
AKARPADINEWS.COM | KOMIK tidak asing bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Beragam judul komik telah merambah ke masyarakat. Tak hanya yang berasal dari luar negeri, penikmat komik Indonesia juga menikmati komik dalam negeri. Komik-komik lokal Indonesia di antaranya Kisah Pendudukan Jogja yang dikarang Abdulsalam, Si Buta Dari Gua Hantu oleh Ganes TH, serial Mahabarata RA Kosasih, Gundaala Putra Petir karangan Hasmi, Godam karya Wid NS, dan sebagainya.
Komik Indonesia sempat mengalami masa kejayaan sekitar tahun 1980-an hingga 1990-an. Dengan mudah dapat ditemukan komik karya anak bangsa di berbagai toko buku dan pengecer pinggir jalan. Namun, sama halnya dengan produk kreatif di era itu, komik Indonesia pun sempat tenggelam.
Pesatnya penetrasi komik impor merupakan salah satu penyebab redupnya komik lokal. Beragam cerita atraktif yang disajikan komik impor, mampu menggiring anak-anak dan remaja, meninggalkan komik karya komikus dalam negeri. Rak-rak buku di toko buku disesaki oleh komik impor yang rata-rata berasal dari Jepang.
Meski demikian, geliat komik Indonesia tidak mati begitu saja. Komik Indonesia akhirnya tumbuh berkembang. Bukan karena penerbit-penerbit konvensional, melainkan aksi independen atau sering disebut dengan gerakan indie. Melalui jalur komik indie, komikus Indonesia semakin menampakkan diri dengan beragam tema komik yang diangkatnya.
Komik yang berkembang melalui jalur indie memberikan sensasi baru. Menyuguhkan beragam tema unik dan berkarakter. Ada yang menyuguhkan tema-tema kritik atas situasi sosial maupun sekadar cerita humor. Salah satu komik yang cukup unik dan jenaka ialah komik Arif & Imam.
Komik itu secara sederhana mengisahkan hubungan dua tokoh, yakni Arif, seekor ikan hiu, dan Imam, gorila albino. Komik ini memiliki keunikan dalam penceritaan dan gaya humornya. Keunikannya itu tak hanya banyak dinikmati pembaca komik di Indonesia. Namun, berhasil menarik minat penikmat komik di Belanda. Karenanya, dialihbahasakan ke bahasa Belanda.
Komik Arif & Imam merupakan karya dua orang komikus, yaikni Azam Raharjo dan Kasogi Widho P. Komik tersebut dapat dibaca secara daring melalui laman Facebook Arif & Imam dan blognya. Komik tersebut, Kasogi mengatakan, dibuat pertama kali oleh dirinya dan Azam pada awal tahun 2015. “Kami membuat komik ini (Arif & Imam) pada awal tahun 2015 dengan konsep mengangkat cerita dari kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Tampilan komik yang hanya menggunakan empat panel, Kasogi menjelaskan, sedikit terpengaruh dari beberapa jenis komik dari Jepang. “Kami menggambarnya dengan empat panel karena saya dan Azam menyukai komik empat panel, seperti Kariagekun dan Kobochan, sehingga kami terpikirkan untuk membuat komik seperti itu,” jelas pria kelahiran 16 Agustus 1988 tersebut.
Soal tema cerita yang diangkat dalam komik, Azam menjelaskan, mengambil dari kehidupan sehari-hari dengan pendekatan humor eskapisme. “Kami membuatnya (tema komik) dari kehidupan sehari-hari, namun humornya tidak dibuat sebagai humor yang sekedar humor meledak saja,” ujarnya. Ide cerita juga mengalir, dengan melihat berita dan kalender.

Ide maupun tema cerita juga kadang datang secara spontan. “Misalnya, ketika kami sedang makan atau bertemu teman ada kejadian yang menurut kami lucu bisa langsung kami jadikan ide cerita,” kata Kasogi. Ide-ide spontan itu, dikumpulkan, lalu disusun untuk kemudian digarap dan dijadwalkan. “Ada pula ide yang muncul secara momentum sehingga kami harus segera menuangkannya,” papar Azam, pria kelahiran Yogyakarta tersebut.
Sementara pemilihan nama untuk tokohnya, Azam dan Kasogi memilih nama yang mudah diingat. “Tanpa membuatnya asing dan atau klise, oleh karena itu dipilihlah nama Arif dan Imam,” ungkap Azamya. Selain itu, perihal wujud tokoh yang tak lazim yang dipilih seperti hiu dan gorila albino, Azam menjelaskan, awalnya tujuannya untuk sekedar berbeda dari yang lain. “Kami desain beberapa karakter. Akhirnya, pilihan jatuh pada hiu dan gorila albino. Soal gorila albino itu terkait dengan lelucon internal kami,” paparnya.
Soal pemilihan wujud karakter, mereka memilih wujud binatang sehingga lebih ikonik daripada wujud manusia. “Kalau karakternya berasal dari manusia mungkin sudah banyak yang buat,” ujar Kasogi.
Komik Arif & Imam menarik untuk dibaca karena banyaknya humor-humor yang menggelitik. Namun, ada kalanya, humor tersebut terselip kritik terhadap realitas sosial. Arif & Imam misalnya, memang bukan komik kritik. "Namun, beberapa kontennya ada yang berisikan kritik sosial,” terang Azam, alumni Sastra Jepang, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada tersebut.
Untuk menelurkan Arif & Imam, Azam dan Kasogi tidak menempuh jalur penerbitan konvensional. Mereka lebih fokus menayangkan komiknya secara digital di internet. Dengan begitu, Azam menjelaskan, komiknya akan mudah tersebar luaskan. “Untuk saat ini, Arif & Imam fokus pada webcomic,” katanya.
Bila nanti dicetak dalam bentuk fisik, Azam menegaskan, tetap dicetak melalui jalur indie. Karena, akan lebih mempermudah akses bagi komik mereka dan lebih leluasa menerbitkan dalam jumlah yang mereka perlukan. “Selain itu, kami lebih bebas tanpa harus berkompromi dengan penerbit. Bukan berarti kompromi dengan penerbit atau editor itu hal buruk, hanya saja kebutuhan saat ini lebih terpenuhi melalui jalur indie,” jelasnya.
Kasogi menilai, perkembangan komik indie kini sangat pesat, meskipun lebih didomoniasi tema komedi. Dia juga memperkirakan, beberapa tahun ini, komik dari jalur indie semakin bertambah, yang menunjukkan komik Indonesia mulai memiliki pasarnya tersendiri.
Bermunculan komik-komik indie diharapkan memacu pertumbuhan komik Indonesia secara keseluruhan. Azam berpendapat, sepanjang tiga atau empat tahun terakhir, komik Indonesia semakin bangkit. “Terutama komik strip,” katanya.
Kasogi mengakui, bangkitnya komik Indonesia tidak terlepas andil dari komik-komik yang diterbitkan secara konvensional. Hanya saja, yang lebih memiliki andil besar ialah komik-komik indie. “Komik indie perkembangannya lebih pesat dari konvensional,” ungkapnya. Azam dan Kasogi tidak menutup kemungkinan nantinya menjajaki dunia penerbitan komik konvensional. Keduanya berharap, komik-komik Indonesia dapat terus berkembang, baik konvensional maupun indie sehingga dapat bersaing di pasar internasional.
Azam dan Kasogi merupakan di antara sekian banyak komikus indie yang memiliki ide kreatif dan imajinatif. Bukan tidak mungkin, komikus indie akan terus membesar seiring meningkatnya minat masyarakat menikmati komik. Akan lebih baik, jika kreatifitas dan kemampuan imajinatif mereka didukung oleh pemerintah.
Dengan mengapresiasi komik buatan anak bangsa, sama saja mendukung peradaban Indonesia untuk terus berkembang. Jangan sampai, ke depannya, profesi komikus hanya dinilai sebagai profesi kacangan yang tidak memberikan masa depan cerah. Mereka juga harus diapresiasi karena menjadi pencipta produk kreatif yang tentu diharapkan mencerdaskan pembacanya.
Muhammad Khairil