Sepak Bola dan Akalbudi Bangsa

| dilihat 1696

MENGELOLA turnamen sepakbola, dari sisi pandang budaya, adalah mengelola kematangan jiwa dan terkait dengan perkembangan peradaban manusia. Tak sekadar mengelola event, menyiapkan klub yang akan berkompetisi, dan menghadirkan pada jagoan. Karena di lapangan sepakbola, antara lain, kita menemukan cermin peradaban itu.

Pertandingan yang kacau, dan dibaluri huru hara, baik yang dipicu haloganisma akibat pengaruh alkohol atau pelepas kemarahan akibat depresi sosial, merupakan isyarat dan pertanda masyarakat tak sehat. Tak peduli di Eropa, Amerika Selatan, ataupun Asia.

Beranjak dari pemikiran semacam ini, semestinya, setiap klub sepak bola, apapun bangsanya, mesti memahami dengan seksama esensi sepakbola yang harus selalu menunjukkan sportivitas dan good governance.

Saya sepakat dengan seorang teman, yang selalu gusar acapkali turnamen sepakbola bakal digelar. Selain karena para penonton nyaris sulit dikontrol dan dikendalikan, depresi sosial yang ditimbulkan oleh situasi politik dan ekonomi, juga menjerumuskan khalayak ke dalam situasi yang sangat emosional. Pada saat itulah, siapa saja bisa menjadi korban.

Seluruh stakesholder persepakbolaan, selain mesti selalu menyempurnakan seluruh instrumen regulasi persepakbolaan. Juga mesti duduk bareng untuk merumuskan persepsi hingga visi persepakbolaannya. Dengan cara demikian, persepakbolaan dikelola berdasarkan komitmen kolektif yang mengikat siapa saja. Mulai dari pemain, wasit, tim manajer, hingga penonton.

Pengorganisasi penonton melalui fans club, semestinya dikelola agar tak terjerumus ke lembah ‘fanatisme buta’. Dalam konteks itulah, akalbudi menjadi sedemikian penting. Itulah sebabnya, semua pihak, khususnya yang mempunyai pengaruh terhadap massa, harus merasa terpanggil. Paling tidak, untuk mengelola persepakbolaan secara baik dan benar.

Dalam bahasa lain boleh dikatakan, persepakbolaan mesti diurus dengan lebih serius. Tak hanya menjadi event olah raga bernilai ekonomi belaka. Melainkan, sebagai bagian dari keseluruhan proses pematangan akal budi bangsa. Akankah kesadaran demikian dimulai dari Indonesia? |

 

Editor : administrator
 
Budaya
07 Okt 21, 09:26 WIB | Dilihat : 221
Cindai Kebangsaan yang Koyak dan Lusuh
05 Okt 21, 15:01 WIB | Dilihat : 211
Mengingat Siti Quburi di Tengah Arus Deformasi
30 Sep 21, 11:10 WIB | Dilihat : 166
Alih Rupa Sejarah
15 Sep 21, 11:09 WIB | Dilihat : 244
Prespektif Transformasi Budaya Betawi dari Setu Babakan
Selanjutnya
Energi & Tambang
29 Mar 21, 20:15 WIB | Dilihat : 359
Pertamina Jamin Pasokan BBM Aman
28 Jan 20, 13:31 WIB | Dilihat : 1205
Komitmen Budaya pada Reklamasi Pertambangan
22 Okt 19, 12:46 WIB | Dilihat : 1458
Sinergi PHM dengan Elnusa Garap Jasa Cementing di Rawa
Selanjutnya