Agustian Ubahsuai Salah Asuhan untuk Lakon Teater Afdeling B

| dilihat 460

“Bij God, bij Zijn Profeet, ik zal aan niemand iets vertellen over de inwendige aangelegenheden van de afdeeling B zelfs niet aan S.I. leden”

( Demi Allah dan Rasul-Nya, Aku tak akan memberitahu siapa pun,  apa pun tentang urusan Afdeeling B, sekalipun kepada anggota S.I ).”

Dokter Abdoel Moeis tak hanya dikenal sebagai seorang dokter dan aktivis pergerakan perjuangan rakyat, salah seorang pimpinan Sarekat Islam (kini Syarikat Islam) yang sangat keras menghadapi gerakan komunis yang menyusup ke dalam organisasi Islam berdimensi kebangsaan pimpinan HOS Tjokroaminoto.

Pada masanya, pengaruh Abdoel Moeis sangat besar. Pidato-pidatonya mempunyai daya menggerakkan massa rakyat di berbagai daerah. Cerita yang mengemuka, antara lain, setiap kali Abdoel Moeis berkunjung ke suatu daerah, beberapa waktu sesudah kepergiannya dari daerah tersebut, selalu ada gerakan aksi perlawanan rakyat.

Pemerintah Hindia Belanda, akhirnya memblokir seluruh aktivitasnya. Tapi, Abdoel Moeis tak berdiam diri. Dia alih profesi dan aktivitas menjadi seorang sastrawan. Salah satu karyanya adalah roman Salah Asuhan, yang diterbitkan Balai Pustaka, dan pernah diangkat menjadi sinetron oleh TVRI.

Novel roman Salah Asuhan berkisah tentang seorang pemuda bernama Hanafi yang lebih menyukai budaya Eropa, ketimbang mengakrabi petuah ninik mamak dalam tradisi budaya Minang tempat Hanafi dilahirkan. Hanafi lebih memilih Corrie du bussee, wanita berkebangsaan Prancis, katimbang Rapiah, perempuan pilihan ibunya, walau sempat dinikahi dan dikarunia seorang anak lelaki bernama Syafei, Hanafi kerap memperlakukan Rapiah  sebagaimana halnya memandang kaum rendahan, mereka termasuk ibunya Hanafi dicampakan begitu saja sampai Hanafi memilih pergi dan berganti kebangsaan.

Sutradara teater Agustian yang beberapa waktu terakhir mementaskan salah satu karyanya (Distraksi) di Jakarta, terpikat dengan novel tersebut. Agus mengambil perspektif lain, Afdeling B. Agus yang juga penggiat atau relawan aksi penanggulangan bencana alam ini, telah beberapa bulan terakhir melakukan riset dan menyiapkan produksi.

Rasa Kebatinan

Afdeling B sebuah pertunjukan teater bergenre realis saduran dari Novel Salah Asuhan karya Abdoel Moeis bukan hanya menyajikan cerita post kolonialisme dengan konflik adat beserta eksistensial dari para tokoh didalamnya melainkan menyuguhkan sisi lain dari latar belakang si penulis (Abdoel Moeis) melalui rasa kebatinan perjalanan hidupnya dalam kancah pergerakan menuju bangsa merdeka, berdaulat di negerinya sendiri. Abdoel Moeis pun harus menerima hukuman passenstelsel dari pemerintah kolonial Hindia Belanda sebagai orang yang paling bertanggungjawab atas aksi pemogokan dan amuk massa di setiap daerah yang dikunjunginya, orang-orang eropa menjadi marah terutama pendukung anti politik etis, kini dia terkurung, terisolasi dan selalu diawasi karena sepak terjangnya dianggap berbahaya.

Kehidupan perkawinan Hanafi dan Corrie  begitu dramatik, pertengkaran dengan corrie pun tak bisa dielakan, Corrie memilih pergi meninggalkan Hanafi untuk keduakalinya dan mengabdi di tempat asrama yatim piatu, Corrie pun jatuh sakit dan meninggal dunia. Hanafi begitu terpukul dan akhirnya kembali ke kampung halaman. Namun di kampung halamannya Hanafi tidak dapat diterima oleh keluarga Rapiah begitu pun masyarakat minang yang masih memendam rasa luka atas penghinaan merendahkan tradisi budaya minang, adat bersendi syarak, syarak bersendi kitabullah.

Merasa tak memiliki harapan dan kehormatan, Hanafi putus asa dan memilih mengakhiri hidupnya dengan tragis.

Rentang Peristiwa

Rentang waktu tahun 1919 – 1923 jejak aktivitas politik Abdoel Moeis selalui diwarnai propaganda di setiap openbaar untuk melakukan perlawanan maupun pemogokan. Hal ini akibat atas kebijakan pemerintah Hindia Belanda menerapkan  kebijakan belasting (pajak) dan hereendiest (kerja paksa). Pemberontakan rakyat Salumpaga di Toli-Toli, Peristiwa Cimareme di Garut, pemogokan buruh pegadaian di Yogyakarta dan peristiwa di daerah lainnya buntut dari aksi protes atas kebijakan pemerintah kolonial yang telah membawa penderitaan rakyat.

Maka di mungkinkan perlu pengorganisasian aksi massa yang bersifat tertutup dan rahasia, Afdeling B namanya, sebagai biro khusus di luar struktur organisasi Sarekat Islam. Sosrokardano sebagai petinggi elit Central Sarekat Islam mengetahui dan mendukung gerakan biro rahasia ini, begitu pun Abdoel Moeis sepertinya tahu karena pola gerakannya tidak jauh berbeda terhadap apa yang ia lakukan.

Novel Salah Asuhan bisa jadi oleh Abdoel Moeis sebagai semiotik di masanya bukankah gerakan massa yang dipelopori Afdeling B menorehkan sejarah radikalisme tanpa kontrol dari induk organisasi utamanya (Sarekat Islam), bukankah Idenburg juga salah mengasuh Sarekat Islam menjadikannya  organisasi ini bertumbuh besar dengan jumlah pengikut 2,5 juta anggota, bukankah pemerintah kolonial juga salah mengasuh Abdoel Moeis menjadi anggota komite indie weerbaar namun Moeis adalah aktor bagian dari peristiwa rakyat melakukan perlawanan. Abdoel Moeis pun dicap pengkhianat oleh pemerintah yang berkuasa saat itu.

Titik Perjumpaan

Gerakan progresif perlawanan rakyat kala itu lebih banyak ditilik sebagai embrio dari gerakan kiri, penilaian itu didasarkan atas sikap Tjokroaminoto memimpin Sarekat Islam saat memainkan etik diplomasi dianggap lembek ketimbang gerakan progresif yang dibangun oleh Semaun dengan aksi-aksi pemogokan dan pembangkangan.

Afedeling B setidaknya bisa dijadikan potret bahwa kanan, kiri dan tengah bergerak bersama sebagai arus perjumpaan melawan kolonialisme, kalau toh pada akhirnya titik perjumpaan tidak mengekalkan selamanya untuk bersama tidaklah mengapa karena konteks masa itu penuh ketidakpastian. Dan ketidakpastian sesungguhnya adalah kepastian yang mesti diterima oleh akal budi.

Pertunjukan teater Afdeling B mengungkap sisi terang dan gelap peristiwa masa itu dengan plot cerita disadur dari sebuah novel yang dituliskan saat pemerintah memasang mata dan membatasi ruang gerak Abdoel Moeis.

Agus merencanakan, pergelaran akan berlangsung sekitar bulan November 2021. “Sejak penggarapan pra produksi dan produksi Afdeling B di masa pandemi, pilihan bulan nopember sebagai waktu pentas dapat terealisasikan secara luring,” ungkap Agustian | T. Agil

Editor : Web Administrator
 
Energi & Tambang
29 Mar 21, 20:15 WIB | Dilihat : 324
Pertamina Jamin Pasokan BBM Aman
28 Jan 20, 13:31 WIB | Dilihat : 1171
Komitmen Budaya pada Reklamasi Pertambangan
22 Okt 19, 12:46 WIB | Dilihat : 1424
Sinergi PHM dengan Elnusa Garap Jasa Cementing di Rawa
Selanjutnya
Sainstek
20 Nov 19, 13:05 WIB | Dilihat : 1900
Rumah Ilmuwan Bukan di Menara Gading
08 Nov 19, 23:07 WIB | Dilihat : 2269
Kebijakan Perikanan Belum Berbasis Sains yang Utuh
26 Agt 19, 10:46 WIB | Dilihat : 1417
Daya tarik Magnetis Monza SP2 Ferrari
Selanjutnya