Noer Baety Dibunuh Perampok

Kisah Tragis Wartawati Lepas

| dilihat 3258

AKARPADINEWS.COM | TIADA yang mengira jika kisah hidup Noer Baety Rofiq, berakhir tragis. Sabtu, 4 Juli lalu, tatkala Noer Baety tengah menyantap sahur, tiga kawanan perampok menyantroni rumahnya, di Perumahan Gaperi, Bojonggede, Kabupaten Bogor. Noer Baety yang berprofesi sebagai jurnalis lepas (freelance) itu sempat melakukan perlawanan menghadapi perampok.

Namun, apa daya? Kawanan perampok yang menggunakan senjata tajam, dengan membabi buta menghabisi perempuan yang tinggal seorang diri di rumahnya. Mereka menghujamkan senjata tajam hingga sembilan kali ke tubuh Noer Baety. Darah korban keburu mengental dan mengering sebelum jasadnya ditemukan dua minggu setelah aksi sadis itu.

Aksi kawanan perampok itu terbilang rapih. Pasalnya, warga sekitar sama sekali tidak mengetahui aksi sadis mereka. Bahkan, aparat kepolisian yang bertugas di kantor Kepolisian Sektor (Polsek) Bojonggede yang jaraknya sekitar 100 meter dari lokasi kejadian, tidak mengetahui aksi kejahatan sadis itu. Sontak, kejadian ini menggegerkan warga komplek Perumahan Gaperi Bojonggede yang terbilang aman dari perampokan. Menurut Sukma, Ketua RT 1/9 Blok CN 6, baru kali ini perampokan terjadi di wilayahnya. “Tidak pernah ada kasus perampokan sebelum ini. Paling banter pencurian jemuran,” ujarnya.

Letak rumah Noer Baety memang berada di pojok jalan. Setelah rumahnya, tidak ada jalan lagi alias buntu. Kondisi di sekeliling rumah korban juga cukup sepi. Di samping kanan rumah korban, terdapat kebun kosong yang cukup rimbun dengan pohon. Sedangkan di sisi lainnya, terdapat saluran air.

Menurut pengakuan tetangga, Noer Baety tidak banyak berkomunikasi. Sesekali hanya menyapa dan ia diketahui berada di rumah hanya pada malam dan pagi hari. Selebihnya, almarhumah pergi ke luar rumah untuk bekerja sebagai wartawati lepas. “Mbak Baety terakhir kali bayar iuran sampah akhir bulan lalu. Setelah itu, saya tidak pernah melihatnya lagi,” ujar Sukma.

Dia menambahkan, Noer Baety telah tinggal di perumahan itu semenjak tahun 1997. Awalnya, ia tinggal bersama keluarganya. Tapi, lantaran ibunya sakit setahun belakangan ini dan ditempatkan di rumah kakaknya di Tebet, Jakarta, dia akhirnya tinggal sendiri sesuai keinginannya. Sedangkan ayahnya, sudah meninggal dunia pada tahun 2000.

Kematian Noer Baety terungkap ketika Ida, kakak kandung korban, datang pada Sabtu (18/7) ke rumah almarhumah. Saat itu, Ida ingin mengajak adiknya untuk silaturahmi bersama keluarga. Namun, Ida mulai curiga ketika adiknya tidak menyahut panggilannya dari depan rumah. Dengan meminta bantuan Joko, tetangga korban, Ida memasuki rumah Noer Baety melalui pintu belakang karena pintu depan terkunci.

Ada empat pintu belakang yang dimasuki Ida dan Joko dengan mudah karena tidak terkunci. Pintu belakang itu sebenarnya mengarah ke gudang, baru kemudian tembus ke dapur. Lalu, ke ruang makan, ruang tamu, dan ke ruang depan. Di ruang depan itu korban ditemukan di belakang pintu utama. Korban ditemukan bersimbah darah dalam keadaan tertelungkup dan tangan terikat.

“Dari posisi pagar rumah, bau tidak tercium. Tapi setelah dekat di pintu belakang bau busuk mulai menyeruak. Setelah di ruang depan akhirnya saya melihat almarhumah di lantai dengan kondisi yang sangat buruk,” ujar Joko.

Menurut Joko, Noer Baety ditemukan dengan kondisi tertelungkup dan tangannya diikat di belakang dengan menggunakan plastik hitam. Ia tergeletak menyamping dan terlihat pula sembilan tusukan senjata tajam di badan dan leher tergorok.

Sebelum peristiwa ini terungkap, beberapa tetangga Noer Baety mengaku memiliki firasat tidak baik kepada tukang bangunan yang tengah merenovasi rumah persis di depan rumah Noer Baety. Tukang bangunan itu terdiri dari tiga pria yang pada tiga hari sebelum Noer Baety ditemukan tewas, tengah berdiri di depan rumah Noer Baety.

“Dua pria berpawakan kurus dan bercelana panjang, sementara satunya gemuk mengenakan celana tiga per empat,” ujar Ratna, tetangga korban. Salah satu dari ketiga pria itu terlihat membawa sebuah tangga. Tidak jelas digunakan untuk apa, ketiga pria itu justru pergi begitu saja dari depan rumah Noer Baety setelah menyadari kehadiran Ratna.

“Saya yakin, kuli bangunan itu yang bunuh Mbak Bety. Perilakunya mencurigakan. Karena sebenarnya rumah sudah selesai direnovasi seminggu sebelum lebaran. Tapi, mereka malah ke rumah orang lain, rumahnya Mbak Bety. Buat apa coba?” ungkap Ratna.

Dan, benar saja, dua hari setelah jenazah ditemukan, pelaku pembunuhan akhirnya ditangkap tim gabungan Polresta Depok dan Polda Metro Jaya pada Senin dini hari tadi (20/7) dan diinterogasi di Markas Polres Kota Depok.

Menurut Kapolresta Depok, Komisaris Besar (Kombes) Polisi, Dwiyono, pelaku berinisial S, H, MU, dan DN berprofesi sebagai tukang bangunan yang merenovasi rumah tetangga korban. DN ditangkap terpisah pada Senin malam. Motifnya murni perampokan.

“S, H, dan MU masuk ke dalam rumah Noer Baety, korban ternyata terjaga untuk sahur sehingga ketiga pelaku bersembunyi di dalam gudang di bagian belakang rumah. Mereka menunggu Noer Baety kembali tidur,” ujar Dwiyono ketika menjelaskan kronologis kejadian kepada wartawan di kantornya Senin (20/7).

Selanjutnya ketika Noer Baety tidur sesudah sahur, para pelaku masuk ke dalam rumah untuk melancarkan aksinya. Namun, Noer Baety memergoki mereka hingga ketiga pelaku panik dan bersama-sama menghabisi korban. S, H, dan MU berbagi peran dalam membunuh Noer Baety. MU menyayat leher korban, H menusuk perut Baety sebanyak sembilan kali, dan S menindih korban.

Setelah korban tewas, salah satu pelaku mengikat tangan korban dengan tali dan mengambil beberapa barang milik korban, kemudian pergi dari rumah itu untuk menjual barang hasil rampokan. Sebelum melancarkan aksinya, DN yang diduga sebagai otak perampokan itu, telah terlebih dulu memantau rumah Noer Baety. DN pula yang mengajak pelaku lain untuk melakukan perampokan di rumah korban.

Perampok berhasil menggasak barang-barang korban yang sebenarnya nilainya tidak seberapa. Hanya ada empat ponsel, dua kamera pocket, dompet, buku berisi kartu-kartu nama, alat perekam suara atau recorder, laptop, dan sejumlah uang. Tentu, barang-barang itu tidak akan menghasilkan uang dalam jumlah yang banyak ketika dijual.

Berdasarkan hasil visum Rumah Sakit Polri Kramat Jati, Noer Baety tewas akibat sembilan luka tusukan di perut, tulang rusuk kiri yang patah, dan ada bekas gorokan di lehernya. Korban diketahui telah tewas dua minggu sebelum ditemukan pada Sabtu (18/7).

Dalam pemeriksaan, salah satu pembunuh mengaku menggunakan uang hasil penjualan untuk minum-minuman keras. Barang yang sudah terjual yakni kamera dan laptop, totalnya Rp2 juta. Uang hasil penjualan dibagi-bagi untuk uang lebaran. Salah satu pelaku berinisial H (22 tahun) menggunakan jatah uangnya yang hanya sebesar Rp500 ribu untuk minum-minuman keras.

Pelaku H, diketahui hanya lulusan Sekolah Dasar (SD). Ia mengaku, uang penjualan tersebut dibagi secara rata kepada masing-masing pelaku lain. H juga mengaku hanya ikut-ikutan merampok setelah sebelumnya diajak oleh DN (25).

“Saya cuma diajak DN. Kalau pisau untuk membunuh, saya beli di Stasiun Citayam sehari sebelumnya," ujar H. Ia juga mengatakan tidak tenang setelah membunuh korban.

Ketiga pelaku tersebut dijerat Pasal 365 KUHP tentang pencurian dengan kekerasan dan 338 KUHP tentang pembunuhan dengan ancaman 15 tahun penjara. Mereka diketahui berprofesi sebagai tukang kuli bangunan, tukang ojek, dan pengangguran

Sebenarnya, sempat ada motif lain dalam kasus perampokan ini. Pasalnya, kabar selintingan mencuat ketika Lisa, teman almarhum Noer Baety semasa kuliah di Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP), Jakarta, meyakini Noer Baety tidak menjadi korban perampokan, sebab perhiasan kawannya itu tak ikut hilang.

Barang-barang Noer Baety yang dirampok diyakini Lisa berisi data investigasi berita yang sedang digarap almarhum. Menurut Lisa, kawannya itu sedang intens menginvestigasi kematian mahasiswa Universitas Indonesia, Akseyna Ahad Dori (18). Hal tersebut diketahui Lisa dari perbincangannya dengan Noer Baety melalui pesan singkat sebelum korban tewas.

Selain kabar investigasi pembunuhan Akseyna yang sedang dikerjakan Noer Baety, ada kabar selintingan lain yang muncul. Menurut sumber yang tidak mau disebut namanya, Noer Baety saat ini sedang menyoroti proyek pembangunan jalan di wilayah Bogor.

Namun, kabar-kabar itu ditampik Dwiyono yang menyatakan bahwa motif pelaku hanya sebatas merampok. “Motif sementara karena para pelaku ingin memiliki uang lebaran dengan merampok, kemudian menjual barang rampokannya,” ujar Dwiyono.

Meskipun demikian, kejanggalan tidak bisa dilepaskan begitu saja. Pasalnya, berdasarkan olah TKP, ada perhiasan dan motor korban yang tidak ikut dibawa para pelaku. Padahal, korban masih mengenakan kalung di leher saat digorok dan terdapat banyak perhiasan di kasur.

Tak hanya itu, motor milik korban lengkap dengan kunci kontaknya juga dibiarkan begitu saja. Kejanggalan jadi kian terasa ketika sebab musabab pelaku yang mengambil barang jarahan hanya berdasarkan rasa paniknya setelah membunuh. Hal ini makin mengindikasikan motif pelaku bukan hanya merampok, tapi juga membunuh, atau motif lain yang terkait dengan profesinya sebagai wartawati lepas.

Selain itu, jika melihat cara membunuh, pelaku menusuk korban secara berulang-ulang. Jika dilihat tusukan yang berulang sebanyak sembilan kali, bisa saja penusukan itu adalah sebuah wujud pelampiasan dendam oleh pelaku. Hal ini yang harus didalami. Karena, kenapa hanya tape recorder, laptop, ponsel dan uang beberapa lembar uang pecahan Rp2 ribu sebanyak 100 lembar yang diambil, sementara perhiasan tidak?

Noer Baety sebelumnya sempat menjadi Redaktur Pelaksana di Akarpadi. Karenanya, awak Akarpadi terkejut tatkala mendengar kabar jika Noer Baety tewas dibunuh. Riana Dewi, Pimpinan Usaha dan Bisnis Akarpadi tak menyangka Noer Baety tewas dibunuh perampok. "Inalilahi waina ilahi rojiun. Gak nyangka kalau akan dengar berita ini," ujarnya.

Riana mengatakan, Noer Baety pernah bekerja sebagai Redaktur Pelaksana di Akarpadi, namun keluar pada tanggal 30 Maret 2015 lalu. Sejak tak lagi gabung dengan Akarpadi, Riana menambahkan, tidak diketahui di mana Noer Baety bekerja. "Kita tidak tahu Mbak Baety kerja di mana setelah keluar dari Akarpadi," imbuhnya. Selama di Akarpadi, Noer Baety dikenang sebagai sosok pekerja keras dan pendiam. Menurut pengakuan kakak Noer Baety, korban pernah bekerja sebagai kontributor di media Berita Kota. Dia juga tidak mengetahui, di mana Noer Baety bekerja sebelum meninggal dunia.

Adhimas Faisal

Editor : M. Yamin Panca Setia
 
Sainstek
Polhukam
14 Agt 26, 09:40 WIB | Dilihat : 394
Hentikan Perusakan Demokrasi dan Politik
08 Agt 26, 19:13 WIB | Dilihat : 247
Negara Utang Budi kepada Rakyat
05 Agt 26, 20:16 WIB | Dilihat : 409
Rakyat Negeri Sembilan Bagi Kuasa kepada BN & PN
15 Jul 26, 23:02 WIB | Dilihat : 535
Merawat Kepercayaan Rakyat
Selanjutnya