Berbagi Inspirasi dengan Milenial Gorontalo

Arief Gobel Menjadi Sales di Perusahaan Bapaknya

| dilihat 2099

GORONTALO | Muhamad Arief Rachmat Gobel diundang komunitas milenial dari berbagai segmen untuk berbagi pengalaman.

“Saya sama seperti teman-teman semua. Masih terus mengasah diri dan terus belajar. Namun yang pasti, kita harus bekerja keras untuk meraih sukses,” katanya, Sabtu, 15 April 2023.

Hari itu, sejumlah lembaga komunitas milenial mengadakan pertemuan sekaligus buka bersama di kafe Newbie di dekat Kampus Universitas Negeri Gorontalo.

Mereka berasal dari komunitas milenial peduli difabel, komunitas milenial artis komedi, komunitas milenial komik, komunitas milenial yang bergerak di bidang usaha, dan sebagainya. Pertemuan ini dipandu Ariel.

Walaupun menjadi anak Rachmat Gobel, pemilik Panasonic Gobel Indonesia, Arief mengatakan dirinya tak menjadi direktur di perusahaan.

“Saya menjadi sales, menjadi bagian marketing. Saya masih belajar jualan. Kerjanya mencari PO keliling Indonesia. Kemarin saya baru dari Makassar,” katanya.

PO adalah purchasing order, order pembelian. ‘Saya keliling Indonesia, ke Kalimantan, Sumatera, dan sebagainya. Saya masih belajar berbicara dengan para pemilik toko,” katanya.

Dengan menjadi sales, kata Arief, ia belajar mengenali karakter orang-orang, belajar melakukan komunikasi dan marketing, dan belajar membangun jejaring.

“Saya tidak ujug-ujug ada di posisi tertentu. Tapi apakah saya punya privilege? Jujur saya akui punya, karena nama saya. Namun saya tetap meniti karier dari bawah,” katanya.

Ia tak langsung ditempatkan di jajaran direksi atau menjadi direktur di perusahaan baru maupun menjadi direktur di anak perusahaan yang masih bersekala kecil. “Saya masih berjuang,” katanya.

Arief menceritakan, di saat masih SMA ia pun sudah belajar bekerja di pabrik. Tanpa sepengetahuan orangtuanya, ia mendaftar pelatihan untuk magang di pabrik. Selama masa pelatihan, ia tidur di asrama karyawan sebagaimana umumnya. Sehingga pas liburan sekolah ia bekerja di pabrik dan tinggal di asrama karyawan.

"Saya belajar merasakan bagaimana suasana pekerja di level paling ujung. Saya juga harus memahami nilai-nilai di tingkat pekerja. Karena keuntungan dan kemajuan sebuah perusahaan bermula dari sini," katanya.

Saat kuliah di Jepang, ia juga bekerja di restoran. “Saya bekerja sebagai tukang cuci piring bersama buruh-buruh dari India. Saat itu saya belum bisa berbahasa Jepang sehingga ditempatkan di paling belakang. Setelah bisa berbahasa Jepang, saya menjadi tour guide,” katanya.

Dengan bekerja di restoran, katanya, ia belajar melayani sebaik-baiknya. Karena pelayanan yang terbaik adalah salah kunci sukses.

Lebih lanjut Arief mengatakan, dalam berbisnis diperlukan pengalaman dan wawasan.

 “Pengalaman itu diperoleh dengan praktik langsung seperti bekerja, sedangkan wawasan diperoleh dengan pendidikan. Memang ada segelintir orang yang punya keistimewaan tapi itu kekecualian. Jadi, karakter itu sangat penting untuk meraih sukses,” katanya.

Karena itu ia mengajak kaum milenial Gorontalo untuk mengembangkan diri menjadi pribadi-pribadi sukses dengan terjun langsung dan terus menimba wawasan. | [rilisa]

Editor : delanova
 
Lingkungan
07 Jun 26, 12:42 WIB | Dilihat : 140
Jakarta Baur Budaya
28 Apr 26, 14:29 WIB | Dilihat : 439
Jumhur Hidayat
03 Des 25, 18:35 WIB | Dilihat : 853
Jangan Pernah Menentang Semesta
04 Agt 25, 02:48 WIB | Dilihat : 1541
Almaty Kazakhtan Sentra Suara Akal Sehat
Selanjutnya
Budaya
01 Jun 26, 21:47 WIB | Dilihat : 321
AGI Sosok Artistik yang Bergerak
20 Mar 26, 08:16 WIB | Dilihat : 471
Budaya Betawi Mesti Jadi Cover Budaya Jakarta
18 Feb 26, 00:08 WIB | Dilihat : 728
Muhammadiyah Berbeda dengan Pemerintah itu Biasa
Selanjutnya