Netanyahu Usulkan Trump sebagai Nominee Nobel Perdamaian

Komedi Satir yang Bisa Nodai Nobel

| dilihat 740

Dunia memang panggung sandiwara, seperti lirik lagu yang ditulis penyair Taufiq Ismail dan hit lewat suara Achmad Albar dari kumpulan musik God Bless. Ada peran kocak dan peran berpura-pura di atas panggung sandiwara itu.

Kali ini lakonan kocak itu datang dari Ruang Biru Gedung Putih - Washington DC, sepekan lalu (Selasa, 8/7/25), ketika penjahat perang - Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu bertemu dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.

Kepada Trump, Netanyahu yang ditetapkan sebagai penjahat perang oleh Mahkamah Kejahatan Internasional di Den Haag, itu dengan sukacita menyampaikan dokumen -- usulannya kepada Institut Nobel Norwegia -- untuk memasukkan Trump sebagai nominee penerima Hadiah Nobel perdamaian tahun 2025.

Ini lakonan komedi satir yang bila tak dicegah bisa nodai Hadiah Nobel yang bergengsi itu. Agresor penebar genosida dan ethnic cleansing, penjahat kemanusiaan paling bengis dan tak punya hati, mengusulkan tuannya, pemasok senjata  dan belanja perang sebagai nominee penerima Hadiah Nobel perdamaian.

Adegan yang disaksikan para petinggi AS dan zionis Israel, itu, menurut Belén Fernández, kolomnis Al Jazeera adalah proposal orang yang saat ini memimpin genosida Palestina di Jalur Gaza kepada pendukung utama genosida tersebut.

Sebagai penjilat paling ulung, Netanyahu -- dalam pertemuan itu -- terus menerus memuji Trump. "Saya ingin menyampaikan apresiasi dan kekaguman tidak hanya dari seluruh warga Israel, tetapi juga dari orang-orang Yahudi. Anda pantas mendapatkannya," ujar Netanyahu.

Trump menerima dengan senang hati. "Saya tidak tahu ini. Wow. Terima kasih banyak. Khususnya dari Anda, ini sangat berarti," ujarnya, pura-pura kaget.

Untuk kepentingannya melakukan genosida dan kejahatan perang di Gaza - Palestina -- kala babak belur menghadapi Iran dan melolong memohon bantuan Trump --, Netanyahu memanfaatkan hasrat Trump menjadi orang kuat yang memilih jalan perang dan kejahatan kemanusiaan dengan mengerahkan kekuasaan yang dimilikinya untuk menjangkau apa yang dia sebut perdamaian.

Adegan komedi satir di 'Ruang biru' Gedung Putih, itu menampakkan bagaimana petinggi zionis Israel itu memuji dan memuja tuannya 'melambungkan' Trump sebagai jawara dan menikmati keberjayaan. Trump amat mencintai keberjayaan sebagai pemenang. Ia benci pada penilaian banyak kalangan yang menyandangkan lebel sebagai pecundang ketika melakukan serangan mendadak terhadap Iran. Serangan ke pusat-pusat pengayaan uranium yang membuat penjahat perang Netanyahu girang tak alang kepalang.

Sanjungan Penjilat

Trump adalah orang yang suka-suka hati mengumumkan dirinya telah "mengirimkan segala yang dibutuhkan Israel" untuk melakukan aksi genosida paling bengis di dunia, termasuk melibatkan miliaran dolar (langsung dan atau melalui 60 perusahaan global dunia) berupa persenjataan mematikan dan bantuan lainnya.

Kolomnis The Guardian, Mohammad Bazzi lewat kolomnya pada Rabu (10/7/25) menilai lakonan komedi satir, itu sesuai yang absurd. Ibarat menominasikan pengedar narkoba untuk Hadiah Nobel Kedokteran.

Bazzi menilai, ada logika sinis di balik dari aksi publisitas Netanyahu. "Ia mengeksploitasi kebutuhan Trump akan sanjungan untuk memperpanjang perang brutal Israel di Gaza, dan untuk terus menyerang negara-negara lain di Timur Tengah, termasuk Iran, Lebanon, dan Yaman." Apalagi, sebelum Netanyahu muncul untuk makan malam di Gedung Putih itu, Trump sangat berhasrat mengumumkan kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Hamas minggu ini.

Fernandez mencatat, sejak kembali menjabat pada bulan Januari, Trump telah melakukan banyak tindakan tunggal yang jelas-jelas tidak damai, seperti pengeboman warga sipil di Yaman dan serangan ilegal ke Iran.

Ia heran, media menyiarkan proporsal nominasi Hadiah Nobel Perdamaian dengan datar. CNN, misalnya, mencatat bahwa "penghargaan tersebut telah menjadi obsesi utama Trump, yang menurutnya pantas diterima atas upayanya untuk mengakhiri konflik di seluruh dunia." Menurut Fernandèz, media internasional tersebut menyajikan berita tersebut secara tidak masuk akal.

Media internasional juga menyajikan informasi yang justru menggambarkan, adegan pada lakonan komedi satir tersebut, membuat Trump mengurungkan dirinya menekan Netanyahu supaya mencapai kesepakatan dengan Hamas. Penjahat perang zionis Netanyahu dengan segala gestur dan bahasa tubuhnya, terkesan 'merasa berhasil' mengulur waktu, seperti yang dilakukannya, menyerang Hamas di Israel Selatan pada Oktober 2023.

Bazzi mengungkap, penjahat perang operator utama genosida di Gaza-Palestina telah berulang kali menyabotase negosiasi untuk tetap berkuasa. Ia ingin menjaga koalisi pemerintahan ekstremisnya tetap utuh agar dapat menghindari pemilihan parlemen lebih awal, yang kemungkinan besar akan kalah. Khasnya untuk memblokir penyelidikan independen atas kegagalan keamanan pemerintahannya yang menyebabkan serangan Hamas dan Iran.

Netanyahu, menurut Bazzi sedang berupaya keras untuk menyelamatkan dirinya sendiri, mempertahankan kekuasaan untuk menghindari persidangan di pengadilan atas kasus suap dan korupsi yang berakar pada salah satu masa jabatan sebelumnya sebagai perdana menteri.

Penjahat perang dan genosida itu selama ini dikenal sebagai ahli taktik yang culas dan sangat paham keperluan Trump yang selalu terobsesi sebagai penguasa dunia. Proposal nominasi Hadiah Nobel yang disodorkannya malam itu memenuhi hasrat dan dahaga Trump. Sanjungan !

Taktik itu akan memungkinkan zionis Netanyahu mendapat perlindungan dari Trump atas kelemahannya dalam bersaing dengan negara-negara penghasil minyak Arab yang kaya, seperti Arab Saudi dan Qatar, yang dapat memberikan bisnis keluarga Trump miliaran dolar dalam bentuk real estate dan golf.

Netanyahu juga tak mampu bersaing dengan para Sultan Arab, itu untuk memberikan hadiah mewah seperti jet mewah senilai $400 juta untuk digunakan sebagai Air Force One. Usulan nominasi untuk mendapatkan Hadiah Nobel Perdamaian bagi Trump, bisa menyandingkan dia (atau mengalahkan)  para petinggi dunia Arab. Menurut Bazzi, Netanyahu dengan tepat berasumsi bahwa ia dapat menarik keinginan Trump untuk diakui sebagai pembawa perdamaian global.

Delusi Perjanjian Abraham

Trump pernah disebut-sebut masuk nominasi penerima Hadiah Nobel perdamaian, namun kecewa karena tidak terpilih untuk menerimanya. Tulis Bazzi, Trump selama bertahun-tahun, bersikeras meyakinkan khalayak global, bahwa dia pantas menerima hadiah tersebut.

Trump menggunakan apa yang dilakukannya selama periode pertama jabatannya sebagai presiden, memediasi rangkaian kesepakatan diplomatik, antara zionis Israel dengan beberapa negara Arab, yang dikenal sebagai perjanjian Abraham.

Perjanjian-perjanjian tersebut, yang dinegosiasikan oleh Jared Kushner, menantu sekaligus penasihat seniornya, mencakup Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Maroko. Namun, Trump dan Kushner gagal meyakinkan negara Arab terpenting, Arab Saudi, untuk menandatangani kesepakatan normalisasi dengan Israel.

Bazzi mengemukakan, Perjanjian Abraham dibangun di atas delusi, bahwa Washington dapat menyelesaikan konflik Israel-Palestina dengan mengabaikan realitas warga Palestina yang hidup di bawah pendudukan Israel di Tepi Barat, dan blokade Israel terhadap Gaza pada saat itu.

Trump dan Kushner yang memediasi kesepakatan politik melalui prisma transaksi real estate, memutuskan untuk menghindari Palestina dan kepentingan mereka sama sekali. Kushner kemudian bernegosiasi langsung dengan rezim-rezim Arab otokratis yang ingin meresmikan hubungan rahasia mereka dengan Israel menjadi diplomasi yang lebih terbuka.

Jadi, ungkap Bazzi, tak mengherankan jika Netanyahu menggunakan Perjanjian Abraham yang cacat sebagai dasar rekomendasinya kepada Trump untuk memenuhi ambisi dan mimpinya menerima Hadiah Nobel. Penjahat perang dan genosida, itu menulis dalam surat usulannya kepada Institut Nobel Norwegia (1/7/25), "Presiden Trump telah menunjukkan dedikasi yang teguh dan luar biasa untuk memajukan perdamaian, keamanan, dan stabilitas di seluruh dunia."

Penjahat perang Netanyahu mengirimkan suratnya hanya 10 hari setelah Trump memerintahkan pesawat tempur AS untuk mengebom fasilitas nuklir utama di Iran. Tindakan Trump yang inkonstitusional ini telah menari AS masuk ke dalam medan perang yang dimulai oleh Netanyahu pada pertengahan Juni 2025, ketika Israel melancarkan serangan mendadak terhadap puluhan target di seluruh Iran.

Tak pasti, apakah surat zionis Netanyahu tersebut menambah jumlah bakal nominee penerima hadiah Nobel Perdamaian. Institut Nobel Norwegia telah mendaftarkan total 338 kandidat untuk Hadiah Perdamaian 2025, yang terdiri dari 244 individu dan 94 organisasi. Jumlah ini lebih rendah dibanding tahun 2024, yang terdiri dari 286 kandidat, terbagi atas 197 individu dan 89 organisasi. Jumlah tertinggi yang pernah diterima Institut Nobel Norwegia adalah pada tahun 2016, yaitu 376 kandidat. | jeahan

 

Editor : delanova | Sumber : Al Jazeera, the Guardian, museum nobel
 
Ekonomi & Bisnis
16 Apr 26, 19:38 WIB | Dilihat : 276
Pertamina Hulu Energi Raih IFR Asia Award 2025
25 Feb 26, 18:17 WIB | Dilihat : 530
Kata Mat Sabu Stok Beras Cukup
06 Feb 26, 10:04 WIB | Dilihat : 674
Optimistis Iklim Bisnis Lebih Baik
Selanjutnya
Budaya
20 Mar 26, 08:16 WIB | Dilihat : 361
Budaya Betawi Mesti Jadi Cover Budaya Jakarta
18 Feb 26, 00:08 WIB | Dilihat : 666
Muhammadiyah Berbeda dengan Pemerintah itu Biasa
26 Nov 25, 18:48 WIB | Dilihat : 768
TIM Harus Kembali Menjadi Mercu Suar
Selanjutnya