
Bang Sem
SALAH satu nasehat yang paling saya suka adalah nasehat Luqmanul Hakim kepada anaknya. Terutama, ketika beliau bercerita tentang nasehat itu sendiri. Luqmanul Hakim berseru,”Wahai anakku, orang yang selalu menasehati dirinya sendiri akan selalu mendapatkan perlindungan dari Allah Ta’ala. Dan orang yang jujur terhadap dirinya sendiri, Allah akan menambahkan kemuliaan untuknya. Dan merendahkan diri (dan hati) demi melakukan ketaatan kepada Allah Ta’ala, akan semakin membuat dia mulia”.
Ketika sedang merasa sunyi sendiri, lantaran tak sua dengan anak – karena kesibukan masing-masing -, seringkali saya tertegun acapkali mengingat pernyataan Luqmanul Hakim ini. Ya.. menasehati diri sendiri dan jujur terhadap diri sendiri, seringkali menjadi sesuatu yang abai kita lakukan. Selalu saja kecenderungan menasehati anak atau menasehati orang lain, mendominasi pikiran dan perasaan.
Ketika bercermin pada setiap pagi, saat bangun tidur, seringkali pikiran dan perasaan tergedor untuk menasehati diri sendiri, kemudian jujur dengan diri sendiri. Seringkali kita malu sendiri, acap anak – saat berkumpul – meminta nasehat. Karena ternyata, setiap kali kita memberi nasehat, sesungguhnya kita sedang menasehati diri sendiri.
Seringkali saya berfikir, apa sudah pantas memberi nasehat kepada anak atau siapa saja. Apalagi ketika kita sadar, kadangkala saat memberi nasehat, ikut mengalir juga hasrat, kehendak, keinginan, dan kemauan subyektif kita, yang belum tentu sesuai dengan kepentingan atau keperluan anak atau siapa saja yang dinasehati. Situasi semacam itulah, agaknya, yang sering membuat nasehat menjadi ‘angin lalu’.
Suatu ketika, karena terlalu kuatir, saya mengirim pesan singkat kepada anak saya, menasehatinya untuk langsung pulang ke rumah, ketika urusannya usai. Saya tersentak, saat ia membalas pesan singkat itu dengan kalimat pendek yang sedemikian lugas: “kalau tidak langsung pulang ke rumah, memangnya mau pulang ke mana?”
Pada kesempatan lain, saya menasehati salah satu anak saya untuk tidak bicara keras kepada adiknya. Di luar dugaan, dia berkata, ”Ya.. Tapi, tolong, ayah tidak bicara keras juga dengan siapapun di rumah ini”.
Suatu ketika, seorang sahabat lama yang sedang mengalami friksi dengan suaminya meminta nasehat, ihwal bagaimana dia mesti menyikapi sikap suami yang sering pulang dinihari. Lantas, seringkali nampak kesal, setiap kali dia mempertanyakan.
Sang suami, bukan menjawab pertanyaannya dengan baik, malah menudingnya, terlalu posesif sebagai isteri. Cglk saya tercekat. Tak bisa berkata-kata.
Sambil senyum saya hanya bisa bilang pada dia: “Maaf, saya tidak bisa memberi nasehat soal yang satu ini”. Saya malu hati. Selain karena sangat sering pulang dinihari, saya tak tahu apa yang semestinya dilakukan isteri menyikapi kondisi semacam itu. Karena dia mendesak terus, akhirnya saya bilang: “Sambut dia dengan senyum, lalu sambut dengan ucapan alhamdulillah, karena meski sudah dinihari, toh dia pulang juga.. Lantas, beritahu kegusaranmu menanti dia pulang, lantaran seluruh saluran selulernya, sulit dihubungi”.
Apa yang saya sampaikan sebagai nasehat kepada sahabat saya, itu sesungguhnya hanyalah keinginan obsesif saya. Anehnya, ketika dia praktikan, malah suaminya yang meminta nasehat. “Tolong nasehati aku, bagaimana mesti membalas kebaikan isteriku?” Saya bilang padanya: “Jangan lagi pulang dinihari, dan aktifkan selulermu”.
Ehm !.
Sangat benar Luqmanul Hakim. Menasehati diri sendiri dan jujur kepada diri sendiri, merupakan tantangan hidup yang sangat luar biasa. Bila kita telah mampu melakoninya, ahhh… nikmatnya luar biasa. Cobalah !! |