi, Rusia akan didiskualifikasi sebagai tuan rumah Piala Dunia 2018. UEFA juga dituntut untuk mengusut suporter Inggris yang dianggap melakukan provokasi yang memicu kemarahan suporter Rusia.

Insiden itu menyebabkan 35 orang terluka yang empat di antaranya serius. Korban luka kebanyakan pendukung Inggris. Sebanyak 20 orang yang ditangkap aparat.  Pemerintah Rusia menolak bertanggungjawab karena Hooligan bebas untuk bepergian jika memiliki cukup uang dan bisa mendapatkan visa Schengen yang memberikan mereka akses ke Eropa, termasuk menyaksikan Laga EURO 2016.

Perilaku Hooligan Rusia di Marseille pun menuai respons datar dari kalangan politisi. "Saya tidak melihat sesuatu yang mengerikan mengenai fans yang berkelahi," kata Igor Lebedev, seorang nasionalis yang merupakan wakil ketua parlemen majelis rendah dan anggota komite eksekutif Sepakbola Uni Rusia, lewat media sosial, Senin (13/6).

Sementara itu, pihak berwenang Perancis mengatakan, sekitar 150 suporter Rusia terlibat dalam kekerasan di Marseille. Pihak kejaksaan Marseille pun menyebut suporter Rusia yang terlibat kekerasan paling terburuk itu sangat terlatih dalam melakukan perlawanan. Badan sepakbola Eropa, UEFA, pun mengancam akan mengusir tim Rusia dan Inggris dari Liga EURO 2016 jika kekerasan terus berlanjut.

Ultras merupakan massa yang terorganisir, yang berkembang di Moskow dan St Petersburg. Mereka meniru kejayaan hooliganisme sepak bola Inggris, tahun 1970-an lalu. Di Rusia, hooligan atau khuligan diarahkan kepada para pelanggar hukum dan pembangkang politik.

Perilaku hooligan merupakan tindak pidana, lantaran tidak tertib. Kerusuhan di Marseille meletup setelah pertandingan Inggris-Rusia berakhir dengan skor 1-Suporter Rusia menyerang suporter Inggris usai  peluit panjang dibunyikan oleh wasit Nicola Rizzoli.

Kericuhan yang berawal di dalam stadion Stade Velodrome itu pun meluas keluar stadion. Aksi baku hantam hingga pelemparan bom molotov dan flare membuat pihak otoritas kepolisian Perancis kelabakan. Pihak kepolisian Perancis pun terpaksa menggunakan gas air mata untuk menjinakan pelaku kerusahan.

Menurut sejumlah saksi, kericuhan terjadi setelah salah seorang fans Rusia menyalakan flare di tribun penonton. Setelah itu, beberapa di antara mereka berlari dan memanjat pagar pemisah, menuju tribun fans Inggris dan melakukan penyerangan.

Aksi tersebut menyebabkan barisan suporter Inggris kocar-kacir dari tribun berlarian menuju pintu keluar. Kepolisian Perancis menemukan adanya upaya provokasi untuk melakukan kekerasan massal yang disampaikan salah satu situs milik fans Rusia.

Terlepas dari dari tuduhan itu, hal yang patut dipertanyakan adalah kesiapan dan kesigapan kepolisian Perancis saat laga berlangsung. Padahal, untuk mengamankan jalannya EURO 2016, Pemerintah Perancis telah mengerahkan 90 ribu personil polisi. Meluasnya kericuhan membuktikan aparat kepolisian kurang tanggap dan gagal melakukan antisipasi.

Itu juga terlihat kelalaian aparat keamanan dalam memeriksa barang bawaan penonton. Bagaimana mungkin oknum suporter Rusia bisa membawa masuk barang-barang berbahaya seperti flare ke dalam stadion?

Untuk mengantisipasi terjadinya insiden serupa, pihak kepolisian memperketat keamanan. Di pintu masuk, pihak kepolisian akan mengambil tindakan tegas kepada suporter yang kedapatan membawa benda-benda yang dapat membahayakan keamanan dan melarang masuknya minuman keras.

Tak hanya itu, Perdana Menteri Perancis Manuel Valls, Selasa (14/6) menegaskan, beberapa pendukung sepak bola akan dideportasi dari Perancis setelah insiden tersebut. "Beberapa pendukung akan dideportasi, tidak dapat tinggal di wilayah Perancis," katanya.

Atas peristiwa kericuhan antarfans tersebut, UEFA mengancam akan mendiskualifikasi kepersertaan Tim Nasional (Timnas) Inggris dan Rusia pada Euro 2016 apabila kejadian serupa terjadi kembali. Selain itu, Inggris dan Rusia terancam pengurangan poin untuk melaju ke babak selanjutnya, apabila terbukti adanya kesengajaan atau pembiaran oleh pihak otoritas sepakbola masing-masing atas tingkah polah para suporternya.

Tetapi, dampak lain akan lebih dirasakan oleh Rusia. Sebab, atas kejadian tersebut, bisa jadi penetapan Rusia sebagai tuan rumah Piala Dunia 2018, dibatalkan karena alasan keamanan.

Sebelumnya, kedudukan Rusia sebagai tuan rumah sempat terancam setelah diketahui adanya upaya penyuapan untuk memenangi penunjukkan FIFA sebagai tuan rumah Piala Dunia 2018.

Karenanya, insiden di Marseille, kemungkinan besar bisa menganulir Rusia sebagai tuan rumah laga sepakbola terbesar di dunia. Karena, untuk menjadi tuan rumah, salah satu syarat yang harus dijamin suatu negara adalah memastikan jaminan keamanan untuk para peserta dan suporter pendukung Timnas negara-negara yang berpartisipasi di Piala Dunia.

Jika melihat hooliganisme di Rusia, para fans sepakbola Rusia memang kerap terlibat dalam aksi kekerasan dan rasisme yang disuguhkan di tribun penonton maupun di luar stadion. Beberapa nama beken sepakbola dunia pun pernah menjadi korban para Ultras tersebut.

Misalnya, Roberto Carlos, pesepakbola Brazil yang merasakan kerasnya atmosfir fanatisme sepakbola di Rusia. Dia pernah dilempari pisang oleh para Ultras ketika dirinya membela klub Anzhi Makhachkala pada tahun 2011 hingga 2012. Pelemparan pisang itu merupakan sebuah simbol yang menyamakan Carlos dengan seekor kera.

Legenda sepakbola Brazil itu menerima perilaku itu dalam beberapa pertandingan. Kali pertama Carlos menerima perlakuan menjijikan itu ketika Anzhi Makhachkala melawan Zenit Saint Petersburg pada bulan Maret 2011. Kala itu, Carlos mendapat ejekan dari Ultras Zenit dengan memberikan pisang setengah dikupas padanya.

Kejadian kedua ialah Anzhi bertandang ke markas Krylia Sovetov Samara pada Juni 2011. Pada aksi kedua itu, Carlos dilempari pisang ke tengah lapangan ketika dia tengah menggiring bola.

Pesepakbola lainnya yang menjadi korban rasisme para Ultras ialah Hulk. Pemain asal Brazil itu pernah mendapat ejekan suara kera saat membela klub Rusia, Zenit Saint Petersburg. Sama seperti Carlos, Hulk mengalami beberapa kali celaan rasisme.

Pada September 2014, pemain berusia 29 tahun itu mendapat ejekan suara kera dari Ultras klub Spartak Moscow. Lalu, celaan itu kembali harus berkumandang ketika Hulk melawan Torpedo Moscow pada Maret 2015. Kala itu, celaan itu dibalas Hulk dengan mencetak gol balasan sehingga pertandingan berakhir seri 1-1.

Perlakuan rasisme para Ultras Rusia dirasakan pula oleh pemain Manchester City, Yaya Toure. Perlakuan itu dirasakannya kala City melawan CSKA Moscow dalam perhelatan Liga Champions Eropa tahun 2013. Atas perlakuan Ultras-nya, CSKA Moscow mendapat hukuman dari UEFA dengan melarang para Ultras-nya untuk datang pada laga lanjutan di Piala Champions Eropa.

Tindakan rasisme itu begitu melekat pada citraan Ultras Rusia. Tak hanya mendengungkan celaan rasis, mereka juga sering mengibarkan bendera berlambang Nazi di tribun penonton. Hal itu kerap memancing UEFA untuk bertindak tegas atas tindakan liar para Ultras.

Para Ultras itu tak selamanya akur satu dengan lainnya. Mereka sering terlibat baku hantam dengan Ultras dari klub lain di Liga Premier Rusia. Pada 2014, terjadi baku hantam antara Ultras Spartak Moscow dengan Dynamo Kiev. Pergelutan keduanya terjadi di luar lapangan.

Teguran dan hukuman dari UEFA, ternyata tak membuat kelakuan para Ultras Rusia itu berubah. Terjadinya insiden pada Euro 2016 menjadi bukti jika kelakuan brutal mereka sudah pada taraf membahayakan.

Kelakuan brutal suporter Rusia di Euro itu mendapat perhatian Menteri Olahraga Rusia, Vitaly Mutko. Politikus berusia 57 tahun itu menilai tindakan suporter Rusia itu sungguh memalukan bagi Rusia. Mutko setuju dengan tindakan UEFA yang akan memberikan sanksi tegas pada Rusia atas peristiwa tersebut.

“Ini (insiden fans Rusia melawan fans Inggris) sudah jelas. Sebagian dari mereka datang bukan untuk menyaksikan pertandingan. Karena, mereka (yang disinyalir sebagai provokator) menutup wajah mereka (ketika menyerang) dan tindakan itu membuat kami malu,” geramnya.

Meski begitu, suporter Rusia tidak sepenuhnya disudutkan. Artur Petrosyan, wartawan olahraga dari Rusia yang hadir pada kejadian itu, menilai, kerusuhan itu tidak murni salah para Ultras Rusia. Berdasarkan kesaksiannya, kericuhan itu dipicu oleh tindakan provokasi dari salah seorang suporter Inggris yang tengah mabuk.

Menurutnya, kelakuan suporter Inggris yang tengah mabuk itu memancing kemarahan para Ultras. Mereka mencaci Maria Sharapova, atas kasus dopingnya, dan Vladimir Putin, Presiden Rusia. Cacian itulah yang kemudian memancing kemarahan para Ultras. Oleh sebab itu, Inggris juga harus juga dikenakan sanksi atas ketidakmampuannya mengatur suporternya.

“Ya, kami memang memiliki masalah (mengenai perilaku suporter Rusia), tapi itu bukan menjadi satu-satunya alasan. Itu tidak bisa menjadi alasan utama UEFA menjatuhkan sanksi pada Rusia namun tidak pada Inggris,” ujar Petrosyan.

Apapun alasannya, UEFA mesti memberikan sanksi kepada negara yang terbukti tidak bisa mengatur suporternya. Karena, tindakan kekerasan dalam suatu pertandingan sepakbola mencederai sportivitas dalam suatu turnamen.

UEFA perlu melakukan kajian mendalam dan mencari dalang sebenarnya kericuhan tersebut. Sanksi tegas diperlukan untuk mendisiplinkan oknum-oknum yang telah mencoreng keindahan Euro 2016. Bila perlu, larangan bermain secara internasional bisa diberikan kepada negara yang terbukti merusak jalannya pertandingan.

Sepakbola sejatinya adalah olah raga sejuta umat dan mengglobal. Keindahan persaingan para pemainnya harus dijaga dengan sportivitas tinggi. Dengan begitu, laga sepakbola dapat dinikmati. Karenanya, tak ada toleransi untuk tindakan kekerasan, rasisme, dan vandalisme dalam sepakbola.

Muhammad Khairil

Editor : M. Yamin Panca Setia | Sumber : The Guardian/BBC/The Independent/Fox Sports/RT/Daily Star/Reuters
 
Lingkungan
27 Sep 21, 12:15 WIB | Dilihat : 313
Selamatkan Kebun Raya Bogor
10 Sep 21, 14:55 WIB | Dilihat : 169
Ida Mengamuk Sejumlah Kota Amerika Serikat Berantakan
01 Agt 21, 09:31 WIB | Dilihat : 166
Membaca Sinyal Presiden Joe Biden tentang Jakarta
Selanjutnya
Budaya
07 Okt 21, 09:26 WIB | Dilihat : 221
Cindai Kebangsaan yang Koyak dan Lusuh
05 Okt 21, 15:01 WIB | Dilihat : 210
Mengingat Siti Quburi di Tengah Arus Deformasi
30 Sep 21, 11:10 WIB | Dilihat : 166
Alih Rupa Sejarah
15 Sep 21, 11:09 WIB | Dilihat : 244
Prespektif Transformasi Budaya Betawi dari Setu Babakan
Selanjutnya