Membaca Fenomena Tri Suaka dan Zidin Zidan CS sebagai Penunggang Gelombang Transformasi

| dilihat 293

Catatan Bang Sém

Mulanya saya tak begitu serius mencermati fenomena yang berkembang dalam gelombang transformasi ragam media, ragam saluran, dan ragam platform dengan berbagai aplikasi dan formula yang menyertainya.

Suatu hari, Prof. Dr. Endang Caturwati, ST., MS., guru besar seni pertunjukan Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung, mengirimkan video singkat dirinya menyanyikan lagu lawas karya komposer Malaysia, Saari Amri bin Jusoh, bertajuk Buih Jadi Permadani yang dipopulerkan kumpulan musisi EXIST, beberapa tahun lalu.

Dari Prof. Endang saya beroleh informasi, lagu tersebut sedang hit kembali, setelah didendangkan penyanyi belia - seorang mahasiswa fakultas ilmu pendidikan salah satu universitas di kampung halamannya, Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, Zinidin Zidan yang saya sebut Zidin Zidan.

Belia berbakat dengan kemampuan khas memainkan cengkok Melayu, ini melewati masa yang panjang untuk sampai pada momen yang menjulangkan nama dan nasibnya, lewat Buih Jadi Permadani.

Lagu yang merupakan ekspresi batin komposer asal Tanah Merah - Kelantan, itu lantas menjadi 'gelombang' fantasi yang menghanyutkan di tengah pusaran badai nanomonster Covid-19 di masa kegamangan, ketidakpastian, keribetan, dan kemenduaan, itu. Khasnya, ketika Zidan mendendangkannya bersama Nabila diiringi Tri Suaka, saat ngamen di Malioboro - Yogyakarta, juga di tempat ngamen tetapnya pada salah satu kafé di kota pelajar, itu.

Jutaan penggemar dan penikmat lagu ini, pun bagai arus besar menekan tombol subcribe di saluran You Tube Tri Suaka. Mereka pun menjadi penunggang gelombang transformasi digital yang layak dan patut menikmati pundi-pundi keberuntungannya.

Seperti biasa, keberuntungan itu menyebar, ketika Tri Suaka yang memilih jadi pengamen -- meski punya kedai pengurus hewan peliharaan, terutama kucing -- menempatkan dirinya sebagai fasilitator dan katalisator para pejuang nasib berbakat besar dan khas (termasuk Faldy Nyonk, Adlani Rambe, dan lain-lain).

Tri Suaka yang teramat patuh dan berkhidmat kepada orang tuanya, terutama ibunya -- seorang guru di Baturaja - Sumatera Selatan -- membuka mata kesadaran tentang sosok Youtuber sukses yang tak hanyut oleh popularitas dan limpahan materi yang menyertainya.

Bersama Zidin Zidan cum suis, Tri -- sejauh ini -- menampakkan konsistensi dan sikap tawaddu' yang patut dicontoh oleh siapapun, khasnya para Youtuber. Dalam wawancara podcast dengan Anang Hermansyah (juga menantu dan anaknya), Zidan tanpa beban menegaskan komitmennya pada pendidikan.

Zidan memang datang dari keluarga penyanyi 'kondangan,' di Parigi Motong yang menunjukkan kepadanya jalur pendidikan sebagai cara mengubah nasib.

Dia  menjawab ringan dan menyatakan, dirinya mulai masuk perangkap dilema antara meneruskan pendidikan untuk menjadi guru -- yang tak menjanjikan gemerlap material, atau meneruskan karir menjadi penyanyi dan industri musik yang menjanjikan limpahan materi, gemerlap harta, dan popularitas.

Tri, Zidan, dan Fadly Nyonk nampak menjaga kesederhanaan hidup sebagai identitas dirinya, tak terhanyut oleh perburuan selubung atau kemasan, seperti banyak terjadi di kalangan Youtuber sukses. Masih karib dengan kaus oblong, jeans, dan kopiah (pada Fadly). Masih ngamen dengan 'kotak saweran,' dan masih mendahulukan perkhidmatan mereka kepada orang tua dan keluarga. Mudah-mudahan selamanya konsisten, seperti yang diungkap Fadly dalam salah satu wawancara di saluran Youtube perusahaan rekaman yang mengontraknya.

Dari Tri dan Zidan, tetiba kita teringat pada pemikiran Ivan Illich tentang Deschooling Society - khalayak terdidik yang tak mesti terkungkung oleh formalisma institusi pendidikan dengan segala 'kerumitan prosedural'-nya.

Menegaskan prinsip dasar manusia dengan kemerdekaan sejati yang ditegaskan HOS Tjokroaminoto, dengan pola pembelajaran berbasis kedalaman manusia a la Ki Hadjar Dewantara.

Pendidikan yang menguatkan dan mematangkan integritas diri manusia dan kemanusiaan, yang lebih mengutamakan isi daripada cangkang.

Tri dan Zidan cumsuis, membuka 'mata kesadaran' tentang relasi antusiasme perjuangan hidup manusia terdidik dan relasinya dengan nasib dan takdir Ilahi. Mereka, dengan caranya, memberi isyarat penting tentang penting dan utamanya seni budaya dalam keseluruhan konteks pendidikan -- dalam makna yang luas. Khasnya ketika manusia mesti menentukan cara memberi nilai nyata disrupsi, ketika dihadapkan oleh situasi hidup tak menentu.

Mereka juga memantik kesadaran yang diisyaratkan Ilahi (al Insyirah), bahwa di balik kesulitan selalu ada inspirasi, di setiap tantangan selalu ada peluang. Tinggal lagi bagaimana manusia mengenali kelemahannya untuk menemukan dan kemudian memformulasikan kekuatan yang diperlukan untuk menaklukan tantangan.

Pada keseluruhan konteks pendidikan sebagai cara menaklukan singularitas, melayari transhumanisma, menghidupkan daya hidup kreatif dan inovatif untuk membalik kemiskinan, memperluas potensi manusia untuk menghadapi risiko eksistensial dengan memanfaatkan teknologi, sepeti yang diwanti-wanti James Martin.

Pada Tri dan Zidan cum suis, saya melihat contoh sangat kecil dengan makna besar tentang budaya kreativitas. Terutama, ketika teknologi terus mengarah pada era kreativitas yang ekstrim. Juga, berkembangnya pekerjaan yang menyenangkan.

Via Youtube -- mesti masih akan terus diposisikan sebagai obyek -- nampak terasa berbagai produk teknologi yang dihasilkan negara-negara maju, membuka ruang bagi orang-orang muda di seluruh dunia untuk (kelak) menjadi wirausahawan. Apalagi, rantai pasokan baru dan bisnis yang terhubung secara elektronik akan membawa nilai, antara lain dengan teknologi block chain.

Dalam konteks ini, tak keliru Jason Tan - asosiat Profesor dalam Kebijakan, Kurikulum dan Kepemimpinan di National Institute of Education, Singapura - dan Loke Hoe Young, anggota dewan redaksi dari Jurnal Higher Education in Southeast Asia and Beyond (HESB), mempertanyakan: universitas atau lembaga pendidikan tingggi melayani siapa?

Akankah melayani mahasiswa seperti Zidan dan generasinya, yang merespon kelas online dengan persepsi, hanya sebagai kemiripan kontinuitas selama pemberlakuan pembatasan selama pandemi? Lantas mempertanyakan: alasan membayar biaya kuliah, atau untuk menimbulkan utang siswa selama bertahun-tahun yang akan datang, untuk biaya beroleh pengalaman pendidikan yang sangat berkurang.

Sikap Tri Suaka yang memilih jalan 'get out of the hassle,' lalu 'drop' dan masuk ke jalur 'enjoyable life' sebagai pengamen sekaligus content maker - youtuber merupakan sikap realistis.

Realitas ini, mestinya menjadi tantangan bagi para pengelola universitas - pendidikan tinggi untuk sungguh mengelola seluruh proses pendidikan di masa sulit ini, dengan focal concern : - berusaha mengembangkan lulusan yang siap kerja plus; - memberikan perhatian transdisipliner khusus pada 17 SDGs (sustainable development goals) dalam pengajaran, penelitian, pengabdian masyarakat, dan operasinya; - memberikan perhatian yang sama membekali lulusan untuk kewirausahaan sosial dan komersial; - membantu lulusan mencapai pemahaman pribadi di mana mereka berdiri pada asumsi diam-diam yang mendorong agenda abad ke-21; - mengembangkan tujuan moral bersama; - memberikan penekanan pada Sains, Teknologi, Teknik, Seni dan Matematika; - beroperasi sebagai "laboratorium hidup" tentang cara mengelola perubahan secara efektif dan menangani SDGs.

Pilihan-pilihan ini menjadi penting, karena akan datang 'barisan baru' dengan kreativitas dan ketangguhan baru, memperbanyak bilangan penunggang gelombang transformasi, seperti dicapai Tri Suaka, dan Zidin Zidan cs.

Pertanyaannya akan sama: akankah buih yang memutih, menjadi permadani (fantasi, imajinasi atau realitas). |

 

Tulisan ini bersifat pribadi

 

Editor : Sem Haesy | Sumber : sumber foto: YouTube
 
Polhukam
Humaniora
06 Des 22, 14:02 WIB | Dilihat : 165
Mengeja Ferry Mursyidan Baldan
06 Des 22, 12:17 WIB | Dilihat : 24
In Memoriam Ferry Mursyidan Baldan
11 Nov 22, 22:45 WIB | Dilihat : 198
Jalan Ishlah Menghidupkan Apresiasi dan Respek
Selanjutnya