
AKARPADINEWS.COM | PEMENTASAN Pasang Ri Kajang oleh teater mahasiswa Fakultas Seni dan Desain Universitas Negeri Makassar (UNM), Sulawesi Selatan, menjadi penampilan terakhir di gelaran Festival Teater Mahasiswa Nasional (Festamasio) VII, pada Jumat, 8 Mei 2015 lalu. Pementasan itu mengisahkan tentang kesetiaan masyarakat Suku Kajang Bugis kepada tanah leluhurnya. Bagi mereka, tanah leluhur adalah ibu yang melahirkan dan membesarkan. Tanah leluhur yang tergerus oleh industrialisasi, menjadi pangkal terjadinya bencana. Pertunjukan Pasang Ri Kajang menyuguhkan teater eksperimental, namun artifisial. Idiom tradisi begitu melekat dari kostum, musik, hingga bahasa. Sementara tradisi yang ditampilkan hanya menunjukan eksotisme--meski kurang memberi makna yang mendalam.
Festamasio merupakan sebuah pertemuan dan pesta teater dari kampus-kampus se-Indonesia. Di ajang itu, para peserta ditantang menunjukan pementasan terbaiknya. Ajang ini diselenggarakan setiap dua tahun sekali. Setelah Surabaya, perhelatan Festamasio VII tahun 2015 dilaksanakan di Bandung. Teater Lakon Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) didaulat menjadi tuan rumah Festamasio yang diselenggarakan pada 2-10 Mei 2015 di Gedung Kebudayaan UPI Bandung.
Festamasio tahun ini mengambil tema Kami Ceritakan Tanah Kami. Menurut Ferdinand Daniel Wuysang, ketua pelaksana, pemilihan tema merujuk pada isu sosial dan lingkungan. “Seringkali sebagai manusia, kita melupakan hakikat kita untuk selaras dengan alam,” tutur Ferdi. Isu seputar masalah tanah sangat menarik. Peserta dituntut untuk melakoni peran yang mengulas beragam persoalan tanah yang berbeda-beda di masing-masing daerah.
Festamasio digelar melalui sistem seleksi dari video yang dikirimkan. Dari 37 kelompok yang mendaftar, terjaring 15 kelompok yang lolos seleksi dan berhak beraksi di ajang Festamasio. Kelompok-kelompok teater mahasiswa yang lolos itu antara lain: Teater Kafe Ide (Universitas Tirtayasa), Teater Gadjah Mada (Universitas Gadjah Mada), UKM Teater Yupa (Universitas Mulawarman), Teater Syahid (Universitas Islam Negeri Jakarta), dan Teater Pelangi Malang (Universitas Negeri Malang).
Kemudian, Teater Rumah Teduh UKS-UA (Universitas Andalas), Teater Studio Merah (Fakultas Hukum Universitas Andalas), Teater Institut (Universitas Negeri Surabaya), Teater FSD UNM (Unversitas Negeri Makassar), Teater Kampus (Universitas Hasanuddin), Teater UKMN KSS Lampung (Universitas Lampung), Teater Titik Dua (Universitas Negeri Makassar), Teater Awal Bandung (Universitas Islam Negeri Bandung), Bengkel Sastra (Universitas Negeri Jakarta), dan Teater Sirat (IAIN Surakarta).
Festamasio sebagai ajang pementasan teater melibatkan para kurator, sekaligus dewan juri yang menyeleksi. Mereka di antaranya: sutradara Teater Satu (Lampung) Iswadi Pratama, sutradara dan aktor Teater Garasi (Yogyakarta) Naomi Srikandi, dosen dan sutradara dari Institut Seni Budaya Indonesia/ISBI (Bandung) Beni Johanes, musisi Heri Udo dan penyair Sunda yang juga salah satu pemrakarsa Teater Lakon (Bandung) Godi Suwarna. Selain pertunjukan teater, digelar pula workshop teater acara tersebut.
Di ajang Festamasio, nampak begitu terlihat semangat masing-masing kelompok teater mahasiswa dalam menyuguhkan aksinya. Teater sebagai bentuk seni komunal menuntut mereka untuk bisa tampil dengan baik secara bersama-sama. Terlihat militansi mereka dalam melakoni setiap kali kesempatan. Seniman mahasiswa itu dipastikan telah mempersiapkan diri sejak jauh hari. Proses latihan yang mereka lakukan tentu tidak sebentar. Belum lagi bagi mereka yang datang dari jauh. Umumnya, mereka terkendala keterbatasan dana, baik untuk transportasi, artistik hingga konsumsi, untuk tampil maksimal di ajang itu. Namun, perjuangan tanpa lelah mereka lakukan sehingga dapat tampil di ajang Festamasio.
Sementara di sisi lain, di dunia teater kampus, keterbatasan yang dihadapi, menyebabkan teater yang disugukan seniman mahasiswa cenderung kurang diminati. Belum lagi minimnya dukungan pihak kampus sehingga tak jarang ditemukan kelompok seni mahasiswa yang laksana mati suri. Karenanya, militansi menjadi roh bagi kelompok seni mahasiswa agar selalu dapat bertahan. Wajar jika para seniman muda itu menunjukan "kegilaannya" dengan sering menginap di kampus untuk latihan mengolah kemampuannya berkesenian. Wajar pula jika banyak di antara mereka yang keteteran studinya. Mereka umumnya lulus melebihi batas perkuliahan. Bahkan, ada pula yang sampai tak lulus lantaran sibuk dengan aktivitas seninya.
Dari 15 pertunjukan di Festamasio VII ini, terpilih tiga penyaji terbaik di ajang itu, yaitu Teater Awal SGD UIN Bandung dengan naskah Sick-lus, UKMF KSS Universitas Lampung dengan naskah Tanah (Bajuri iling Kawin) dan Teater Yupa Universitas Mulawarman. Delapan kategori terbaik lainnya hampir sebagian besar diraih oleh tiga kelompok tersebut. Menurut beberapa juri dalam evaluasi, secara kualitas dan dramaturgi, penampilan mereka tidak terlalu istimewa. Dalam beberapa pertunjukan, mereka dinilai kurang menyakinkan dalam mengangkat persoalan, khususnya dalam menyampaikan pesan tentang tanah dan masalah sosial. “Teater, mungkin tidak bisa mengubah keadaan. Tetapi, bisa membaca peristiwa dan menghadirkan simulasi keadaan secara hidup,” jelas Naomi.
Terlepas dari kelemahan itu, pementasan yang dilakoni para seniman mahasiswa itu patut diapresiasi. Mereka adalah bibit seniman yang akan melanjutkan eksistensi seni teater Indonesia. Wajar jika kemampuan mereka di atas panggung kurang memuaskan. Namun, berkesenian merupakan proses belajar yang panjang. Jika terus berlatih, mereka akan makin matang dalam melakoni setiap peran. Setidaknya, militansi menjadi syarat bagi mereka untuk menjadi seniman hebat.
Ratu Selvi Agnesia