AKARPADINEWS.Com - Sepuluh tahun sudah bencana tsunami Aceh berlalu, Aceh mampu bangkit secara cepat dengan memperbaiki infrastrukturnya. Terlihat kota Banda Aceh lebih bersih dan modern dari sebelumnya. Tetapi, trauma dari sebagian penduduknya belum berlalu.
Hal itu nampak jelas tergambar dari raut wajah sebagian warga kota Banda Aceh yang terkena sapuan tsunami pada 26 Desember 2004 lalu. Sebut saja, Pak Slamet, seorang pegawai bank di Kota Serambi Mekah itu.
Dengan wajah datar, Slamet menceritakan peristiwa kelam yang merenggut anak dan istrinya pada kesempatan bertemu Akarpadinews di Banda Aceh beberapa waktu lalu. Laki-laki berusia lebih dari 55 tahun itu menyatakan, belum bisa melupakan peristiwa itu. “Peristiwa itu masih lekat dalam ingatan saya dan tak bisa hilang begitu saja tetapi saya sadar harus bangkit untuk melanjutkan hidup,”katanya.
Ketika peristiwa itu terjadi, Slamet dan keluarga berada di rumah di kota Banda. Tiba-tiba di pagi hari guncangan hebat menyentakkannya. Dia lantas terbangun dan berupaya menyelamatkan diri dengan keluarganya. Sayangnya, dia dan keluarganya terpisah oleh derasnya arus air yang menyapu kota Banda, sehingga hingga kini Slamet tak bisa bertemu dengan keluarganya itu.
Hari-hari dijalani Slamet dengan rasa rindu yang teramat dalam pada keluarga. Pun, perlahan-lahan Slamet mencoba melupakan peristiwa itu dengan kembali beraktivitas dan menjalani hari-harinya seorang diri berkarya di kantor sebuah bank di Loksumawe.
Slamet adalah satu dari keluarga 126.741 jiwa yang meninggal, 93.285 jiwa hilang, 500.000 orang kehilangan tempat tinggal, dan hampir 750.000 orang kehilangan pekerjaan dalam peristiwa 26 Desember 2004.
Trauma Yang Masih Mengelayut
Trauma yang menguncang jiwa sebagian warga Aceh juga ditemui penulis ketika berkunjung di masjid kebanggaan masyarakat Aceh yang masih kokoh berdiri, Masjid Raya Baiturrahman.
Pada suatu sore usai sehari menjelang perayaaan tahun baru Islam, banyak anak-anak yang mengaji di masjid itu. Tetapi, ketika pandangan menyapu di sekitar pelataran masjid, ada beberapa laki-laki dan perempuan duduk seorang diri memandang kosong taman masjid yang kini kembali tertata rapi dan menghijau lagi.
Nampak jelas dari penampilannya, orang tersebut terlihat masih berduka dan terguncang jiwanya. Ketika penulis mencoba berbincang dengan warga setempat, tak banyak kata dari mulut mereka, malah terkesan menghindar saat ditanya tentang peristiwa tersebut.
Selidik punya selidik, ternyata memang banyak warga yang datang ke masjid Baiturrahman tak hanya sekadar beribadah tetapi juga untuk mengenang keluarga mereka yang hilang pada peristiwa itu.
Beberapa media melansir bahwa ribuan warga Aceh yang mengalami gangguan jiwa paska-tsunami belum bisa tertangani karena minimnya jumlah psikiater. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Aceh, ada 18.000 orang pasien jiwa dan baru separuhnya yang bisa ditangani.
Dinas Kesehatan Aceh memiliki program bernama Konseling Trauma dengan menggandeng sejumlah lembawa swadaya masyarakat dan universitas seperti Universitas Gadjah Mada dan Universitas Indonesia.
Merujuk dari kondisi jiwa sebagian dari warga Aceh yang ditemui Akarpadinews dan data kesehatan pemprov Aceh, bisa disimpulkan bahwa 10 tahun berlalu, tak mudah mengapus traumatik dan luka hati masyarakat Aceh. Meski begitu, kebangkitan masyarakat Aceh yang begitu cepat atas sikap tanggap pemerintah pusat serta bantuan dunia dalam membangun Aceh merupakan pelibur lara sebagian kecil dari traumatik dari masyarakat Aceh. Pelan tapi pasti, kesedihan itu berubah menjadi harapan baru.
“Aceh sekarang lebih bagus dan bersih serta lebih baik dari sebelumnya,”ujar Arsyad, yang menemani kami berkeliling kota Banda Aceh.
Dari pantauan Akarpadinews.com memang terlihat kota Banda Aceh dan sekitarnya lebih tertata rapi. Selain, berderet bangunan rumah baru, yang dibangun pemerintah dan lembaga donor, sebagai penganti rumah yang hancur dan hanyut, nampak pula situs-situs bersejarah tsunami juga dibangun oleh pemprov sebagai saksi peristiwa tersebut.
Semisal, monumen Tsunami Aceh yang didanai oleh banyak negara yang membantu kebangkitan infrastruktur Aceh, Kapal di Atas Rumah, yang hingga kini masih berdiri kokoh di rumah warga dan kapal Plt Apung yang juga menyelamatkan beberapa warga kala itu.
Wapres Pimpin Peringatan 10 tahun Tsunami
Jumat, 26 Desember 2014 ini adalah peringatan 10 tahun tsunami Aceh. Wakil Presiden Jusuf Kalla memimpin peringatan 10 tahun tsunami yang dipusatkan di Lapangan Blang Padang, Banda Aceh, Nanggroe Aceh Darussalam, yang juga diikuti seribuan masyarakat dari dalam dan luar negeri.
Media lokal dan nasional melaporkan, acara tersebut dihadiri oleh Ibu Mufidah Jusuf Kalla, para menteri Kabinet Kerja, Gubernur Aceh Zaini Abdullah, duta besar, perwakilan negara asing, serta masyarakat Indonesia, peringatan berlangsung dimulai pada pagi hari.
Sebelum memimpin peringatan tersebut, Wapres Jusuf Kalla dan rombongan terbatas ziarah ke makam massal Siront, tempat dimakamkannya ribuan warga Aceh yang tewas saat diterjang tsunami.
Bencana tsunami di Aceh pada 26 Desember 2004 disebabkan oleh gempa bumi berkekuatan 9,3 SR yang berpusat di 3,3 LU - 95,98 BT. Gempa tersebut menimbulkan getaran kuat dan patahan sepanjang sekitar 1.200 km yang membentang dari Aceh sampai ke Andaman.
Musibah Banjir
Dan kini di penghujung tahun 2014 di berbagai wilayah Indoneia terkena musibah banjir, tak terkecuali sebagian daerah di wilayah Aceh juga terkena musibah banjir. Warga dan pemerintah Aceh pun diharapkan lebih tanggap dalam mengantisipasi datangnya bencana alam, seperti banjir dan longsor. Meskipun hal itu masih jauh dari harapan ditengah minimnya sarana mitigasi bencana tsunami di Banda Aceh, seperti gedung evakuasi dan jalur evakuasi, yang tidak terawat.
Tiga gedung evakuasi yang terletak di Gampong Daeng Lumpang, Alue Deah Teungoh, dan Lambung, secara umum kondisinya masih kokoh, tetapi tidak terawat. Lantai gedung-gedung evakuasi itu banyak yang pecah. Lampu penerangan tak menyala dan banyak pintu di sejumlah gedung evakuasi terlepas dari posisinya.
Gubernur Aceh Zaini Abdullah mengakui memang banyak fasilitas mitigasi bencana tsunami di Aceh tak terawat. Hal itu terlihat saat sirene tsunami tak berbunyi ketika gempa di Aceh, April 2012. Kondisi berulang saat sirene tsunami tak berbunyi maksimal saat simulasi gempa dan tsunami di Banda Aceh pada Oktober 2014, seperti diberitakan sejumlah media nasional.
Semoga saja kekurangan sarana mitigasi di Aceh segera bisa ditanggulangi dan mudah-mudahan pemprov di seluruh Indonesia dan masyarakat bisa belajar dari pengalaman masa lalu dalam menyikapi sebuah bencana alam.
Sikap peduli pada lingkungan harus lebih ditekankan bagi sebagian besar masyarakat di Indonesia. Pasalnya, musibah tak bisa diduga kapan datangnya. Meminimalisir kerusakan alam adalah tugas manusia, yang pada akhirnya manusia hanya berupaya mencegah terjadinya bencana alam, tetapi hasilnya tergantung Yang Maha Esa. Mari menjaga kelestarian alam dan berdoa untuk keselamatan bumi Indonesia tercinta dari beragam musibah dengan aksi nyata.