
Bang Sem
TOM Rachman, wartawan The Imperfectionists duduk mencangkung. Berdialog dengan dirinya sendiri. Dia mulai dengan pertanyaan sederhana: “Melihat (jauh) ke belakang, dengan pengalaman jurnalistik, apakah akan menjadi mimpi buruk bagi Anda?” Ia memandang cermin beberapa saat. “Tidak sepenuhnya,” jawabnya dalam hati.
Kembali ia mengajukan pertanyaan pada dirinya: “Apakah Anda menikmati semua itu?” Tom menggeleng. Ia bergumam sambil mengingat, bagaimana dia sering mengunjungi perpustakaan, mencari dan membaca berbagai buku yang dapat menambah referensi dirinya untuk melihat dunia seluas kenyataan. Tidak berhenti hanya pada fakta-fakta buram. Termasuk sumber-sumber tertentu yang kerap menakut-nakuti saat menjalani aksi jurnalistik.
Tom teringat pandangan Christopher Hitchens yang berseru bagi dirinya sendiri untuk menyatakan, dirinya menjadi wartawan karena tidak ini mengandalkan hanya surat kabar dalam memperoleh informasi. Apalagi yang melulu hanya memberitakan beragam berita tentang politik praktis, debat politisi, perebutan kekuasaan, dan kriminalitas. Mulai dari kriminalitas kota sampai kriminal kemanusiaan.
Adalah Harry Chandler, wartawan dengan spesialisasi investigasi beragam hal yang mengatakan, memilih surat kabar dan beragam media berisi semua itu (politik praktis, kriminalitas, dan sejenisnya), hanya membuat dirinya melihat tatanan kehidupan dunia yang kacau dan mengerikan bagi kemanusiaan yang sesungguhnya. Apalagi, tanpa jaminan, semua informasi yang dipublikasikan telah terverifikasi nara sumbernya dan terkonfirmasi informasi yang disampaikannya. Terlalu banyak media semacam itu yang melalui pemberitaannya membentuk fantasi kelam alias dark fantasy bagi pembaca dan pemirsanya.
Chandler mengatakan, sepuluh hari tanpa surat kabar, majalah, televisi, dan media digital yang semacam itu, kita terbebas dari ketakutan, rasa kuatir, dan apatisme. Bila ribuan orang melakukannya, mereka terbebas dari histeria. Meskipun, mereka akan disergap oleh rumors dan ilusi. Wartawan yang bertanggung jawab, menurutnya, akan menjadi penjaga malam bagi hari-hari yang bermasalah.

Di tengah situasi perkembangan pers semacam itulah, muncul berbagai pemikiran tentang green pers atau yang biasa disebut sebagai green media. Media yang mengajak khalayak pembaca dan pemirsanya mengetahui dan mendalami berbagai hal (aspek dan faktor) yang menyebabkan terjadinya beragam persoalan dalam kehidupan kemanusiaan. Antara lain, seperti yang diisyaratkan oleh Jaard Diamond, sang futurolog.
Jaard Diamond melukiskan, bagaimana deforestasi dan penghancuran alam tidak hanya menyebabkan terjadinya perubahan iklim, climates change yang banyak menimbulkan bencana, seperti banjir, tanah longsor, dan beragam bencana lainnya. Bahkan telah menimbulkan konflik sosial dan konflik kemanusiaan, dimulai dengan konflik penguasaan sumberdaya alam. Ujungnya adalah perang.
Green pers atau green media, didedikasikan bagi pembangunan keberlanjutan yang didasari oleh pengembangan budaya dan peradaban baru secara lokal, nasional, regional dan internasional. Termasuk mengembangkan kemitraan efektif dan sinergi positif antara pemerintah, pengusaha, industriawan, dan rakyat kebanyakan.
Green Pers atau Green Media memusatkan perhatian pada platform komunikasi global, termasuk mewartakan tantangan global dan upaya mengatasinya. Memediasi antara pemerintah, pengusaha, dan masyarakat madani (seperti lembaga swadaya masyakat) menggerakkan potensi positif untuk menghijaukan kembali bumi. Muaranya adalah menciptakan iklim kondusif bagi berkembangnya masyarakat dunia yang harmonis.
Green Pers atau Green Media memediasi dan memfasilitasi berlangsungnya kolaborasi semua stakholders termasuk memberikan wawasan bisnis yang lebih luas. Termasuk memberikan wawasan kepada praktisi politik dan penentu kebijakan publik tentang kondisi kehidupan yang menghidupkan kembali triangle of life: Manusia – Alam – Tuhan.
Di masa depan, Green Pers dan Green Media sebagai media komunikasi manusia modern memberikan porsi untuk proses edukasi dan transformasi lebih luas untuk memperluas komunikasi seluruh unsur masyarakat dan bangsa dalam mewujudkan tanggung jawab mereka terhadap lingkungan alam dan lingkungan sosial.
Meski demikian, Green Pers atau Green Media tetap berada dalam koridor media yang akurat, aktual, informatif, dan mendorong tumbuhnya kreatifitas dan inovasi baru dalam merayakan kehidupan yang sangat kompleks. Di Indonesia, Green Pers dapat menjadi alternatif baru yang menyeimbangan dinamika kebebasan yang sedang menghidupkan masyarakat – bangsanya.|