Perang Israel-AS versus Iran

Dusta Trump dan Tipuan Netanyahu

| dilihat 232

Lagi lagi, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memainkan jurus muslihat, menyampaikan informasi palsu, seolah-olah dia sudah melakukan pembicaraan -- negosiasi -- yang sangat produktif dengan Iran.

Omongan dusta Trump di hari ke 25 perang Iran versus zionis Israel dan AS tersebut sempat berhasil memanipulasi pasar keuangan dan pasar modal di Wall Street New York (New York Stock Exchange - NYSE) dan pasar minyak mentah.

Manipulasi tersebut tak berlangsung lama, karena Mohammad Bagher Ghalibaf, Ketua Parlemen Iran (Islamic Consultative Assembly) spontan membantah dusta itu.  "Trump berdusta !" ungkap Ghalibaf.

Sesuai dengan wataknya sebagai pemimpin yang tak konsisten dengan pikiran dan ucapannya, Trump lantas beralih siasat di ujung pekan (Sabtu, 21/03/26).

Ia, lantas mengancam Iran. Akan menghancurkan pembangkit listrik dan infrastruktur energi Iran,  jika Iran tidak sepenuhnya membuka kembali Selat Hormuz pada Senin malam.

Tetapi pada hari itu juga, Trump mengubah arah pikirannya, lantas bicara, memperpanjang tenggat waktunya menjadi 5 hari. Kepada wartawan yang mewawancarainya perihal inkonsistensi sikap dan omongannya, lagi ia berdusta.  Mengklaim AS sekarang sedang melakukan pembicaraan produktif dengan Iran.

"Dengan Iran, kami telah bernegosiasi untuk waktu yang lama. Dan kali ini, mereka serius. Dan itu hanya karena pekerjaan hebat yang dilakukan militer kita sehingga mereka serius. Mereka ingin menyelesaikan masalah ini dan kita akan mewujudkannya," ujar Trump.

Obsesi dan Fantasi Trump

Trump melayang dengan obsesi dan fantasinya, ia pun mengkhayal, dapat mengendalikan Selat Hormuz bersama Ayatollah Mojtaba Khamenei, seraya sesumbar dengan sesuatu yang bertentangan dengan fakta dan realitas.

Trump menyatakan, bahwa telah terjadi perubahan rezim  yang sangat serius di Iran. "Sekarang, sejujurnya, semua orang dari rezim itu telah terbunuh," ujarnya.

Sebagaimana mengemuka dalam tayangan YouTube Democracy Now (Selasa, 24/03/26), secara aksentuatif Trump menyatakan kepada wartawan,  "Secara otomatis akan terjadi perubahan rezim. Tetapi kita berurusan dengan beberapa orang yang menurut saya sangat masuk akal, sangat solid.... Orang-orang di dalam tahu siapa mereka. Mereka sangat dihormati dan mungkin salah satu dari mereka akan persis seperti yang kita cari."

Trump lantas menyatakan, "Lihat Venezuela, betapa baiknya hal itu berjalan. Kita berhasil dengan baik di Venezuela dengan minyak dan dengan hubungan antara presiden terpilih dan kita, dan mungkin kita menemukan seseorang seperti itu di Iran."

Paralel dengan pernyataan tersebut, Komando Pusat AS menyatakan, pasukan AS terus secara agresif menyerang Iran. Bersamaan dengan itu, Iran membalas dengan menyerang negara-negara Teluk sekutu AS dan Israel.

Netanyahu Menipu Trump

Para pejabat Israel mengatakan Iran telah meluncurkan tujuh kapal tongkang rudal sejak tengah malam, menargetkan Tel Aviv dan kota-kota di Israel lainnya. Militer Israel mengatakan salah satu rudal yang menghantam Tel Aviv membawa hulu ledak seberat 220 pon.

Kementerian Kesehatan pemerintah zionis Israel pun mengatakan, hampir 4.800 orang telah terluka akibat serangan Iran terhadap Israel sejak perang dimulai. Democracy Now menghubungi Daniel Levy, di London.

Levy adalah presiden proyek Timur Tengah AS, mantan negosiator perdamaian zionis Israel di bawah Perdana Menteri Israel Ehud Barak dan Yitzhak Rabin. Belakangan hari, Levy menulis artikel untuk Artikel terbarunya -- tentang perang ilegal dengan Iran -- untuk Zeteo bertajuk, "Mengapa Netanyahu Menipu Trump."  

Sebelum memulai percakapan dengan Democracy Now, Levy mengingatkan, Israel merupakan satu-satunya negara bersenjata nuklir di kawasan Timur Tengah, ini. Levy juga mengingatkan, semua pihak untuk bertindak sekarang. (Mencegah penggunaan senjata nuklir dalam perang yang tengah berlangsung).

"Kita harus bertindak sekarang. Mereka (khasnya zionis Israel) telah mencoba menarik presiden-presiden Amerika berturut-turut ke dalam perang (di kawasan) itu untuk melancarkan kampanye militer semacam itu. Mereka tidak pernah berhasil," ujarnya.

Levy menegaskan, "Anda telah memiliki presiden-presiden Amerika selama beberapa dekade dari partai mana pun yang berkuasa, yang telah menciptakan lingkungan yang sangat permisif bagi Israel di kawasan ini dan khususnya ketika menyangkut kejahatan perang Israel yang konsisten terhadap Palestina."

AS Terkunci dalam Perang

Levy juga mengingatkan, AS belum memiliki seorang presiden yang dapat memimpin operasi militer semacam ini. Dan kita melihat sekarang, hampir di bulan terakhir perang ini.

Dari realitas itu, menurut Levy, Netanyahu melihat peluangnya, karena kita berada di era baru. Ini bukan era Pax Americana dengan semua kelonggaran terhadap Israel. Masih ada mekanisme pemutus tertentu.

"Kali ini Israel melihat kita berada di era yang saya sebut sebagai Israel Raya versi Pax," katanya. "Ini tentang seberapa jauh Israel dapat memperluas kekuasaannya."

Levy juga mengingatkan, seberapa besar kekuatan keras yang dominan dapat menjadi hegemoni di kawasan ini, merebut sebagian wilayah Suriah dan Lebanon, dan mencoba menyelesaikan pendekatan 'menghilangkan' Palestina. Dan yang terpenting, untuk melakukan itu, AS harus melemahkan Iran secara militer.

Di sisi lain, Levy menyatakan, bahwa dalam pemerintahan Trump masih ada kaum neokonservatif yang masih berpengaruh di AS yang telah membawa AS masuk ke dalam perang Israel dengan Iran.

Netanyahu akan merawat ambisinya mencapai dominasi zionis Israel yang lebih besar di kawasan itu, termasuk pelemahan negara-negara Teluk, yang memang disengaja, dengan mengorbankan reputasi, politik, dan aset ekonomi AS yang semakin terkikis dalam perang ini.

AS terkunci dalam perang ini ! | jeanny

Editor : haedar | Sumber : democracy now + sumberlain
 
Lingkungan
28 Apr 26, 14:29 WIB | Dilihat : 215
Jumhur Hidayat
03 Des 25, 18:35 WIB | Dilihat : 799
Jangan Pernah Menentang Semesta
04 Agt 25, 02:48 WIB | Dilihat : 1479
Almaty Kazakhtan Sentra Suara Akal Sehat
Selanjutnya
Ekonomi & Bisnis
16 Apr 26, 19:38 WIB | Dilihat : 270
Pertamina Hulu Energi Raih IFR Asia Award 2025
25 Feb 26, 18:17 WIB | Dilihat : 529
Kata Mat Sabu Stok Beras Cukup
06 Feb 26, 10:04 WIB | Dilihat : 671
Optimistis Iklim Bisnis Lebih Baik
Selanjutnya