Balangsak

| dilihat 7261

Merusak alam adalah tindakan yang bertentangan dengan prinsip kemanusiaan. Apapun alasannya, merusak alam tak bisa dibenarkan.

Beranjak dari pandangan ini, saya memandang, para pembakar hutan, adalah para hantu yang senang melakukan aksi extra ordinary crime. Kejahatan luar biasa. Karena yang mereka lakukan adalah penghancurkan habitus kehidupan, baik alam maupun sosial. Melantakkan flora dan fauna, dan menebar derita bagi umat manusia.

Karenanya, Presiden Jokowi tak cukup hanya sekadar berretorika melakukan tindakan tegas terhadap para penghancur lingkungan, itu. Berikan hukuman sangat berat kepada siapa saja yang melakukan tindakan tidak bertanggung jawab, merusak alam. Apalagi, tindakan membakar hutan seluas 1.7 juta hektar itu, otomatis menafikan aksi menanam pohon yang dilakukan selama ini.

Selebihnya, aksi kejahatan itu, dari sudut pandang green economy, sebagai ideologi ekonomi baru dunia, secara ideologis merupakan perlawanan atas prinsip sustainability development. Green economy adalah paradigma pembangunan dunia, budaya membangun dan bukan budaya merusak. 

Kearifan Sunda, yang berkembang di tatar Sunda, sejak abad XIV telah mengingatkan kita untuk tidak merusak alam.

Kai Raga, begawan tatar Sunda dari kaki gunung Çrimanganti, pada masa itu sudah mengingatkan dialektika perusakan alam dengan malapetaka. Jauh sebelum Jaard Diamond mengungkap dampak deforestasi yang menyebabkan terjadinya dehumanitas, Kai Raga sudah mengingatkan: Gunung-gunung dibarubuh (bad mining), tatangkalan dituaran (deforestasi), yang akan menyebabkan cai caah babanjiran (banjir bandang), buwana marudah motah (bumi memuntahkan lumpur dan lahar).

BUKIT-BUKIT YANG DIPANGKAS DAN DITAMBANG SESUKA HATI

Dalam kearifan Sunda, banyak kerusakan yang ditimbulkan oleh kerusakan alam akibat budaya merusak. Yaitu: kawung mabur carulukna (degenerasi akibat lingkungan buruk), gula leungiteun ganduan ( kinerja tanpa parameter yang pasti),  samak tingaleun pandanna (manipulasi dan kepalsuan),  ciherang karih kiruhna (kejernihan menjelma keruh), ciamis karih pahitna (segala hal yang baik dan manis tinggal buruk dan pahitnya).  Akibatnya, bangsa – negara – masyarakat akan balangsak (miskin, sengsara, dan hina dina).

Tuhan menciptakan alam semesta, sebagai alat kelengkapan hidup bagi manusia, dengan sistem tata hubungan yang sangat harmonis satu dengan lainnya, dengan tugas mulia sebagai pemelihara alam. Bahkan Rasulullah Muhammad SAW diutus mengingatkan manusia memainkan peran sebagai rahmat atas alam.

Kita ingatkan kepada siapa saja, khasnya para ulul albab, pemikir, cendekiawan, ilmuwan, sekaligus Amir (pemimpin) yang bertanggung jawab terhadap masa depan dan sustainabilitas ikhtiar meningkatkan kualitas manusia, untuk tidak tinggal diam terhadap kejahatan atas lingkungan alam dan sosial.  Paling tidak, untuk mengingatkan manusia, agar memperlakukan alam secara berakhlak dan beradab.

Manusia yang beradab, memahami hakekat tanggung jawabnya memelihara dan me­nge­lola potensi sumberdaya alam dengan baik. Dalam filsafat Karl Vogt, Ludwig Feur­boch, Haeckel, dan Buchner, manusia mulia selalu mengelola dan memperlakukan alam dengan baik.

Mudah-mudahan kita termasuk ke dalam kaum yang berakhlak memperlakukan lingkungan alam, sehingga anak cucu kita tidak balangsak. Karenanya, mari kita ikuti, cermati, dan kontrol bagaimana kelak pengadilan menghukum para penjahat lingkungan itu.  | Bang Sem

 

Editor : sem haesy
 
Ekonomi & Bisnis
31 Agt 21, 19:09 WIB | Dilihat : 382
Pandemi dan Pemulihan Ekonomi Lokal
14 Mar 21, 23:46 WIB | Dilihat : 448
Sindroma Ambivalensia
16 Des 20, 07:56 WIB | Dilihat : 618
Peta Bank Syariah di Indonesia Berubah
Selanjutnya
Humaniora
04 Nov 21, 07:24 WIB | Dilihat : 299
Tolak Toleransi Zina di Kampus
13 Okt 21, 09:25 WIB | Dilihat : 612
Pendekar Mabuk di Tengah Coronastrope
05 Okt 21, 16:00 WIB | Dilihat : 405
Penista Nabi Muhammad Mati Dilahap Truk
03 Sep 21, 12:31 WIB | Dilihat : 253
Membaca Tantangan Abad 21 dan Hegemoni Pendidikan Global
Selanjutnya