
SENIN, 29 April 2024. Siang yang cerah dan bergelora. Tak kurang dari 150 mahasiswa Pantheon Sorbonne, Paris bergerak menuju ke satu titik, Place du Pantheon yang menjadi bagian dari lanskap salah satu universitas tertua di dunia itu.
Di plaza yang bersejarah, itulah para mahasiswa dari berbagai fakultas berkumpul, setelah melintasi Rue Soufflot, Fakultas Sastra dari arah bulevar Saint Michel, Rue Cujas, Rue Saint Jacques, dan Perpustakaan Sainte Geneviève.
Mereka melakukan aksi unjuk rasa, sambil mendendangkan syair dengan irama yang serempak. Menggetarkan, "Gaza, Sorbonne Est Avec Toi." Gaza.. Sorbonne bersamamu!
Bendera Palestina berbagai ukuran, termasuk ukuran raksasa, mereka kebas dan kibar-kibarkan sehingga bergelora. Cipratan tinta warna merah, tampak di tengah, mengisyaratkan telah terjadi kejahatan kemanusiaan yang merampas peradaban.
Tampak juga spanduk dan poster beragam yang ditulis tangan, yang mewarnai lingkungan kampus. Syair yang lebih terasa sebagai teriakan batin, "Gaza, Sorbonne bersamamu!" terus terdengar berulang-ulang. Selepas itu, lusinan tenda mereka dirikan di atas hampar bebatuan Latin Quarter.
Lorélia Frejo, seorang mahasiswi sekolah pasca sarjana EHESS (The École des Hautes Études en Sciences Sociales) / Paris 1, mengungkap di akun X-nya, "On est devant La Sorbonne aujourd’hui contre le génocide en Palestine, pour soutenir nos camarades de Sciences Po, Columbia, Harvard qui ont montré la voie ! La mobilisation reprend Palestine." [Kami berada di gerbang Sorbonne hari ini, melawan genosida di Palestina, mendukung rekan-rekan kami dari Sciences Po, Columbia, dan Harvard yang telah menunjukkan jalannya!. Mobilisasi berlanjut].
Perlawanan dan Solidaritas
Keterlibatan Frejo mengesankan, karena mahasiswa di sekolah pasca sarjana ilmu-ilmu sosial - EHESS, terkenal dengan disiplin dan agenda yang sangat ketat. EHESS sangat khas dengan kedudukan unik dalam dunia penelitian dan pendidikan, sekaligus menempati posisi sentral kehidupan intelektual Perancis.
Frejo dan koleganya ikut melakukan demonstrasi menunjukkan kuat dan teguhnya pendirian mereka untuk meneruskan tradisi perjuangan kaum tertindas, ekologi dan anti-fasisme.
Aksi yang dilakukan mahasiswa Sorbonne terkesan sebagai panggilan nurani yang kuat. Tidak hanya sebagai ekspresi solidaritas insaniah, jauh dari itu adalah kesadaran melawan kejahatan kemanusiaan dan penghancuran peradaban yang dilakuikan oleh zionis Israel di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Benjamin Nenjahu yang biadab.
Aksi mereka mengikuti aksi yang sudah dilakukan lebih awal oleh para mahasiswa Sciences Po - Lyon, Le Havre dan Poitiers, Columbia University dan Harvard University di Amerika Serikat. Sorbonne memang punya relasi dan program kuat dengan Columbia University, sekaligus menjadi pusat perlawanan dan solidaritas di Paris.
Mereka mengecam aksi genosida yang menggambarkan dehumanisasi paling biadab yang dilakukan Israel atas rakyat Palestina di Gaza, juga Rafah.
Cathu Isnard menulis pada laman Revolution Permanente, "Para mahasiswa yang hadir dalam aksi tersebut memutuskan untuk bergabung dengan gerakan internasional melawan genosida di Gaza dan mendukung gencatan senjata. Saat tentara Israel bersiap menyerang kota Rafah, para mahasiswa mengecam keterlibatan negara Prancis dalam pembantaian di Gaza."

Nyaris Tak Terbendung
Ariane Anemoyannis, juru bicara Le Poing Levé - anggota Komite Palestina di Paris 1, menjelaskan dari halaman Sorbonne, aksi ini adalah gerakan menentang pembantaian, yang berarti mendesak dan menghentikan keterlibatan Prancis dalam kebiadaban Israel. Komite juga menuntut diadakannya peringatan "untuk mengenang orang-orang tak berdosa yang dibunuh olehzionis Israel".
"Kami muak dengan keterlibatan universitas-universitas kami dengan universitas-universitas Israel, juga dengan kelompok-kelompok besar yang menghasilkan uang dari pembantaian di Gaza dan Tepi Barat. Itulah sebabnya kami memutuskan untuk mendirikan tenda, memancang dan mengibarkan bendera Palestina di halaman kampus Sorbonne," ungkap Anemoyannis, menahan geram.
Selain meneriakkan "Gaza, Sorbonne Est Avec Toi," mereka juga menyeru "Free Palestine !.. Liberatè Palestine!" berulang-ulang, senada dengan semboyan Revolusi Perancis, Libertè - Ègalitè - Fraternitè (kemerdekaan, keadilan, persaudaraan).
Unjuk rasa para mahasiswa segera menarik perhatian dunia melalui liputan para juruwarta secara multi media, multi channel dan multi platform. Aksi mahasiswa ini nyatris tak terbendung, sehingga pihak administrasi universitas cekatan menutup pintu masuk ke pusat aksi mereka.
Upaya itu dilakukan untuk mencegah mahasiswa dari berbagai kampus Sorbonne lainnya bergabung dengan gerakan tersebut. Tindakan pihak administrasi kampus menyebabkan massa aksi justru meruyak.
Ramai pendukung aksi berkumpul di Place de la Sorbonne untuk juga mengibarkan bendera Palestina dan terus menyanyikan lagu dukungan kepada Palestina dan rutuk kutuk kepada zionis Israel, serta teriakan aspiratif untuk Presiden Prancis Emmanuel Macron yang mereka nilai lemah. Laiknya Inggris Raya dan Jerman, yang tak berani keluar dari persekutuan dengan Amerika Serikat yang mendukung zionis Israel.
Sebelumnya, aksi serupa dilakukan mahasiswa Sciences Po (Institut Studi Politik) yang elit di Paris dan di Lyon. Aksi di Sorbonne menandai, bahwa apa yang sudah dilakukan di kampus-kampus Amerika Serikat (Columbia, Harvard, Oregon, Michigan, dan lain-lain) sudah menjalar dan meluas ke Eropa untuk menentang serangan zionis Israel yang menghancurkan Gaza sudah memasuki bulan ketujuh.
Para pengunjuk rasa di Sorbonne menyampaikan protes dan mendesak pimpinan Universitas Sorbonne – salah satu universitas tertua di dunia – untuk mengutuk tindakan Israel.

Kesadaran tentang Genosida di Gaza
Sikap dan aksi mereka mengundang simpati dan dukungan dari politisi Prancis Mathilde Panot, yang memimpin kelompok sayap kiri LFI (La France Insoumise) di Majelis Nasional. Panot menyerukan pendukungnya untuk bergabung dengan aksi -aksi mahasiswa di Sciences Po dan Sorbonne.
Melihat situasi yang terus mengalami esakalasi, pemerintah Prancis mengirim satuan polisi untuk mengamankan jalan di gerbang masuk Sorbonne. Kehadiran mereka,bergerak sistemik menghadapi, menghalau, dan membubarkan para pengunjuk rasa. Tapi ratusan mahasiswa menghadang para polisi tersebut.
Wartawan Reuter - Lucien Libert mencatat, polisi dengan caranya bergerak merangsek. Bila terjadi perlawanan sengit, mereka akan melakukan aksi seperti biasa dalam menangani unjuk rasa yang berakhir kisruh, bahkan bisa mengundang amuk.
Kepada Libert, Louise Maziere, mahasiswa Sorbonne - pengunjuk rasa - menyatakan, “Kami melakukan semua yang kami bisa untuk meningkatkan kesadaran tentang apa yang terjadi di Palestina, tentang genosida yang sedang berlangsung di Gaza.” Akan halnya Lous, rekan Maziere mengatakan, aksi mereka sesungguhnya mendorong gencatan senjata di Gaza dan Rafa - Palestina. “Apa yang kami dorong adalah perdamaian dan mereka membalasnya dengan kekerasan dan kekerasan.”
Polisi Prancis yang seringkali tidak sabaran menghadapi pengunjuk rasa mahasiswa, akhirnya merangsek. “Polisi lantas berlari masuk, menurunkan tenda, menarik kerah mahasiswa dan menyeret mereka ke tanah, itu tidak apa-apa… Meskipun kami cukup terkejut,” ujar Maziere. Mahasiswa tak ngotot, sehingga insiden yang mengundang amuk dapat dikendalikan.
Kampus utama Universitas Sorbonne akhimya menutup gedung kampusnya pada hari itu. Tapi pimpinan universitas belum merespon tuntutan mahasiswa, agar salah satu universitas tertua di dunia, itu mengutuk zionis Israel.
Aksi genosida yang dilakukan zionis Israel menurut mahasiswa pengunjuk rasa, sudah sangat biadab. Pasukan zionis Israel mengepung Gaza dan mulai menyerang Rafah. Mereka melancarkan serangan udara dan darat yang merenggut, sedikitnya 34.488 warga Palestina, seperti daya yang diungkap otoritas kesehatan Gaza.
Meski 'dibubarkan' polisi, para pengunjuk rasa terus meneriakkan seruan mereka, seperti seruan para pengunjuk rasa di kampus-kampus Amerika Serikat.

Terus Bergerak
Sebelum aksi di Sorbonne, pada hari Jumat sebelumnya, polisi turun tangan mengatasi keadaan, ketika sekitar 50 pengunjuk rasa tandingan ( pro-Israel) tiba di kampus Sciences Po - Paris, tempat lebih dari seratus pengunjuk rasa pro-Palestina menduduki sebuah gedung, setelah beberapa hari melakukan aksi duduk dan protes.
Para pengunjuk rasa bersetuju melakukan 'debat internal' tentang hubungan universitas tersebut dengan Israel. Otoritas institut Sciences Po juga setuju membatalkan semua proses disipliner terhadap para demonstran, sesuai pernyataan catatan yang dikirimkan administrator Sciences Po, Jean Basseres kepada mahasiswa dan fakultas.
Sebelumnya, pihak institut Sciences Po gagal membuat para mahasiswa meninggalkan tempat unjuk rasa itu dengan damai. 50 polisi telah kontak dengan mahasiswa, sedang 100 lainnya berjaga di luar kampus. Kehadiran polisi atas laporan pihak administrasi institut.
Tindakan manajemen kampus tersebut dikecam mahasiswa pengunjuk rasa, “Direktur telah melewati garis merah dengan memutuskan untuk mengirim polisi,” kata Ines Fontenelle, salah seorang pengunjuk rasa. “Manajemen harus mengambil langkah-langkah untuk memulihkan iklim kepercayaan.”
Tindakan manajemen kampus dan polisi mendapat respon dari Juru bicara serikat pekerja Eleonore Schmitt, dan mengatakan para mahasiswa akan terus melakukan mobilisasi “meskipun ada penindasan."
Gerakan mahasiswa yang ditopang kesadaran kemanusiaan dan keberadaban tersebut, menilai pihak kampus, polisi, dan pemerintah Prancis mengabaikan pelajaran pertama filosofi bernegara. Mereka hanyut oleh ikatan-ikatan persekutuan dengan Amerika Serikat. Padahal, mereka (pimpinan kampus dan teknokrat dalam pemerintahan Macron) umumnya merupakan kalangan mahasiswa doktoral dekade 1970 an-1980 an. | Florence Tique