Tegakkan Disiplin Diri untuk Hidup Sehat

| dilihat 177

catatan bang sèm

Satu satu pergi. Pulang kepada Allah Al Khaliq, Maha Pencipta. Hampir setiap hari, kabar duka menghiasi laman media sosial, termasuk saluran aplikasi pesan whatsapp, baik personal maupun grup.

Empat tahun lalu, sebulan sebelum wafat, di awal memasuki hari-hari pensiun, allahyarhamah isteri saya -- yang selama beberapa tahun sangat sibuk menangani perbaikan sistem layanan pasien miskin di Rumah Sakit Umum Pusat Nasional dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta, tercetus bicara. Ia mengatakan, Indonesia dan beberapa jiran di kawasan Asia Tenggara, akan mengalami kerumitan, bila mengalami pandemi atau epidemi.

Pasalnya? Kualitas kesehatan lingkungan kita relatif buruk. Sistem kesehatan masyarakat kita menghadapi persoalan rumit bersamaan dengan perubahan gaya hidup yang tak lagi sehat. Termasuk sistem sanitasi mulai dari lingkungan rumah tangga sampai lingkungan sosial. Belum lagi kerusakan alam yang berdampak pada perubahan iklim yang anomali. Virus mudah berkembang biak dan mengalami mutasi dengan berbagai varian.

Suatu malam, selepas makan malam di salah-satu apartemen kawasan Kuala Lumpur City Center, usai menyaksikan sebuah film dokudrama tentang lantaknya suatu kota diserang virus penyakit yang tak dikenali sebelumnya, allahyarhamah cerita tentang peristiwa pandemi Black Death yang pernah terjadi berabad lampau dan melantakkan Eropa, juga kawasan Mediterania.

Ia berkomentar tentang pengelolaan River of Life sebagai salah satu contoh yang patut dicontoh Jakarta dan kota-kota besar lainnya di Asia Tenggara, tanpa harus terjebak oleh perdebatan tak perlu tentang normalisasi dan naturalisasi. Kata kuncinya adalah kembali pada kecerdasan dan kearifan budaya, yang berkembang akibat pengalaman empirik .

Setarikan nafas adalah pembenahan serius situasi infrastruktur kesehatan dalam menanggulangi sampah infeksius yang merupakan ruang rawan infeksi nosokomial. Selebihnya adalah pengendalian gaya hidup, yang dalam banyak hal sudah terkuasai oleh cara pandang instan. Termasuk pola konsumsi junkfood, serta pengendalian narkotika dan obat-obat terlarang.

Alih fungsi lahan besar-besaran, yang selain rawan dengn kebakaran hutan, pencemaran sungai, pantai, dan laut, juga pencemaran udara.

Saya mengingat ulang semua percakapan yang intens terjadi pada bulan-bulan menjelang wafat. Termasuk sikap tegasnya melarang cucu-cucu mengunjunginya di rumah sakit. Karenanya komunikasi dengan cucu-cucu banyak dilakukannya melalui aplikasi komunikasi virtual masa itu yang masih terbatas. Semua orang, menurutnya, tak peduli balita (bawah lima tahun) apalagi dialita (di atas lima puluh tahun) harus terkondisikan untuk hidup disiplin.

Hidup disiplin, tak ngeyel -- apalagi sampai bedegong (keras kepala) -- menerima informasi nyata tentang kondisi obyektif kesehatan publik, adalah cara preventif yang mesti dipilih. Selebihnya adalah, jangan politisasi semua aspek terbabit kesehatan.

10 Juni 2010, saat berbincang ringan dengan Presiden SBY dan Ibu Ani Yudhoyono saat berkunjung ke kantor saya, ia mengemukakan hal itu. Politisasi dalam bentuk intervensi politisi yang cenderung tidak mendidik rakyat dan kerap menganggu proses layanan kesehatan, hanya untuk dan atas nama kepentingan politik sesaat.

Allahyarhamah kerap mengutarakan, bagaimana friksi tak terhindarkan antara dirinya dengan politisi. Setiap kali menghadapi intervensi dan 'tekanan' politisi yang sama sekali tak mempertimbangkan kondisi obyektif ekstensi kesehatan (dari Puskesmas sampai Rumah Sakit Umum Pusat Nasional) sikapnya selalu keras dan tegas. Sikap itu juga yang sering ditularkannya pada semua kemenakan dan kerabat yuang berprofesi di dunia kedokteran, 'ibu ilmu kesehatan.'

Disiplin khalayak untuk mematuhi prosedur kesehatan secara tepat dan benar adalah jalan terbaik memulihkan kondisi kesehatan masyarakat. Selebihnya adalah bersikap ekuit dan ekual, setara dan adil.

Jangan merasa diri lebih penting dan harus didahulukan dibandingkan dengan masyarakat kebanyakan, khasnya di rumah sakit umum, walaupun sudah ada kategori pelayanan. Termasuk klasifikasi dalam sistem jaminan kesehatan.

Semua orang, rakyat jelata sekalipun, berhak mendapatkan layanan terbaik. Namun, jangan lupakan fakta, bahwa jumlah tenaga kesehatan tak berbanding ideal dengan jumlah orang yang sakit. Apalagi di masa pandemi seperti ini.

Saya selalu ingat ungkapan allahyarhamah, ketika berbincang pagi hari sebelum pamit kerja. "Pemerintah selalu memperbaiki kondisi untuk mencapai tahap layanan kesehatan terbaik bagi semua orang, tapi banyak faktor lain yang mempengaruhi."

Intinya adalah, allahyarhamah ingin mengatakan, seluruh eksponen layanan kesehatan selalu terkondisikan untuk berbuat optimal menyelamatkan kesehatan seluruh khalayak. Tapi, usaha itu akan menghadapi masalah, ketika khalayak tidak mengimbangi dengan disiplin diri untuk hidup sehat.

Dalam konteks itu, kolaborasi dan sinergi positif harus dilakukan, ketika setiap anasir (pemerintah, politisi, tokoh masyarakat, pemuka agama, dan lainnya) sungguh peduli dan berbuat nyata mendidik diri sendiri, lingkungan sosial teredekat, dan khalayak luas untuk mengubah minda hidup sehat yang sesungguhnya. Situasi pandemi nanomonster Covid-19 merupakan isyarat semua kalangan di Indonesia, mesti mengubah minda (tata pikir) mendahulukan kualitas kesehatan rakyat di semua peringkat. Minimal, setiap orang menjadi pelayan kesehatan bagi dirinya sendiri. |

Editor : eCatri | Sumber : sumberfoto IG dan Youtube
 
Polhukam
13 Jan 22, 09:43 WIB | Dilihat : 96
Demokrasi Palsu dalam Arus Politik Global
11 Jan 22, 09:09 WIB | Dilihat : 107
Politik Suasana Hati Rakyat
Selanjutnya
Energi & Tambang
29 Mar 21, 20:15 WIB | Dilihat : 454
Pertamina Jamin Pasokan BBM Aman
28 Jan 20, 13:31 WIB | Dilihat : 1335
Komitmen Budaya pada Reklamasi Pertambangan
22 Okt 19, 12:46 WIB | Dilihat : 1542
Sinergi PHM dengan Elnusa Garap Jasa Cementing di Rawa
Selanjutnya