Francesca Albanese pada Konferensi Darurat - Bogota

Waktunya Telah Tiba Bertindak untuk Keadilan

| dilihat 1082

Di Bogota, Kolombia suara itu semakin nyaring. Suara perempuan cerdas, pemberani dan tangkas, Francesca Albanese, Pelapor Khas PBB untuk wilayah Palestina. Dia berada di Bogota menghadiri suatu konferensi yang digagas pemerintah Kolombia dan Afrika Selatan, Selasa (15/7/2925).

Di forum Konferensi Darurat yang diikuti wakil-wakil 30 negara, itu Albanese menyerukan seluruh yang hadir, "Cukup! Cukup (bicara) impunitas!  Cukup retorika kosong! Cukup Eksepsionalisma! Waktunya telah tiba untuk bertindak demi keadilan dan perdamaian yang berlandaskan hak dan kebebasan bagi semua. Bukan sekadar hak istimewa bagi sebagian orang, dengan mengorbankan pemusnahan yang lain."

Ia mengatakan, "Dunia akan mengingat apa yang kita, negara dan individu, lakukan saat ini. Entah kita mundur ketakutan atau bangkit membela martabat manusia." Di Bogotá, ujarnya, semakin banyak negara memiliki kesempatan untuk memecah kesunyian dan kembali ke jalur legalitas dengan akhirnya berkata: Cukup.

Suara Albamese kian nyaring. Dia tak peduli sanksi yang diberikan Presiden AS Donald Trump dan pemerintah AS. (baca juga: Francesca Albanese Tak Peduli Sanksi AS)

 Ia mengapresiasi pada inisiator konferensi darurat tersebut yang disebutnya sebagai "perkembangan politik paling signifikan dalam 20 bulan terakhir." Ia menyebut,. peserta konferensi  adalah mereka yang berpendirian teguh.

"Semoga Anda terus berkembang dan dengan demikian kekuatan serta efektivitas tindakan yang nyata." ujarnya. Ia juga berterima kasih kepada para ahli, individu, dan organisasi Palestina yang datang ke Bogota dari Palestina yang diduduki.

Dari Palestina historis, atau dikenal sebagai Israel, dan istilah lain dari diaspora atau mereka yang di pengasingan untuk mendampingi proses ini, setelah memberikan pengarahan berasas bukti luar biasa kepada kelompok HEG ini.

Perempuan tangkas berkacamata yang tampil sederhana, ini memandang kehadiran dirinya sebagai suatu keharusan. "Sangat penting untuk hadir di sini saat ini sebagai bukti saya memang ada. Ada harapan bahwa dua hari ini akan menggerakkan semua yang hadir bekerja sama mengambil langkah konkret guna mengakhiri genosida di Gaza, dan menghentikan penghapusan warga Palestina di Palestina yang tersisa," ungkapnya haru.

Dikemukakannya, Palestina tempat uji coba bagi sistem kebebasan, hak, dan keadilan yang diwujudkan bagi semua. "Harapan yang dipegang teguh oleh orang-orang yang disiplin, disiplin yang seharusnya kita semua miliki," ujarnya.

Sesaat Albanese mengambil jeda, sekejap ia memandang Dr. Ahmed. "... tidak mudah untuk berbicara setelah Anda, Dr. Ahmed. Terlebih lagi karena saat ini sebagai orang Eropa, saya merasakan kesedihan yang mendalam di dalam diri saya, karena ketika Anda berbicara dan menceritakan apa yang terjadi.. harus saya saksikan terjadi hari demi hari selama 648 hari, Uni Eropa memutuskan untuk tidak menangguhkan hubungan dengan Israel." Air wajahnya berubah seketika. Nampak Albanese sangat kecewa dengan Uni Eropa dengan keputusannya.

Suara Albanese tersendat, lalu ia mengatakan, "Wilayah Palestina yang diduduki saat ini adalah neraka. Di Gaza, Israel telah membongkar, bahkan fungsi PBB yang terakhir, bantuan kemanusiaan untuk berunding.  "Membuat kelaparan, menggusur berulang kali, atau membunuh penduduk yang telah mereka tandai untuk dimusnahkan," lanjutnya.

Kekejaman Menggusur Rakyat Palestina

Di Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur, ungkap Albanese lagi, pembersihan etnis terus berlanjut melalui pengepungan yang melanggar hukum. Pemindahan massal, pembunuhan di luar hukum, penahanan (yang) sewenang-wenang, dan penyiksaan yang meluas.

Di seluruh wilayah yang berada di bawah kekuasaan Israel, lanjutnya, warga Palestina hidup di bawah teror, pengumuman yang disiarkan langsung ke seluruh dunia.

"Sangat sedikit orang Israel yang menentang genosida, pendudukan abadi, dan apartheid. Sedangkan mayoritas masyarakat Israel secara terbuka bersorak dan menyerukan lebih banyak lagi. Hal ini mengingatkan kita bahwa pembebasan Israel juga tak terpisahkan dari kebebasan Palestina," ungkapnya getir.

Peserta konferensi darurat terdiam beberapa saat, ketika Albanese mengungkapkan, kekejaman 21 bulan terakhir bukanlah sebuah peristiwa yang tiba-tiba. "Kekejaman tersebut merupakan puncak dari kebijakan puluhan tahun untuk menggusur dan menggantikan rakyat Palestina. Dengan latar belakang ini, mustahil forum-forum politik dari Brussel hingga New York masih memperdebatkan pengakuan negara Palestina," serunya, aksentuatif.

Masih terasa getir, ketika Albanese mengatakan, selama 35 tahun negara-negara tersebut telah mengulur waktu, menolak pengakuan, berpura-pura berinvestasi pada otoritas Palestina, sementara menyerahkan rakyat Palestina kepada Israel sebagai akibat dari ambisi teritorial Israel yang tak kenal ampun, rakus, dan dengan kejahatan tercela.

Di sisi lain, ungkapnya, wacana politik telah mereduksi Palestina menjadi krisis kemanusiaan yang harus dikelola selamanya, alih-alih menjadi isu politik yang menuntut resolusi yang berprinsip dan tegas serta pendudukan permanen, apartheid, dan kini genosida. "Bukan hukum yang gagal atau goyah. Melainkan kemauan politiklah yang telah lengser,.," tegasnya.

Dan hari ini, katanya, kita juga menyaksikan .. penderitaan Palestina yang luar biasa ditiadakan, untuk membuka kemungkinan transformasi. Meskipun hal ini belum sepenuhnya tercermin dalam agenda politik, namun, sebuah pergeseran revolusioner sedang berlangsung, yang bila berkelanjutan akan dikenang sebagai momen ketika sejarah mengubah arah.

"Inilah mengapa saya datang ke pertemuan ini dengan perasaan berada di titik balik sejarah, baik secara diskursif maupun politis," sambungnya.

Dengan pandangan mata sayu, Albanese mengemukakan dua hal. Pertama, narasi sedang bergeser di Brussels (Kantor pusat Uni Eropa). "Mereka mungkin tidak menyadari, atau mungkin juga sengaja tak menyadarinya,," cetusnya.

Ia mengungkapkan bagaimana Israel tak henti-hentinya membela diri dan mengarah pada hak Palestina untuk menentukan nasib sendiri yang telah lama diingkari, yang secara sistematis direduksi, ditekan, dan didelegitimasi selama beberapa dekade.

Sedih sebagai Orang Eropa

Penggunaan kata-kata dan narasi Palestina sebagai senjata anti-semitisme, serta penggunaan kerangka terorisme yang tidak manusiawi untuk setiap tindakan Palestina, mulai dari perlawanan bersenjata hingga upaya -- NO'S sebagai respon atas perang enam hari tahun 1967 -- dalam memperjuangkan keadilan di arena internasional, telah menyebabkan kelumpuhan politik global yang telah disengaja dan harus diatasi. "Sekaranglah saatnya... !!!"

Kedua, Albanese mengingatkan, sebagai konsekuensinya, kita menyaksikan kebangkitan multilateralisme baru, yang berprinsip, berani, dan semakin dipimpin oleh mayoritas global. Ia ungkapkan, dirinya senang karena banyak wakil negara yang hadir dalam konferensi darurat tersebut.

Sebagai orang Eropa (Italia), katanya, "Saya khawatir kawasan dan lembaga-lembaganya telah menjadi simbol persatuan negara yang mengkhotbahkan hukum internasional namun lebih dipandu oleh pola pikir kolonial daripada prinsip, bertindak. (Hanya menjadi) wadah bagi kekaisaran AS, kendati hal itu menyeret kita dari perang ke perang— misteri hingga kesengsaraan — ketika menyangkut Palestina. Dari kesunyian hingga genosida.

Namun demikian, ungkapnya, kehadiran negara-negara Eropa pada pertemuan ini menunjukkan bahwa jalan yang berbeda dimungkinkan. "Kepada mereka saya katakan, kelompok pembenci memiliki potensi untuk menandakan -- bukan hanya -- sebuah koalisi, tetapi juga pusat moral baru dalam politik dunia.

"Mohon lebih banyak terlibat dan berdirilah bersama mereka dengan lebih kuat. Jutaan orang menyaksikan, berharap akan kepemimpinan yang dapat melahirkan tatanan global baru yang berakar pada keadilan, kemanusiaan, dan pembebasan kolektif. Ini bukan hanya tentang Palestina. Ini tentang kita semua," lanjutnya.

Albanese mengambil jeda sekejap. Lalu mengatakan, "Negara-negara utama harus bangkit saat ini juga. Negara-negara tersebut tidak perlu memiliki kesetiaan politik, warna kulit, bendera partai politik, atau ideologi. Negara-negara tersebut perlu dijunjung tinggi oleh nilai-nilai dasar kemanusiaan. Nilai-nilai yang telah dihancurkan Israel tanpa ampun selama 21 bulan terakhir dan terus berlanjut."

"Saya mengapresiasi penyelenggaraan konferensi darurat di Bogota untuk membahas masalah ini," ungkapnya mengulangi pernyataannya... "Jadi, fokusnya haruslah kuat pada hal inilah. Ini adalah sinyal pergeseran wacana dan politik untuk berbicara. Tetapi itu adalah minimum absolut dan saya mohon Anda untuk memperluas komitmen dan mewujudkan komitmen itu dalam tindakan konkret legislatif, yudisial di setiap yurisdiksi Anda,  untuk mempertimbangkan, terutama, apa yang harus kita lakukan untuk menghentikan serangan genosida. "

Albanese mengungkapkan, "Bagi rakyat Palestina, khususnya di Gaza, pertanyaan ini, hari ini bersifat eksistensial, tetapi sebenarnya berlaku untuk kemanusiaan kita semua. Dalam konteks ini, tanggung jawab saya di sini adalah untuk memberi solusi tanpa kompromi. tanpa emosi untuk (mencabut) akar permasalahannya."

Dikemukakannya, kita sudah lama melewati masa untuk menangani gejala dan zona nyaman yang dialami banyak orang saat ini. "Kata-kata saya akan menunjukkan, bahwa apa yang telah berkomitmen dan dipertimbangkan untuk dikembangkan oleh kelompok HEG adalah komitmen dasar terhadap apa yang adil dan pantas berdasarkan kewajiban di bawah hukum internasional," ungkapnya.

Kewajiban, tegasnya. Bukan simpati, bukan amal. "Setiap negara harus segera, maaf, harus segera meninjau dan menangguhkan semua hubungan dengan negara Israel, baik hubungan militer, strategis, politik, diplomatik, ekonomi, impor maupun ekspor, dan untuk memastikan bahwa sektor swasta, perusahaan asuransi, bank, dana pensiun, universitas, dan penyedia barang dan jasa lainnya dalam rantai pasokan melakukan hal yang sama."

Ayat Baru Perlawanan

Memperlakukan pendudukan seperti biasa, menurut Albanese,  berarti mendukung dan memberikan bantuan kepada keberadaan Israel yang melanggar hukum di wilayah Palestina yang diduduki. "Hal yang sama telah diperintahkan oleh Mahkamah Kejahatan Internasional pada Juli tahun lalu, untuk diakhiri secara total dan tanpa syarat, dan Majelis Umum  PBB telah memerintahkan hal ini untuk dilaksanakan pada September tahun ini.

Dengan tatapan mata tajam, Albanese mengatakan, "Saya memiliki kesempatan untuk menguraikan detil teknis dan implikasi hukumnya dalam sesi-sesi selanjutnya hari ini. Namun, mari kita perjelas, mengapa saya berpendapat bahwa sudah waktunya untuk memutuskan hubungan dengan Israel secara keseluruhan."

Albanese yakin, memutus hubungan hanya dengan komponen-komponennya dalam pendudukan wilayah Palestina akan mengatasi gejalanya sekali lagi. "Hal ini sejalan dengan hukum internasional, terutama saat Israel dituduh melakukan kejahatan perang, kejahatan kemanusiaan, dan genosida di hadapan dua pengadilan internasional tertinggi yang kita miliki, ICC dan ICJ," ungkapnya.

Ia mengiungkapkan, dirinya telah menyampaikan laporan terakhirnya sebagai Pelapor Khas PBB kepada Dewan Hak Asasi Manusia, PBB ekonomi Israel terstruktur untuk menopang pendudukan yang kini telah berubah menjadi genosida. "Mustahil untuk memisahkan kebijakan dan ekonomi negara Israel dari kebijakan yang telah hilang dan praktik ekonomi pendudukan," tegasnya,

Kebijakan dan ekonomi tersebut tak terpisahkan selama beberapa dekade. "Kita hanya berpura-pura tidak ingin melihatnya. Semakin lama negara dan pihak lain terlibat, semakin sah ilegalitas ini sejak awal dan keterlibatannya terus berlanjut dan berkembang. Kini setelah ekonomi berubah menjadi genosida, tidak ada Israel yang baik, buruk, baik, dan buruk," serunga.

Kita harus menghadapinya, kata Albanese. "Jadi, saya meminta Anda untuk mempertimbangkan momen ini seolah-olah kita duduk di sini pada tahun 1990-an, membahas kasus apartheid Afrika Selatan. Apakah Anda akan mengusulkan sanksi selektif terhadap Afrika Selatan atas perilakunya dalam sikap olok-olok individual? Atau Anda akan mengakui sistem pidana negara secara keseluruhan?,." cetusnya.

Di sini, menurut Albanese, apa yang dilakukan Israel dibandingkan dengan apa yang dilakukan Afrika Selatan selama rezim apartheid jauh lebih buruk. Perbandingan ini merupakan penilaian hukum dan faktual yang didukung oleh proses hukum internasional yang melibatkan banyak pihak.

Inilah, menurutnya, yang dimaksud dengan langkah-langkah konkret. Bernegosiasi dengan Israel tentang bagaimana mengelola sisa-sisa Gaza di Tepi Barat, mereka yang berada di Brussels atau di New York, adalah aib besar bagi hukum internasional. Dan izinkan saya menyimpulkan. Izinkan saya menyimpulkan dengan sepatah kata untuk Palestina dan mereka yang berada di seluruh penjuru dunia yang mendukung mereka."

Albanese tersedak. Kesedihannya menegakan. Ia brusaha mengendalaikan emosinya beberapa saat. "Maaf. Baiklah, saya mulai lagi.." Agak perlahan, Albanese bicara kemudian.  

"Untuk Palestina dan mereka yang berada di seluruh penjuru dunia yang mendukung mereka, seringkali dengan biaya dan pengorbanan yang besar, saya katakan apa pun yang terjadi, Palestina akan menulis bab ini, bukan sebagai catatan kaki dalam kronik calon penakluk. Tetapi sebagai ayat terbaru dalam kisah berabad-abad, tentang orang-orang yang telah bangkit melawan ketidakadilan, melawan kolonialisme, dan hari ini lebih dari sebelumnya... melawan tirani neoliberal. Terima kasih banyak," pungkasnya.. | tique, haèdar.

Editor : delanova | Sumber : berbagai sumber