
MBOK Karyati, hanya nenek biasa berusia 68 tahun. Penduduk desa Pondok Wuluh – Kecamatan Leles, Probolinggo – Jawa Timur, itu bercita-cita menjalankan ibadah haji ke Mekkah, 20 tahun lalu.
Karena sadar dirinya hanya seorang pemulung, penduduk desa Pondok Wuluh, Kecamatan Leces, Probolinggo itu tak bermimpi muluk-muluk untuk memenuhi cita-citanya. Ia tak meminta batuan atau membebani keempat anaknya. Apalagi orang lain.
Yang dilakukan Mbok Karyati adalah memanifestasikan pemahamannya tentang hakekat istita’a (kemampuan) secara yang tepat: menabung. Maka dijalaninya seluruh dinamika hidup selama 20 tahun dengan teguh pendirian. Menabung secara konsisten (istiqamah).
Musim haji tahun lalu, Mbok Karyati cita-citanya tercapai. Bersama jama’ah haji Kloter 43 embarkasi Juanda – Surabaya, ia ‘terbang’ ke Mekkah, memenuhi panggilan Allah Mahakuasa, bergabung bersama jutaan jamaah dari seluruh dunia.
Tak terbayangkan sukacita Mbok Karyati berhasil memenuhi harapan suci yang lama dipendamnya itu. Tapi, di balik sukacita itu, Mbok Karyati memberikan pelajaran amat berharga. Sekembali dari beribadah haji, ia lebih bersemangat menjalani hidup, memadu padan ibadah spiritual dan ibadah karya.
Niat suci harus diwujudkan dengan kiat dan siasat yang benar, serta tak membebani siapapun. Di tengah kehidupan sosial yang kian buram dengan ‘siasat jalan pintas,’ ia adalah cermin hidup bagi semua orang.
Kesabaran, keikhlasan, dan manifestasi rasa syukur dengan konsisten bekerja akan membuahkan hasil yang baik dan indah. Bagi saya, nilai ibadah haji Mbok Karyati boleh jadi lebih tinggi dibanding ibadah haji mereka yang menggunakan fasilitas dan membebani negara.
Mbok Karyati juga cermin jernih untuk belajar bagaimana memahami hakekat eksistensi insaniah kita sebagai manusia yang diberikan akal pikiran, nurani, rasa, dan indria. Pikiran untuk mengolah kiat dan siasat yang baik dalam mewujudkan harapan dan cita-cita. Nurani untuk menerima realitas hidup dengan ikhlas, dan rasa untuk selalu memotivasi diri agar tak pernah henti bersyukur.
Dari ikhtiar Mbok Karyati memenuhi harapannya, kita belajar tentang hakekat sabar sebagai optimisme yang harus dilakoni dengan menjalani kehidupan secara konsisten. Darinya kita juga belajar tentang hakekat ikhlas sebagai kesungguhan untuk selalu konsisten memelihara kualitas diri untuk selalu konsekuen dengan prinsip hidup.
Dari Mbok Karyati kita mendapat pelajaran pula tentang syukur sebagai konsistensi kerja bersungguh-sungguh secara tanpa henti.
Di punggung mbok Karyati, seolah-olah Tuhan meletakkan cermin agar kita mempunyai kemauan dan kemampuan beajar menghargai setiap kesempatan dan fungsi diri kita dalam kehidupan sehari-hari. Bagi Tuhan, tak penting apa dan bagaimana posisi kita di tengah konstelasi sosial masyarakat sehari-hari. Karena yang terpenting adalah siapa yang paling bertakwa. Yaitu, siapa yang paling konsisten menunjukkan cinta dan kepatuhannya kepada Tuhan.
Cinta dan kepatuhan itulah yang membuat segala urusan hidup sebenarnya bukan merupakan beban, melainkan peluang yang harus dikelola dan dimanifestasikan dengan cara yang benar. Itulah hakekat hidup dan kerja sebagai ibadah.
Benar yang dikatakan Jalaluddin Rumy: “Ketuklah pintu-Nya, Dia akan membuka pintu untukmu. Lenyap (ke dalam cinta-Nya), Dia akan membuatmu bersinar laksana matahari. (Ketika) terjatuh, (cinta-Nya) akan mengangkatmu ke langit. Ketika kita merasa tidak sebagai sesuatu (dan bukan apa-apa), Dia akan mengubah kita menjadi segalanya.”
Kesungguhan kerja, keikhlasan berkarya, kemauan menjalani hidup dengan cara yang benar, akan memungkinkan Tuhan menempatkan kita sebagai kekasih-Nya. Karenanya, jangan pernah putuskan cinta kepada-Nya. Teruslah bercengkerama dalam cinta-Nya, karena di sana, kita akan selalu menemukan cara terbaik untuk mewujudkan cita dan harapan kita. | Bang Sem