
JAKARTA, AKARPADINEWS.COM | Kemacetan telah berpindah dari Ibukota Jakarta ke jalur mudik lebaran, sejak Kamis (24/7). Baik jalur Pantura (pantai Utara) maupun jalur Selatan. Jarak tempuh juga menjadi sangat lambat.
Atika beserta empat puteranya yang mudik ke Solo pada Kamis, mengabarkan kepada akarpadinews.com, “Jarak tempuh Bintaro – Palimanan, makan waktu separuh hari, dua belas jam,” ujarnya. Dia dan anak-anaknya meninggalkan rumahnya pukul 07.00 pagi dan baru tiba di Palimanan, pukul tujuh malam.
Pada Jum’at (25/7) dinihari, kendaraan pribadi yang membawanya mudik baru tiba di Tegal. “Terpaksa istirahat dan bermalam dulu di Tegal, lelah sekali,” ujar Atika. Akan halnya Billy mengabarkan dari Bandung, ruas tol Cipularang juga mengalami peningkatan tajam. “Termasuk yang ke Cileunyi, karena merupakan ruas ke jalan alternatif jalur Selatan,” ungkapnya melalui pesan singkat.

Menurut dia, lambatnya pergerakan, selain karena volume kendaraan yang meningkat tajam, juga ruas jalan pantura yang baru dibenahi selama puasa Ramadan, belum sepenuhnya tuntas dikerjakan oleh Kementerian Pekerjaan Umum. “Selain itu juga karena ada pasar tumpah di beberapa titik, meskipun sudah dibangun jembatan layang,” ungkapnya via selular.
Akan halnya Sopandi, satpam di salah satu rumah sakit Jakarta, yang mudik dengan sepeda motor ke Indramayu, menyebutkan kemacetan itu juga terjadi begitu rupa karena pengemudi tidak tertib. “Biasa ugal-ugalan, kepingin buru-buru sampe di tujuan, dan tidak taat aturan lalu lintas,” sebutnya.
Hal yang sama juga terjadi pada jalur mudik ke arah Barat untuk tujuan Lampung dan kota-kita di Sumatera. Pelabuhan Merak dan Bakauhuni sudah sejak Rabu mengalami peningkatan volume kendaraan dan arus mudik. Begitu juga di Tanjung Priok yang akan mengangkut pemudik dengan menggunakan kapal laut.
Kementerian Perhubungan memperkirakan, tahun ini pemudik Lebaran meningkat antara 7 sampai 7.5 persen dari tahun sebelumnya. Seluruh pemudik dari Ibukota dan arus migrasi musiman ini diperkirakan kembali menjadi mobilisasi besar sekitar 27.894.914 orang.
Data itu diperoleh Kementerian Perhubungan dari survey rumah tangga yang dilakukan, dan jumlahnya bias melebih perkiraan. Apalagi, menurut Kepala Badan Penelitian Pengembangan Kementerian Perhubungan, Elly Andriani, peningkatan pemudik dari wilayah Jabedetabog (Jakarta, Bekasi, Depok, Tangerang, Bogor) mengalami peningkatan luar biasa. Diperkirakan dari Jabedetabog saja terjadi mobilitas pemudik sampai berjumlah 13.418.659 orang.
Peningkatan juga terjadi oleh arus mudik ke Jawa dari sentra-sentra pertumbuhan ekonomi baru, seperti Bandar Lampung, yang meningkat hampir 9 persen dan berbagai daerah lain. Termasuk pusaran mobilitas sosial migrasi sangat lokal, seperti di di Kendal, Demak, Ungaran, Semarang, dan Purwodadi yang naik 9,38 persen. Juga di Yogyakarta, Sleman, dan Bantul naik 7,99 persen.

Di wilayah Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo, dan Lamongan dengan 4.226.328 pemudik; serta Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Selatan, dan Kota Cimahi (Bandung Raya) dengan 3.434.661 pemudik. Di Sulawesi Selatan pusaran arus mudik terjadi di Makassar, Maros, Sungguminasa, dan Takalar yang meningkat menjadi sekitar 7,41 sampai 8 persen.
Provinsi Jawa Tengah menurut Elly, merupakan provinsi tujuan mudik yang paling tinggi. Diperkirakan, 7.991.911 pemudik. Selebihnya terbagi dalam berbagai varian, termasuk pergerakan migrasi lokal di Jabedetabog sendiri.
Untuk memperlancar arus yang sudah nyaris stag dan membuat pantura tersendat lebih dari 8 jam, polisi lalu lintas mengatur arus dengan sistem buka tutup. Sejumlah ruas menuju Jakarta, bahkan dipakai pula untuk arah mudik. Beberapa kendala masih tetap dihadapi, ketika jalur pantura masih memasuki kota, seperti di Brebes, Lamongan, dan Gresik.| delanova