Militer Mesir Temukan Puing EgyptAir

| dilihat 2288

KAIRO, AKARPADINEWS.COM | OTORITAS militer Mesir menemukan sejumlah barang pribadi milik penumpang dan puing-puing yang merupakan bagian dari Pesawat EgyptAir A320 dengan nomor penerbangan MS804 yang sejak Kamis (19/5) lalu dilaporkan hilang.

Barang-barang dan puing-puing pesawat itu ditemukan mengambang di Laut Mediterania, Kairo, Jumat (20/5). Pihak Angkatan Laut Mesir menyatakan puing-puing pesawat ditemukan di 290 kilometer (180 mil) bagian utara dari kota pantai, Alexandria. Temuan itu membenarkan jika pesawat yang mengangkut 66 orang itu jatuh ke laut.

Presiden Mesir Adbel Fattah al-Sisi menyampaikan belasungkawa bagi para korban dan mengonfirmasi kematian seluruh penumpang. Otoritas Mesir sebelumnya menyebut pesawat itu menghilang akibat serangan teroris. Namun, tidak ada pihak yang mengklaim bertanggungjawab atas insiden pesawat nahas yang terbang dari Paris, Perancis, ke Kairo, Mesir.

Tim investigasi dan ahli teknis Airbus dari Perancis telah dikerahkan untuk melakukan penyelidikan guna mendeteksi penyebab jatuh EgyptAir A320. Mereka tiba di Kairo, Jumat (20/5). Perancis berpartisipasi dalam komite investigasi yang dipimpin Mesir karena pesawat itu diproduksi Perancis.

Menteri Perhubungan Mesir Sherif Fath sebelumnya menduga hilangnya pesawat itu karena serangan teroris, bukan kegagalan teknis. "Tapi jika menganalisis dengan benar, kemungkinan lebih disebabkan serangan teroris, daripada masalah teknis," kata Fath. Perdana Menteri Mesir, Sherif Ismail juga mengatakan, terlalu dini untuk menyangkal penyebab kecelakaan itu akibat cuaca buruk dan masalah teknis.

Pejabat Perancis lebih berhati-hati dalam mengeluarkan pernyataan. Hingga saat ini belum ada kesimpulan mengenai insiden tersebut. "Semua asumsi ditelaah," kata Menteri Luar Negeri Jean Marc Ayrault Perancis, Jumat (20/5). "Kami benar-benar belum ada indikasi tentang penyebab peristiwa tersebut," katanya. Namun, Perancis tidak mengeyampingkan spekulasi yang menyebut pesawat jatuh akibat serangan teroris.

Sempat dilaporkan jika otoritas Yunani menemukan sesuatu yang mengambang di laut dan beberapa jaket pelampung yang kemungkinan dari pesawat. Sumber dari pihak pertahanan Yunani menjelaskan, benda yang diduga bagian dari Pesawat EgyptAir itu ditemukan di laut 370 kilometer (230 mil) bagian selatan dari Pulau Kreta.

Namun, Wakil Presiden EgyptAir, Ahmed Adel memastikan, jika puing-puing EgyptAir belum ditemukan. "Kami mengkoreksi temuan puing-puing (pesawat) karena apa yang kita identifikasi, bukan merupakan bagian dari pesawat kami. Jadi, pencarian dan penyelamatan, masih berlangsung," kata Adel.

EgyptAir A320 dengan nomor penerbangan MS804 bernama Kapten Mohamed Said Shoukair dan asisten pilot, perwira pertama Mohamed Mamdouh Ahmed Assem. Kepala Pramugari bernama Mirvant Zaharia Zaki Mohamed. Kapten Pesawat tercatat telah melakukan sekitar 6.000 jam penerbangan.

Pemeriksaan pemeliharaan pesawat juga dilaporkan tidak ada hambatan. Pesawat secara rutin dilakukan pemeriksaan di Kairo sebelum berangkat ke Paris. Sehari sebelum insiden, pesawat nahas itu melakukan penerbanangan ke Eritrea dan Tunisia.

Dari rilis yang disampaikan EgyptAir, diketahui jika seluruh awak penumpang dan kru pesawat terdiri dari beberapa warga negara asing. Di antaranya 15 orang Prancis, 30 orang Mesir, satu orang Inggris, satu orang Belgia, dua orang Irak, satu orang Kuwait, satu orang Arab Saudi, satu orang Sudan, satu orang Chad, satu orang Portugis, satu orang Aljazair, dan satu orang Kanada.

Pusat krisis EgyptAir telah bekerjasama dengan pihak yang berwenang dan berjanji akan mengeluarkan informasi terbaru sesegera mungkin. EgyptAir juga telah menyediakan dokter, penerjemah, dan semua layanan yang diperlukan untuk anggota keluarga penumpang selama mereka berada di Bandar Udara Kairo.

Presiden Abdel Fattah al-Sisi telah memerintahkan Kementerian Penerbangan Sipil, Angkatan Laut dan Angkatan Udara, untuk melakukan pencarian dan penyelamatan para korban dan menemukan posisi pesawat.

Dalam pernyataan yang disampaikan di Kantor Presiden, Sisi memerintahkan pembentukan komite investigasi dan segera menyelidiki penyebab hilangnya pesawat. Sementara itu, pejabat berwenang AS melaporkan jika citra satelit AS sejauh ini tidak mendeteksi tanda-tanda adanya ledakan Pesawat EgyptAir.

Seorang pejabat AS yang enggan disebut namanya menyimpulkan, hasil pemeriksaan citra satelit dan laporan media, pesawat diduga dibom. Namun, dia juga menggarisbawahi, otoritas AS tidak mengesampingkan kemungkinan penyebab kecelakaan akibat kegagalan mekanik, terorisme, atau tindakan yang disengaja pilot atau awak pesawat.

Upaya pencarian juga dilakukan Yunani dengan mengerahkan pesawat dan kapalnya untuk mencari Pesawat EgyptAir. Menteri Pertahanan Yunani, Panos Kammenos menyebut Airbus sempat membelok secara radikal dan jatuh dari ketinggian sekitar 37.000 kaki ke 15.000 kaki, sebelum menghilang dari layar radar Yunani. Namun, tidak ada indikasi kemungkinan penyebab hilangnya pesawat apakah akibat masalah teknis, kesalahan manusia (human error) atau sabotase.

Pesawat EgyptAir kehilangan kontak dari radar di atas Laut Mediterania sekitar 280 kilometer dari kawasan pantai Mesir pada 02:30 CLT. Pesawat tersebut rencananya tiba di Kairo pada 03:15 CLT.

Sementara itu, kelompok ultra garis keras Islam sebelumnya menargetkan bandara, pesawat, dan lokasi wisata di Eropa, Mesir, Tunisia, dan negara-negara Timur Tengah lainnya selama beberapa tahun terakhir.

Di Bandara Kairo, seorang pria duduk di sofa kulit berwarna coklat sambil menangis dengan tangan menutupi wajahnya. "Berapa lama Mesir akan hidup jika nyawa manusia begitu murah?" katanya.

Ibu dari seorang pramugari juga bergegas keluar dari ruang VIP, di mana keluarganya juga menunggu. Dia mengaku, terakhir kali putrinya memanggilnya pada Rabu (18/5) malam. "Dia tidak mengatakan apa-apa kepada kami," katanya.

Mesir menjadi tujuan pariwisata tradisional yang disukai turis asing. Tetapi, industri pariwisata terpukul akibat insiden jatuhnya pesawat Metrojet buatan Rusia pada Oktober tahun lalu, di mana 224 orang di dalamnya tewas. Warga asing pun enggan ke Mesir karena pemberontakan kelompok militan Islam dan serangkaian serangan bom yang kerap mengguncang Mesir.

Maret lalu, pesawat EgyptAr yang terbang dari Alexandria menuju Kairo dibajak dan dipaksa mendarat di Siprus oleh seorang pria yang disebut mengenakan sebuah sabuk bunuh diri palsu. Dia ditahan setelah menyerahkan diri.

M. Yamin Panca Setia

Editor : M. Yamin Panca Setia | Sumber : CNN/Reuters
 
Ekonomi & Bisnis
Seni & Hiburan
16 Nov 25, 10:19 WIB | Dilihat : 1046
Hazieq Rosebi Berjenaka dengan Nurlela
19 Nov 24, 08:29 WIB | Dilihat : 3155
Kanyaah Indung Bapak
Selanjutnya