Kiat Thaksin Sinawatra Hindari Penjara

| dilihat 810

Haedar Muhammad

"Nasihat utama apa yang paling diperlukan dari seorang Thaksin Shinawatra, selain bagaimana memacu diri, melompat dari dunia usaha ke dunia politik?"

Pertanyaan ini diajukan seorang teman dari Malaysia dalam perbincangan via zoom meeting, beberapa malam lalu.

Teman dari Thailand tanpa ragu menyebut, "mencandai kekuasaan dan melecehkan hukum, khasnya putusan pengadilan, supaya tak pernah merasakan bagaimana penjara."

Kami ngakak serempak dan serentak. Kiat Thaksin menghindari penjara memang populer di kalangan khas, meski tak banyak yang mendalami kiat dan siasatnya melayari dunia politik dan bisnis.

Thaksin Shinawatra, 76, adalah tokoh berpengaruh dalam dunia usaha dan kuasa di Thailand. Ia seorang pengusaha sekaligus penguasa, politisi beken, yang pernah Perdana Menteri (PM) yang selalu luput dari penjara, meski pengadilan telah memvonisnya secara inkrah.

Karena kelihaiannya, oligark patriark Asia Tenggara, itu membangun dinasti politik di Thailand. Tahun 2001 dia terpilih sebagai Perdana Menteri (PM) Thailand yang terkenal dengan kebijakannya di bidang pertanian dan pedesaan, "One village one product."

Karenanya, apapun cerita tentang dirinya, ia adalah sosok pemimpin yang dipuja oleh massa pendukung fanatiknya (kelompok Kaus Merah) sangat kuat di pedesaan, lawan utama kelompok Kaus Kuning yang menguasai kaum urban di perkotaan.

Minggat ke Luar Negeri

Thaksin dan keluarganya mendirikan dan menguasai partai Pheu Thai. Lewat partai inilah, adik kandungnya yang molek, Yingluck dan anak kandungnya Paetongtarn sempat menjadi PM Thailand, meski tak lama, dan punya kisah yang sama. Dimakzulkan Mahkamah Konstitusi.

Thaksin yang pernah memiliki klub sepakbola Manchester City digulingkan melalui kudeta militer di penghujung masa kuasanya (2006).

Pengadilan memutus perkaranya, menghukum dia atas tuduhan penyalahgunaan kekuasaan, konflik kepentingan. Pengadilan lantas mengadilinya dan menghukum dia atas perkara korupsi, pecah amanah (penyalahgunaan wewenang), dan konflik kepentingan selama berkuasa. Tapi, dia tak pernah mengalami bagaimana merasakan penjara sebagai banduan (narapidana) atas putusan pidana 8 tahun yang dijatuhkan kepadanya.

Thaksin minggat ke luar negeri, mengasingkan diri selama 15 tahun. Ia mengamati perkembangan politik tanah airnya, termasuk ketika iparnya Somchai Wongsawat menjabat PM Thailand ke 26 selama beberapa bulan (24 September 2008 - 2 Desember 2008).

Ia juga mengamati perkembangan politik negerinya, kala adik kandungnya Yingluck Shinawatra menjabat PM Thailand (5 August 2011 – 7 May 2014), dan mengakhiri kekuasaannya yang digulingkan kudeta militer dan dimakzulkan pengadilan.

Turunnya Yingluck dari kekuasaannya dipandang banyak pengamat politik sebagai akhir kuasa keluarga Shinawatra, apalagi Pheu Thai, partainya dianggap sudah kurang daya dan pengaruh. Juga sudah hilang pengaruh.Ternyata tidak.

Kasus Percakapan Telepon dengan Hun Sen

Partai Pheu Thai malah merasa mendapat momentum baru yang lebih strategis secara politik. Antara lain dengan menjalin dengan berbagai kalangan yang lantas menjadi proxi-nya. Menguatkan jejaring dan relasi politik dengan kekuatan baru, khasnya Partai Moving Forward pimpinan Pita Limjaroenrat yang dikenal sebagai negarawan muda dengan gagasan-gagasan yang sesuai aspirasi rakyat.

Paetongtarn (Ung Ing) Shinawartra, puteri Thaksin yang rupawan memimpin partainya sejak 2023, dengan norma-norma dan nilai-nilai baru sesuai perkembangan zaman. Ia berhasil meyakinkan khalayak Thailand dengan kampanye dan performanya yang populis dan berhasil membuang kesan keluarga Shinawatra sebagai faktor krusial bagi Thailand.

Pada Pemilihan Umum 2023, bersama Pita Limjaroenrat (Move Forward), Ung Ing unggul dalam merebut hati rakyat. Namun kemenangan mereka dihadang kelompok konservatif dan militer. Pita menghadapi nasib buruk. Pengadilan menghentikan nafas partainya. Pita sendiri dilarang berpolitik selama 10 tahun.

Akan halnya Ung Ing, tak segera dapat menjabat PM. Meskipun partainya sebagai pemenang Pemilihan Umum, namun yang diangkat sebagai PM justru Sretta Thavisin, orang dekat Thaksin. Tapi Thavisin dipecat Mahkamah Konstitusi (14/8/24).  

Ung Ing baru dilantik sebagai PM tahun 2024 (16/8/24). Malang nasib Ung Ing, percakapan teleponnya dengan bekat penguasa Kamboja, Hun Sen ihwal konflik lama perbatasan, 'bocor.' Terdengar dalam percakapan itu, Ung Ing menyalahkan pimpinan tentara Thailand.

Gegara 'kasus telepon' yang tular itu, Ung Ing kena sanksi Mahkamah Konstusi. Nasibnya 'digantung' (1/7/25). Pamor partainya pun merosot. Mahkamah Konstitusi pun memecatnya sebagai PM Thailand (29/8/25), kemudian atas pemilihan di parlemen, mengangkat Wakil PM Anutin Charnvirakul (Partai Bhumjaithai) sebagai PM Thailand definitif.

Memenuhi Janji

Paralel dengan keputusan tersebut, Pengadilan Tinggi Thailand memerintahkan Thaksin Shinawatra untuk dipenjarakan selama setahun (5/9/25). Tapi,  sehari sebelumnya Thaksin meninggalkan Thailand dengan pesawat pribadi Bombardier Global 7500 via bandara Don Muang (4/9/25) malam (19.00). Semula pesawat tersebut menuju Singapura, namun kemudian beralih ke Dubai, Uni Emirat Arab. Keputusan tersebut diambilnya, karena menurut Thaksin di unggahan akun platform X - media sosialnya, karena petugas imigrasi Thailand menunda selama hampir dua jam sebelum keberangkatan, meskipun ia telah dibebaskan dari tuduhan lèse-majesté pada akhir Agustus.

Memang, selama persidangan kasusnya, ia telah dilarang meninggalkan negaranya  itu, setelah dibebaskan, ia telah mendapatkan kembali hak yang sama untuk bepergian ke luar negeri seperti warga negara Thailand lainnya.

Menurut Thaksin, penundaan tersebut akibat pemeriksaan imigrasi di bandara Don Muang, menyebabkan pesawat pribadinya tidak akan dapat mendarat di Bandara Seletar - Singapura, yang melayani jet pribadi, karena operasi bandara tersebut tutup pukul 22.00 waktu tempatan. Kepergian itu sempat diduga sebagai cara Thaksin menghindari penjara. Kali ini tidak.

Thaksin memenuhi janjinya. Dia pulang ke Thailand pada Selasa (9/9/25) dan diantar anak-anaknya menuju Mahkamah Agung. Selepas itu, ia menjalani awal harinya di penjara (10/9/25). Thaksin Shinawatra merupakan mantan PM pertamanya yang dipenjarakan berdasarkan keputusan Mahkamah Agung.  

Cara lama yang pernah dilakukannya, 'numpang lewat' masuk penjara untuk kemudian -- karena dinyatakan harus berada dalam perawatan kesehatan darurat -- dialihkan ke ruang VIP hospital.

Banduan

Kali ini, dia mesti pakai taktik lain, karena putusan Mahkamah Agung (Selasa, 9/9/25) memerintahkan pemindahan Thaksin ke Penjara Bangkok. Sekaligus menyatakan, perawatan di hospital tidak menjadi bagian dari pelaksanaan hukuman.

Thaksin datang dihantar anak-anaknya, termasuk Ung Ing ke penjara Klong Prem. Di penjara ini diperkirakan, dia akan menjalani sisa masa hukuman satu tahunnya.

Penahanan Thaksin dan pemecatan Ung Ing yang citra populisnya menyuburkan dukungan rakyat di pedesaan terhadap klan Shinawatra, dan seperti kata Ung Ing merupakan sejarah bagi keluarganya politik. Boleh jadi bakal menyenangkan lawan-lawan politik bebuyutannya. Yakni, petinggi politik pro-militer dan pro-kerajaan Thailand.

Akankah banduan ini bakal memberi nasihat dari dalam penjara ke berbagai badan keuangan dan bisnis di negara tertentu yang mengangkatnya sebagai penasihat khas, seperti Danantara Indonesia? Tak ada informasi.

Teman dari Thailand pun tak banyak bicara, kecuali tersenyum ketika julukan banduan diletakkan kepada Thaksin, melengkapi julukan lainnya yang populer: 'martir yang diasingkan'  dan 'oportunis korup.'

Sejak ia lengser, sudah enam PM Thailand yang terkait atau didukung olehnya telah digulingkan militer atau pengadilan. |

Editor : delanova | Sumber : berbagai sumber