Portugal Juara EURO 2016

Les Bleus Menunda Pesta

| dilihat 2184

PARIS, AKARPADINEWS.COM | "Kami ingin mengangkat trofi (Piala EURO 2016) itu. Kemenangan yang utama." Begitu kata Antoine Griezmann, penyerang Tim Nasional (Timnas) Prancis jelang laga final EURO 2016 melawan Timnas Portugal.

Griezmann dan rekan-rekannya tentu tak ingin mengecewakan publik Prancis yang tak sabar tim kesayangannya mengulangi sukses yang pernah ditorehkan di era sebelumnya.

Tropi EURO 2016 juga menjadi kado indah bagi publik Prancis usai negaranya dihantam serangan teroris November tahun lalu yang menewaskan ratusan orang. "Rakyat Prancis butuh tempat pelarian. Turnamen ini telah membuat kami kuat dalam kebersamaan," kata kapten Timnas Prancis, Hugo Lloris.

Presiden Prancis Francois Hollande juga menyakini, kemenangan di EURO 2016, akan meningkatkan moral rakyatnya. Sebelumnya, eforia sudah terlihat sejak Prancis menaklukan Jerman di babak semifinal dengan skor 2:0. Sampai-sampai, harian olahraga L'Equipe menggambarkan kemenangan Timnas Prancis atas juara Piala Dunia (World Cup) 2014 itu dengan judul berita L'Extase (The Ecstasy) setelah menggunakan judul berita L'Horreur (The Horror) pada 14 November usai serangkaian bom teroris menghantam Paris.

Sebagai tuan rumah, sejak pembukaan pesta sepakbola se-benua biru tahun 2016, dukungan para suporter Les Bleus sangat luar biasa. Mereka juga senantiasa membakar semangat tim kesayangannya setiap kali berlaga. Si ayam jago benar-benar diharapkan menunjukan jalunya, memukul lawan-lawannya, menjadi jawara di ajang sepakbola Eropa.

Namun, Senin (11/7) dini hari tadi, fans Timnas Prancis berduka. Tim kesayangannya gagal memberikan kado indah untuk memupus ketakutan yang sempat menghantui setelah mereka dihantui serangan teror yang terjadi November tahun lalu.

Si ayam jago yang dijagokan, justru keok oleh Portugal dengan skor tipis 0:1. Satu-satunya gol yang dilesakkan penyerang Portugal, Eder, di menit 107, membuyar asa fans Timnas Prancis yang bersiap-siap berpesta. Gol cepat di luar kotak penalti yang tanpa diduga-duga oleh barisan pertahanan Prancis itu membuat sedih suporter Les Bleus yang memadati Stade de France Saint-Denis, Paris.

Sejak gawangnya kebobolan itu, Prancis seperti bangun dari tidur. Mengubah permainan dengan tempo yang lebih cepat--setelah sebelumnya memilih strategi bertahan dan bermain rada hati-hati. Namun, tekanan Prancis yang menghujam ke pertahanan Portugal, tak mampu menjebol gawang yang dijaga Rui Patricio. Antoine Griezmann dan kawan-kawan pun terlihat lemas.

Griezmann yang sebelumnya dipuja-puji lantaran membawa Perancis ke surga berkat dua gol yang dilesakkannya ke gawang Jerman, memperlihatkan wajah dengan tatapan yang kosong. Beberapa pemain Timnas Perancis lainnya tertunduk lemas dan memperlihatkan wajah sedihnya.

Kekalahan tipis dari Portugal memang tak dinyana. Awalnya, Prancis diperkirakan bakal memboyong Tropi UERO 2016 setelah di laga semifinal menghajar juara Piala Dunia 2014, Jerman. Namun, di laga puncak, Prancis miskin strategi dan akselerasi dalam permainan. Meski mendominasi dalam penguasaan bola, Prancis sulit melakukan penetrasi ke jantung pertahanan Portugal yang dikomandoi Pepe.

Perancis pun tak mampu memanfaatkan kesempatan saat penyerang Portugal, Cristiano Ronaldo, dipapah ke luar lapangan lantaran cedera. Sejak laga baru berlangsung tujuh menit, Ronaldo sudah terlihat kesakitan. Memasuki menit ke-24, mega bintang Real Madrid itu tak mampu menahan cenderanya. Dia lalu melepaskan ban kapten yang disandangnya ke Nani. Beberapa pemain dan suporter Portugal terlihat khawatir dengan kondisi tim tanpa Ronaldo.

Maklum, Ronaldo adalah ikon tim Selecao. Dia adalah motivator rekan-rekannya. Karenanya, meski tidak bermain, Ronaldo terlihat memotivasi kawan-kawannya. Dia layaknya asisten pelatih, Fernandos Santos. Sampai-sampai, Santos sempat memintanya menjauh darinya.

Di laga puncak dengan wasit Mark Clantenberg asal Inggris itu, baik Prancis maupun Portugal, melakoni strategi permainan bertahan. Permainan kedua tim sangat monoton. Beberapa pemain lebih mengandalkan cara-cara spekulasi dalam upaya mencetak gol.

Namun, di menit-menit awal pertandingan dimulai, sempat terjadi beberapa kemelut. Nani yang melakoni peran sebagai penyerang sayap kanan, nyaris mencetak gol di menit keempat, setelah menerima operan jarak jauh dari rekannya. Sayang, tendangan bekas pemain Manchester United (MU) itu jauh di atas mistar gawang yang dijaga Lloris.

Tak lama berselang, giliran Griezmann yang melancarkan manuver. Sayang, sundulannya di Menit kesembilan, mampu ditepis Patricio. Penjaga gawang Sporting Lisbon itu pantas mendapatkan apresiasi lebih. Pasalnya, dia menunjukan kualitasnya mengamankan segala serangan yang dilancarkan Perancis ke gawangnya. Dia beberapa kali melakukan upaya penyelamatan dan cakap memprediksi arah bola. 

Memasuki menit 19, Perancis dan Portugal masih mempertahankan ritme permainan lambatnya. Perancis juga lebih mengandalkan tembakan spekulasi. Perancis nyaris mencetak gol lewat tembakan dari luar kotak penalti yang dilesakkan Moussa Sissoko. Namun, Patricio laksana tembok yang sulit ditembus. Sissoko juga sempat mengancam gawang Portugal setelah menerima operan dari Dimitri Payet. Sementara Portugal sesekali bermain cepat, meski penetrasi yang dilancarkan tidak membahayakan gawang Prancis. Tidak terlihat ada serangan Portugal yang mencapai target. Hingga babak pertama berakhir, permaian yang disuguhkan kedua tim masih sangat monoton.  

Di babak kedua, Deschamps rupanya tak mengubah strategi permainan. Skuadnya masih saja bermain hati-hati. Digantikannya Payet oleh Kingsley Coman, nyatanya tak membuat daya gedor Prancis meningkat. Olivier Giroud yang dipercaya menjadi ujung tombak, nyaris tak menunjukan kegarangannya. Pasalnya, dia sendiri sangat minim mendapatkan umpan-umpan matang dari rekan-rekannya.

Di menit 65, operan Coman, sempat disambut sundulan oleh Griezmann. Namun, lagi-lagi, Patricio begitu handal mengamankan gawangnya.

Digantikannya Giroud oleh Gignac memang sempat meningkatkan daya gedor Prancis. Namun, tidak begitu kuat. Selain karena jelinya Patricio membaca arah bola, Portugal juga diselamatkan tiang gawangnya.

Kekalahan di laga puncak itu mempermalukan Timnas Prancis. Pupus sudah harapannya meraih titel juara pertama yang sudah di depan mata sejak Piala Eropa tahun 2000 lalu. Kala itu, Prancis tampil sebagai juara setelah mengalahkan Italia di final.

Sebelumnya, di laga semi final, Prancis menghantam Jerman dengan skor 2:0. Griezmann menjadi pahlawan Les Blues. Media menyebut Griezmann telah mengirim negaranya ke surga lantaran dua golnya menjadikan jawara Piala Dunia 2014 di Brasil itu pulang kampung.

Griezmann, sang eksekutor tak menyia-nyiakan penalti di akhir babak pertama setelah bola menyentuh tangan kapten Timnas Jerman, Bastian Schweinsteiger. Gol berikutnya lewat sentuhan kaki Griezmann yang memanfaatkan bola yang ditinju kiper Jerman, Manuel Neuer. Jala gawang Jerman bergetar untuk kali kedua di menit 72.

Jerman sempat mendominasi pertandingan. Namun, Tim Panser tak mampu menembus pertahanan Prancis. Penyelesaian akhir yang dilakukan Jerman kerap antiklimaks. Jerman sebenarnya mampu bermain dengan tenang dan mengambil kontrol. Namun, dewi portuna tidak memihaknya. Peluang yang bisa dimanfaatkan Jerman sedikit. Beberapa peluang yang dieksekusi berhasil diantisipasi. Lloris mampu dengan mudah mengamankan gawangnya dari setiap ancaman Emre Can, Thomas Mueller, dan Schweinsteiger.

Sebaliknya, Prancis begitu tajam melancarkan serangan menjelang akhir pertandingan babak pertama. Petaka menimpa Jerman tatkala tangan Schweinsteiger menyentuh bola yang ditendang Patrice Evra dari sudut lapangan.
Wasit asal Italia, Nicola Rizzoli lalu menjatuhi hukuman penalti kepada Jerman. Dan, Griezmann dengan tenang mengarahkan bola ke arah yang tidak terbaca Neuer dari titik penalti.

Prancis pun mengambil keuntungan ketika Neuer mengepakkan bola yang datang dari Paul Pogba, yang bola itu kemudian mengarah ke Griezmann. Dengan cepat, penyerangan Atletico Madrid itu menyambarnya. Hingga akhirnya, bola menembus gawang Neuer.

Kemenangan atas Jerman itu disambut eforia. Wajar, karena kemenangan itu kali pertama bagi Prancis atas Jerman, sejak Piala Dunia 1958, termasuk kekalahan di semifinal Piala Dunia 1982 dan 1986 serta perempat final di Piala Dunia 2014.

Kekalahan atas Portugal membuyarkan mimpi Prancis untuk mengulang kesuksesan seperti yang pernah ditorehkan generasi emas di era 1950-an, 1980-an, dan 1990-an, dan tahun 2000-an. Prancis adalah salah satu dari empat tim Eropa yang berpartisipasi dalam Piala Dunia pertama yang digelar tahun 1930. Meski enam kali dieliminasi dalam tahap kualifikasi, Prancis merupakan salah satu dari tiga negara yang selalu berpartisipasi dalam Piala Dunia.

Pada tahun 1958, Prancis dipimpin Raymond Kopa dan Just Fontaine, menempati posisi ketiga. Pada tahun 1984, Prancis yang dipimpin peraih Ballon d'Or, Michel Platini, memenangkan Euro 1984. Sebagai tuan rumah, Prancis kala itu mengalahkan Spanyol di partai puncak. Kemenangan itu tidak terlepas kualitas empat pemainnya yaitu Michel Platini, Giresse, Tigana dan Luis Fernandez. Prancis pun mendapatkan julukan "Tim Samba Eropa" dan penghargaan carre magique (magic square), yang berlabuh ke Platini. Prancis kala itu tampil memukau dengan gaya ofensif, yang sangat mirip dengan permainan Brasil.

Di bawah kepemimpinan Didier Deschamps dan pemain terbaik dunia, Zinedine Zidane, Prancis memenangkan Piala Dunia di tahun 1998 dan meraih tropi EURO 2000. Sebagai tuan rumah Piala Dunia 1998, Prancis mengalahkan Brasil 3-0 di babak final yang digelar di Stade de France di Paris. Sementara di Euro 2000, Prancis mengalahkan Italia 2-1 di final. David Trezeguet mencetak gol emas di perpanjangan waktu. Dua gelar bergengsi yang diraih itu, menempatkan menempatkan Prancis di posisi nomor satu Peringkat Dunia FIFA. Tak hanya itu, Prancis juga meraih Piala Konfederasi di tahun 2001 dan 2003, dan mencapai final Piala Dunia 2006. Namun, kalah 5-3 lewat adu penalti melawan Italia.

Sementara bagi Portugal, kemenangan atas Prancis di EURO 2016 menjadi catatan sejarah. Kemenangan itu mengakhiri kutukan yang dialaminya. Portugal selalu gagal di berbagai laga turnamen sepakbola internasional, kecuali tampil di final pada Piala Eropa 2004 ketika menjadi tuan rumah. Di laga itu, Portugal gagal meraih tropi setelah dikalahkan 0-1 oleh Yunani. Sementara di Piala Dunia 2006, Portugal dikalahkan tuan rumah Jerman di semifinal.

Di ajang EURO 2016, bisa dikatakan, faktor keberuntungan sangat menentukan perjalanan Portugal. Karena, dari empat kali berlaga, Portugal hanya sekali menang mengalahkan Wales di semifinal dan tiga kali seri. Portugal yang tidak mampu mengalahkan Islandia dan Austria, sempat menempatkannya dalam zona membahayakan di Grup F. Dari sisi permainan,

Permainan Portugal tidak berkembang lantaran Fernando Santos amat bergantung pada Ronaldo yang diharapkan dapat menembus pertahanan lawan. Ronaldo dipaksakan sebagai penyerang, sekaligus playmaker.

Saat melawan Islandia, Ronaldo berjibaku sendiri untuk mengatur serangan demi serangan. Dia harus turun ke belakang mengambil bola dan menggiringnya hingga ke depan. Tentu saja itu bukan kebiasaannya seperti saat berlaga bersama Madrid. Gol semata wayang yang dilesakkan Nani pun berasal dari permainan Ronaldo sebagai pengatur serangan.

Bila dilihat dari statistik pertandingan melawan Islandia, Portugal berhasil menguasai penguasaan bola dengan baik. Portugal mendominasi penguasaan bola hingga mencapai 72,3 persen sepanjang pertandingan. Selain itu, Portugal berhasil menembakkan bola sebanyak 26 tendangan ke arah gawang. Sayangnya, hanya sembilan tendangan yang berhasil mengusik penjaga gawang Hannes Thor Halldorsson. 

Belajar dari kesalahan kala melawan Islandia, Portugal pun mengubah permainannya kala melawan Austria. Pada laga 19 Juni lalu, Santos membuat timnya tidak terlalu bergantung pada Ronaldo. Masing-masing pemain sudah mulai memerankan perannya dengan sangat baik.

Joao Moutinho mengambil peran sebagai pengatur serangan sekaligus pertahanan tengah. Tak jarang, Moutinho melesakkan tendangan spekulasi keras ke arah gawang. Hanya saja, tendangan itu tak mampu membuahkan gol. Selain itu, kawalan ketat terhadap Nani dan Ronaldo membuat penyerangan sering tumpul di depan gawang.

Pada laga itu, Ronaldo menunjukkan ancamannya terhadap Austria. Dia berhasil menekan pertahanan lawan dengan serangan dari berbagai penjuru. Sayangnya, dari berbagai serangan itu, pemain yang telah berlaga untuk Portugal sebanyak 129 laga itu tak berhasil mencetak satu angka pun.

Pada babak kedua, Portugal mendapat hadiah penalti setelah Ronaldo dilanggar Martin Hinteregger di dalam kotak pinalti. Sayangnya, CR7 gagal memaksimalkan kesempatan itu. Tendangannya mengenai tiang kiri gawang.

Terkait prestasi di EURO 2016, Ronaldo tak mampu menyembunyikan harunya. "Ini merupakan sesuatu yang sudah lama saya inginkan sejak 2004 (kekalahan pada final). Saya meminta kepada Tuhan untuk diberikan kesempatan lain," katanya setelah pertandingan di Stade de France, Paris, seperti dilansir laman UEFA, Senin. "Ini merupakan salah satu momen paling bahagia di karir saya," imbuhnya seraya mengapresiasi rekan-rekan setimnya, pelatih dan seluruh tim Euro 2016, serta masyarakat Portugal. "Ini momen unik bagi saya, untuk semua warga Portugal dan ini tidak akan terlupakan," ucapnya.

M. Yamin Panca Setia

Editor : M. Yamin Panca Setia | Sumber : Reuters/BBC/UEFA
 
Energi & Tambang
29 Mar 21, 20:15 WIB | Dilihat : 359
Pertamina Jamin Pasokan BBM Aman
28 Jan 20, 13:31 WIB | Dilihat : 1205
Komitmen Budaya pada Reklamasi Pertambangan
22 Okt 19, 12:46 WIB | Dilihat : 1458
Sinergi PHM dengan Elnusa Garap Jasa Cementing di Rawa
Selanjutnya
Humaniora
13 Okt 21, 09:25 WIB | Dilihat : 136
Pendekar Mabuk di Tengah Coronastrope
05 Okt 21, 16:00 WIB | Dilihat : 266
Penista Nabi Muhammad Mati Dilahap Truk
03 Sep 21, 12:31 WIB | Dilihat : 210
Membaca Tantangan Abad 21 dan Hegemoni Pendidikan Global
20 Agt 21, 09:28 WIB | Dilihat : 574
Politik Kematian Simbol Kediktatoran
Selanjutnya