
DI tengah serangan hoax dan berita palsu yang diproduksi rezim Zionis Israel dan Amerika Serikat (AS) kehidupan rakyat Iran berlangsung normal seperti biasa.
Pemerintah Iran yang dipimpin Presiden Masoud Pezeshkian dan jajarannya merespon aksi protes murni -- akibat tekanan ekonomi dan moneter, antara lain jatuhnya nilai mata uang -- dan berhasil memulihkan keadaan.
Keberhasilan tersebut ditandai dengan kemampuan menghambat aksi anarki yang sempat melakukan perusakan dan pembakaran sejumlah fasilitas umum yang dilakukan para pengunjuk rasa seludupan -- agen-agen kaki tangan Mossad.
Upaya para penghasut dan perusuh yang diprovokasi Presiden AS Donald Trump dan pemburu kuasa Reza Pahlevi, yang hendak melampiaskan dendam kesumat berhasil dipatahkan pemerintah dan rakyat.
Aksi unjuk rasa (28 Desember - 12 Januari) di Tehran, Shiraz, Esfahan, Masyhad dan beberapa kota, pun berakhir. Demikian pula halnya dengan aksi diaspora Iran di berbagai kota di AS dan Inggris.
Masih Alinejad dan Ahmed Batibi -- pelarian dari Iran yang diajukan Perwakilan AS di sidang Dewan Keamanan PBB, tidak mampu dan gagal meyakinkan para utusan negara-negara lain untuk merutuk Iran. Demikian pula halnya dengan para pelarian yang hidup di London dan kota-kota lain di Inggris, tak berhasil melakukan provokasi. Karena kerap turun menggerakkan diaspora Iran untuk melakukan aksi unjuk rasa.
Apalagi belakangan diketahui, Masih dan Ahmed melakukan aksinya lebih banyak untuk mencapai kepentingannya. Termasuk untuk memperoleh 'jaminan' hidup dan menjadi warga negara.

Pesan dan Penanda dari Qom
Dalam aksi unjuk rasa di AS, tema besarnya mudah tercium, selain gerakan 'mengembalikan Iran sebagai negara demokrasi sekuler.' Di balik gerakan tersebut tersimpan agenda tersembunyi gerakan aksi populer My Stealthy Freedom. Tapi, tema ini tidak mampu menganggit resonansi di Iran.
Berbagai tema hoax dan berita palsu yang menyasar eksistensi Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei, pun tak berhasil. Iran punya daya" integritas, konsistensi pada nilai perjuangan hakiki, yang jauh lebih kuat dan tak tergoyahkan.
Sabtu (31/1/26) Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam Ayatollah Seyyed Ali Khamenei terekam dan terpublikasi sedang mengunjungi mausoleum Imam Khomeini, pendiri Republik Islam di Qom.
Kunjungan itu dilakukan Ali Khamenei sebagai bagian dari cara memperbarui kesetiaan pada cita-cita yang membentuk kembali Iran sebagai pejuang konsisten, istiqamah. Khasnya merawat Republik Islam Iran sebagai negara mandiri dan bertekad mengakhiri dominasi asing yang sudah berlangsung selama beberapa dekade.
Nampak Khamenei menegakkan salat di makam Ayatullah Ruhullah Khomeini, sekaligus memberi penghormatan kepada para martir Revolusi.
Kunjungan tersebut dimaksudkan pula seraya menegaskan kembali kesinambungan melaksanakan prinsip - prinsip pendirian Republik Islam dan perlawanan Iran terhadap tekanan eksternal. Khasnya dari AS.
Kunjungan Ali Khamenei pun menyegarkan ingatan atas penanda kembalinya Imam Khomeini dari pengasingan di Paris pada tahun 1979. Peritiwa yang memicu gerakan protes nasional terhadap rezim Pahlavi yang didukung AS dan berpuncak pada penggulingannya.

Khameini dan Iran tak Gentar
Hari pulangnya Ayatullah Ruhullah Khomeini tersebut diperingati setiap tahun oleh para pendukung Republ Islam Iran dengan perayaan 'Sepuluh Hari Fajar' di Iran dan di seluruh dunia.
Bagi sebagian terbesar rakyat Iran, penampilan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei di Qom kala kampanye hoax dan berita palsu ditebar oleh media yang bermusuhan oleh jaringan yang berbasis di London.
Sekaligus menjawab dan membuka tirai propaganda dusta mereka yang secara sengaja mengabarkan, seolah-olah Ayatollah Khamenei bersembunyi di bunker perlindungan bawah tanah.
Di sisi lain juga sebagai jawaban kepada AS, bahwa propaganda yang mereka lakukan selama ini merupakan informasi muslihat melalui hoax dan berita palsu.
Tentulah, tampilnya Ayatullah Ali Khamenei di Qom, merupakan bagian dari siyasah untuk mematahkan serangan musuh-musuh Iran. Khamenei menunjukkan kepada khalayaknya siyasah perang psikologi (psy war). Tanpa kecuali, merupakan tangkisan atas berita palsu yang diproduksi kecerdasan imitasi, yang tujuannya adalah menciptakan ketidakstabilan di tempat yang sebenarnya tidak ada.
Keberadaan Khamenei di mausoleum Imam Khomeini tersebut juga merupakan penanda bagi sebagian besar rakyat Iran, bahwa tekanan - tekanan yang dilakukan Presiden AS Donald Trump, termasuk ancaman bakal menyerang Iran dengan kekuatan militer dan senjatanya, tidak menggentarkan Khamenei dan Iran.
Bagi Pemimpin Revolusi Tertinggi Iran, tersebut upaya Trump meningkatkan tekanannya dengan mengirim perangkat (alat utama sistem persenjataan) di Teluk Persia, tak membuat Khamenei dan Iran gentar.

Bara Terus Menyala
Di mata Khamenei, AS dengan militer dan persenjataan lengkapnya bukan siapa-siapa, apalagi negara super power. Bagi Khamenei, hanya Allah saja yang Super Power. Karenya, unjuk rasa yang disebabkan oleh kondisi ekonomi yang menurun -- akibat blokade bertahun-tahun -- dapat diatasi dengan komunikasi intens yang dilakukan pemerintah.
Peningkatan aksi protes pada 8 - 9 dan 14 Januari 2026 dengan kekerasan berupa beragam serangan atas infrastruktur publik, serta vandalisme, pembakaran, serangan terhadap ambulan, toko, dan fasilitas pemerintah secara luas, didukung asing dan elemen teroris.
AS dan sekutunya, serta khalayak di dunia terkejut ketika Iran melakukan aksi yang tak terduga, yakni memutus dan menonaktifkan seluruh saluran komunikasi satelit. Bahkan, starlink -- produk komunikasi andalan Elon Mask, dibuat tak berkutik.
Daya tangkal Iran dengan perangkat komunikasi produksinya sendiri bikin keder para 'anak semang' penjahat perang (zionis Israel). Salah satu perangkat bersenjata tersebut terbukti mampu melindungi rakyat dari kabar dusta yang mereka tebar melalui berbagai media, saluran, dan platform. Lantas begitu saja dilahap berbagai kalangan. Akibatnya, kepercayaan rakyat Iran terhadap pemimpin dan pemerintahnya, naik kembali dan menguat.
Pemulihan keamanan dan ketertiban khalayak kembali pulih. Pemerintah dan rakyat Iran bersatu. Sebaliknya para serdadu dan kaki tangan AS jatuh terjerembab ke dalam fantacy trap para petingginya. Trump kudu berulang kali mengubah taktik dan mereview strateginya. Dan.. tetap kandas.
Menteri luar negeri Iran, Abbas Araghchi sudah lantang bersuara: Iran siap menghadapi apapun cara dan jalan yang bakal ditempuh, termasuk perang ! Semua kemungkinan tak akan melemahkan Iran, karena prinsip, "hidup mulia atau mati syahid" bak bara yang terus membara.. | jeahan