AKARPADINEWS.COM | NAMANYA dikenang sebagai sastrawan, jurnalis, penerjemah, esais dan budayawan. Di antara angkatan 1945, dia disebut-sebut sebagai sastrawan petualang. Dia adalah Sitor Situmorang. Lelaki kelahiran 2 Oktober 1923 di Harian Boho, Tapanuli Utara, Sumatera Utara itu merupakan sastrawan yang menghabiskan banyak waktunya untuk mengembara ke berbagai belahan dunia. Meski lama di negeri orang, kecintaannya terhadap Indonesia tidak luluh.
Sosok yang bernama lengkap Raja Usu Sitor Situmorang itu wafat di usia 90 tahun di Apeldoorn, Belanda. Maut menjemputnya setelah sekian lama melawan penyakit Alzheimer yang menderanya. Seorang anggota keluarga Sitor, Gulontam Situmorang mengatakan, Sitor merupakan sastrawan dan budayawan yang meskipun telah menjadi pengembara ke sejumlah negara, namun hatinya tetap melekat ke Indonesia.
Selain sebagai petualang, Sitor juga memiliki jiwa pemberontak. Sepertinya, karakter itu tidak terlepas dari keturunan. Sang ayah Ompu Babiat Situmorang, dikenang sebagai pejuang yang melawan tentara kolonial Belanda bersama Sisingamangaraja XII.
Sitor pernah mengenyam pendidikan HIS di Balige dan Sibolga, MULO di Tarutung, dan AMS di Jakarta, namun tidak tamat. Lalu, pada tahun 1943-1945 , Sitor merantau ke Singapura. Selepas Indonesia merdeka, ia kembali ke Tarutung, Sumatera, dan menjadi wartawan. Dia memimpin surat kabar Suara Nasional (1945-1946). Pada tahun 1950, Sitor pergi ke Belanda dan tinggal di Amsterdam selama setahun. Setelah itu, ia bekerja di Kedutaan Indonesia di Paris, Perancis, dan bermukim di sana lebih dari setahun.
Selama setahun (1956-1957), Sitor bertandang ke Amerika Serikat untuk memperdalam pengetahuan di bidang sinematografi di Universitas California. Setelah itu, dia kembali ke Indonesia tahun 1957 dan bekerja di harian Berita Nasional dan Warta Dunia. Pada tahun 1959-1969, Sitor Situmorang memimpin Lembaga Kebudayaan Nasional (Lekra).
Setelah itu, Sitor kembali pergi meninggalkan Indonesia. Dia memutuskan tinggal di Belanda bersama isterinya, Barbara Brouwer Boru Purba (71 tahun), yang setia menemaninya hingga wafat. Di Belanda, Sitor mengajar Bahasa Indonesia di Universitas Leiden (1982-1990). Jiwa petualangnya tak sampai di situ. Di tahun 1991, Sitor bermukim di Islamabad, Pakistan. Setelah itu, dia menghabiskan sisa hidupnya di Belanda.
Taufik Abdullah, ketua dari Akademi Jakarta mengatakan, Sitor meniti dunia sastra sejak berprofesi wartawan. Awal kepenyairan Sitor dimulai ketika dua puisinya berjudul Kini Diam Segala Makhluk dan Terdengar, dimuat di Siasat, No. 2, 1948. Sejak itu, karir kepenyairanterus diasahnya. “Sitor selalu mengecap perenungan baru tentang hakikat kebenaran,” jelas Taufik saat memberikan testimoni dalam di acara 100 Kenangan Sitor Situmorang, Belajar Menjadi Indonesia yang digelar di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 20-22 April 2015.
Di era Orde Baru, Sitor bersama-sama seniman di Lekra menjadi pesakitan politik. Orde Baru memang dikenal alergi terhadap hal-hal yang berbau komunis. Lekra merupakan salah satu organisasi seniman yang dituding berafilasi dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Sitor bersama kawan-kawannya pun dijebloskan ke penjara, tanpa menjalani proses persidangan di pengadilan. Selama delapan tahun, Sitor merasakan dingin dan pengapnya ruangan sempit di balik jeruji besi di penjara Gang Tengah Salemba(1967-1974). Rezim Orde Baru menyeretnya ke bui dengan tuduhan pengikut Soekarno dan partisan komunis.

Ajip Rosidi, saat memberikan testimoni di acara tersebutjuga menilai, tidak salah bila orang-orang menyebut Sitor sebagai penyair terbesar Indonesia, setelah Chairil Anwar si Binatang Jalang. “Dia sangat liar dalam soal sastra, cinta, agama, politik, dan sikap itu dipertahankan hingga akhir hidupnya” jelas Ajip
Intensitas Sitor menulis melahirkan sejumlah puisi, cerpen, esai budaya, naskah drama dan naskah-naskah terjemahan. Kumpulan cerpennya Pertempuran dan Salju di Paris (1956) mendapat Hadiah Sastra Nasional (1955) dan kumpulan sajak:Peta Perjalanan memperoleh Hadiah Puisi Dewan Kesenian Jakarta tahun 1976. Puisinya berjudul: Malam Lebaran termasuk puisi yang sangat dikenal oleh masyarakat sastra Indonesia. Sementara cerpennya berjudul Ibu Pergi ke Surgadinilai oleh kritikus sastra Indonesia asal Belanda, A Teeuw sebagai salah satu cerpen yang seharusnya masuk sebagai cerpen terbaik di dunia.
Karya-karya puisi dan cerpennya yang menyoal tentang perempuan memperlihatkan pemikiran Sitor yang menempatkan perempuan secara egaliter dihadapan lelaki. Pada malam memoar, cerpen ini dibawakan dengan iringan musik Batak oleh Adinda Luthvianti dan Martahan Sahat Gembira Sitohang.
Dari penjelajahannya ke berbagai belahan dunia, memperlihatkan bila Sitor selalu berdialog dengan berbagai peristiwa. Akhirnya, dia kembali ke Indonesia, meski dengan jasadnya yang kaku seperti tercantum di salah satu bait puisinya “Mati berarti kita bersatu lagi.” Sang anak hilang itu akhirnya dimakamkan bersebelahan dengan makam sang Ibu pada 1 Januari 2014 di Harian Boho Tapanuli Utara-Sumatera Utara.
Kepergian Sitor meninggalkan ingatan mendalam bagi keluarga, sahabat dan penikmat karyanya. Dia bisa disebut sebagai tokoh sastrawan terakhir angkatan 45. Karenanya, Akademi Jakarta, di mana Sitor menjadi salah satu anggota, bersama Dewan Kesenian Jakarta, Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin dan keluarga Sitor, menyelenggarakan acara bertajuk “100 Kenangan Sitor Situmorang, Belajar Menjadi Indonesia” 20-22 April 2015 di Teater Kecil-Taman Ismail Marzuki, Cikini-Jakarta Pusat.
Serangkaian acara yang diselenggarakan adalah pameran foto perjalanan hidup Sitor, pameran buku, pembacaan puisi, pertunjukan musik, testimoni dari para sahabat dan keluarga seperti Taufik Abdullah, Gulontam Situmorang, Guntur Sitohang, Toeti Heraty, Ajip Rosidi, Julia Suryakusuma, Radhar Panca Dahana, Sukmawati Soekarnoputri dan lain-lain.
Ratu Selvi Agnesia