
Dr. Surya Darma*)
Indonesia dan khususnya Aceh merasakan duka yang mendalam, Jum'at (2/12/22). Seorang tokoh Aceh dan politisi senior, Ferry Mursyidan Baldan telah kembali ke hadirat Ilahi Rabby dalam usia 61 tahun.
Ferry yang dikenal sangat luas pergaulannya tanpa membeda-bedakan kelompok, strata dan lain-lain adalah putra Aceh. Ayahnya, Muhammad Baldan yang berasal dari Kluet Aceh Selatan.
Ferry yang lahir dan besar di Jakarta, menempuh pendidikan Sosial Politik di Universitas Padjadjaran Bandung. Sebagai sosok seorang aktivis, sudah terlihat sejak masih mahasiswa dengan aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).
Aktivitasnya dimulai dari Ketua HMI Rayon Bandung Selatan (Rasela), lalu Ketua Umum HMI Cabang Bandung, Ketua Umum Badko HMI Jawa Barat dan Ketua Umum PB HMI. Ini adalah jenjang tertinggi dalam organisasi HMI.
Naluri politiknya yang tidak bisa lepas dari latar belakang pendidikannya, berkembang sejak ia menjadi anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR RI) - Utusan Golongan, mewakili kaum muda.
Karir politiknya menemukan jalan perkembangan, kala dia memutuskan bergabung ke dalam organisasi politik Golkar. Dari situlah karir politiknya diawali, dan ikut menjadi anggota DPRRI mewakili Golkar dari daerah pemilihan Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Keanggotannya di DPR RI dijalani beberapa periode bersama Golkar, sampai kemudian dia hijrah dan berperan membesarkan Partai Nasdem bersama Suryo Paloh.
Peran ini mengantarkan Ferry menjadi Menteri Agraria & Tata Ruang / Kepala Badan Pertanahan Nasional pada Kabinet Jokowi jilid satu selama periode 2014-2016. Setelah tidak menjabat Menteri ATR, Ferry kemudian bergabung bersama tim pemenangan Prabowo pada Pemilu tahun 2019.
Saya sebagai Ketua Umum Perkumpulan Masyarakat Aceh yang berada di Jakarta, Taman Iskandar Muda yang mencakup berbagai Provinsi di seluruh Indonesia melihat Ferry adalah sosok yang tidak pernah lelah membangun silaturrahim baik di kalangan masyarakat Aceh maupun masyarakat lainnya di seluruh Indonesia.
Saya kenal dengan Ferry sebagai salah satu sahabat yang sama-sama pernah mengenyam pendidikan dan pendewasaan berogranisasi dan bermasyarakat melaluii HMI. Kami sama-sama berasal dari HMI Cabang Bandung.

Saya aktif lebih dahulu dan ikut di Kepengurusan PBHMI sebagai salah satu Ketua pada era Ketua Umumnya Achmad Zacky Siradj tahun 1981-1983. Sedangkan Ferry berkiprah pada era Saleh Khalid sebagai Ketua Umum, dan kemudian menjadi Ketua Umum PB HMI pada tahun 1990-1992. Bahkan bersama pak JK (Jusuf Kalla), Ferry juga ikut dalam berapa kegiatan Palang Merah Indonesia (PMI). Saat ditemukan meninggal dunia, Ferry sesungguhnya baru saja menghadiri acara PMI bersama pak JK di Hotel Budakara Jakarta.
Di kalangan HMI, Ferry selalu menjadi inisiator dalam beberapa kegiatan sosial kemasyarakatan dan keagamaan. Lihat saja bagaimana gigihnya Ferry berupaya membangun kantor HMI Cabang Bandung di Jalan Sabang 17 Bandung berikut dengan sarana masjidnya yang diberi nama Masjid Imaduddin, tokoh kharismatik islam HMI Bandung dari ITB. Bahkan sebagian besar dananya adalah talangan dari Ferry, dan donasi sejumlah sahabatnya dari berbagai kalangan non HMI.
Ferry adalah politisi yang punya peran besar lahirnya perdamaian di Aceh yang dituangkan dalam Memorandum of Understanding (MoU) Helsinki pada 15 Agustus 2005. Implementasinya diejawantahkan melalui UU No.11 Tahun 2006 Tentang Pemerintahan Aceh.
Ferry merupakan Ketua Panitiu Khusus (Pansus) pembentukan UU No.11 tersebut. Rasanya sulit membayangkan UU tersebut lahir jika Ketua Pansusnya bukan Ferry Mursyidan Baldan yang putra asli Aceh.
Hidupnya yang sangat sederhana, mudah bergaul, menyebabkan dia memiliki banyak kawan, sahabat dan juga kerabat. Di bulan terakhir, dia juga intensif ikut bersama beberapa tokoh Aceh untuk memikirkan bagaimana caranya untuk memakmurkan Aceh.

Rabu malam 30 Nopember 2022, Ferry masih ikut rapat dengan Farhan Hamid dan Surya Darma, Ketum PPTIM 2012-2022. Sebelumnya, juga ikut berdiskusi dengan pak Abdul Latif, Menteri Tenaga Kerja era Soeharto dan Joefly Bahroeny, pengusaha sawit Indonesia.
Jum'at, 2 Desember 2022, seharusnya ada rapat lanjutan untuk memikirkan cara dan strategi membangun Aceh ke depan. Cita-cita ini belum sempat terwujud, karena Allah SWT telah terlebih dahulu memanggil Ferry kembali kehadirat Nya antara tanggal 1 atau 2 Desember.
Ferry berpulang dalam suasana yang penuh dengan keakraban dengan semua orang, meninggalkan seorang istri, Hanifah Husen dan seorang putri yang masih menempuh pendidikan di Yogyakarta.
Selamat jalan sahabat Ferry. Engkau telah menginspirasi, berbakti dan meninggalkan berbagai legacy untuk bangsa dan juga untuk Aceh sebagai tanah leluhurnya. Semoga semuanya menjadi amal yang diterima dan akan mendampinginya di tempat yang mulia disisi Allah, dalam surga jannatul firdaus. Dan istrinya serta anak-anak nya diberikan kesabaran. |
Jakarta, 2 Desember 2022.
*) Ketua Umum Perkumpulan Aceh di Jakarta - Pengurus Pusat Taman Iskandar Muda (2012-2022)