SKETSA

A.M.P.A.N.G

| dilihat 2426

Bang Sem

MUNGKIN karena nasib sedang tak bagus. Ketika sedang menghadapi masalah berat, sampai mengalami fatigue, Johan harus terguncang lagi batinnya. Sudah lebih dari sebulan, Jenny, isteri yang dikasihinya pergi meninggalkan rumah, membawa serta kedua gadis kesayangannya. Hidup sungguh terasa ampang.

Lelaki yang berpenampilan keren, itu terguncang, dan tak bisa menikmati suasana rumah yang sepi, meskipun elok. Kepergian Jenny dan anak-anaknya, serasa mencabut seluruh kebahagiaan dan sukacita yang telah dibangunnya selama lebih dari 20 tahun. 



Lelaki yang selama ini tak pernah tampak bersedih, itu kini bersedih.

Ketika malam merambat dan sunyi sedemikian dahsyat mendekap, ia mengungkapkan isi hatinya lewat surat. “Bila memang ada masalah di antara kita, yang menyertai masalahku, sebaiknya engkau bicarakan dari hati ke hati. Bukankah lebih dari dua ratus empat puluh purnama, kita selalu bisa menyelesaikan masalah kita dengan cara terbaik?” tulisnya. 



Berulang-ulang Johan membaca suratnya itu. Kemudian ia menorehkan lagi isi hatinya.

“Kepergianmu membawa seluruh keindahan hidupku. Kau bawa pula dua permata hati, buah cinta kita. Pahamilah, kepergianmu bersama anak-anak laksana perginya daya hidupku,” tulisnya. 



Lewat kurir, ia kirimkan surat ini.

Mata Jenny berkaca-kaca ketika membaca surat itu. Ingin sekali ia membalas surat itu atau menelpon Johan, tapi hati kecilnya tak berkenan. “Biar kamu tahu rasa, bagaimana kalau perempuan sudah bersikap dan bertindak,” gumamnya. Namun, kemudian Jenny menyesali gumamannya, itu.

Jenny membayangkan, bagaimana mungkin Johan bisa hidup tanpa dirinya dan kedua puterinya. Seketika itu, pikirannya berubah lagi. 

Sambil membaca surat itu, Jenny berfikir, bila Johan sungguh menyayangi dan mengasihinya, dan merasa kehilangan dengan kepergiannya, mengapa sang suami tak menjemputnya?

Memang, berulang kali Johan mengontaknya melalui telepon dan sms, tapi tak satupun yang dibalas Jenny. 

Ketika Johan kian mengalami understressed akibat masalah yang dihadapinya, dan tenggelam dalam sunyi di rumahnya, Jenny malah bersibuk diri dengan seluruh aktivitasnya. Sebagai pebisnis yang sedang melesat naik, agenda hariannya sedemikian padat. Karenanya, Jenny tak pernah merasa sunyi sekejappun. Sebaliknya, Johan, kehilangan hampir separuh aktivitasnya. Ia terombang-ambing oleh perasaannya. 



Johan masih berpegang pada prinsipnya: tempat isteri dan anak-anak adalah di rumah. Kalaupun ada persoalan dalam hubungan suami isteri di antara mereka, tidak Jenny yang harus meninggalkan rumah. Johan lebih suka diusir oleh Jenny dari rumahnya, katimbang ditinggalkan pergi. Meski sama-sama terpisah jarak, ketika Jenny meninggalkan rumah, Johan menganggap sang isteri telah melawan hakekat fungsinya. 



Rumah terasa bagai jasad kehilangan ruh, ketika isteri meninggalkan rumah. Terasa bagai suasana hidup yang kehilangan nilai sama sekali. Itulah sebabnya dia bertahan tak menjemput Jenny, meski ia tahu, Jenny minggat ke rumah ibunya. Ia berharap, Jenny kembali, pulang. Namun dia terkejut sekali, ketika yang didapatkan adalah balasan surat: “Aku sedang menyiapkan gugatan cerai, nanti pengacaraku akan memberitahumu.” 



Johan termangu. Sambil rebah di atas sofa, dia berusaha mencari alasan Jenny menggugat cerai. Tak satupun alasan ia temukan. Ia kaget, ketika di akhir suratnya, Jenny bilang, “Aku dan anak-anak telah membuktikan, tanpa kamu kami juga bisa hidup bahagia.” Johan tak kuasa menahan dirinya. Jantungnya kumat. Sopir dan pembantu melarikannya ke rumah sakit. Meski diberitahu, Jenny cuek saja. Lalu, tak pernah lagi bisa menjumpai sang suami selama-lamanya... |

Editor : Web Administrator
 
Humaniora
11 Jul 26, 22:56 WIB | Dilihat : 376
Daya Cinta Rakyat kepada Ayatollah Ali Khamenei
06 Jul 26, 09:02 WIB | Dilihat : 327
Ragam Gaya Retorika Presiden
25 Jun 26, 00:19 WIB | Dilihat : 398
Duka Ashura
Selanjutnya
Lingkungan
19 Jun 26, 11:49 WIB | Dilihat : 515
Penang
07 Jun 26, 12:42 WIB | Dilihat : 610
Jakarta Baur Budaya
28 Apr 26, 14:29 WIB | Dilihat : 584
Jumhur Hidayat
03 Des 25, 18:35 WIB | Dilihat : 934
Jangan Pernah Menentang Semesta
Selanjutnya