Laga Hidup Mati Selecao

| dilihat 3361

AKARPADINEWS.COM | LAGA yang digelar 22 Juni 2016, menjadi laga hidup dan mati Portugal di Euro 2016. Dua laga dengan hasil imbang melawan Islandia dan Austria, menempatkan Portugal dalam zona membahayakan di Grup F. Tim yang dilakoni mega bintang Real Madrid, Cristiano Ronaldo itu, rawan terdepak dari pusaran pertarungan di EURO 2016.

Pada laga penutup Grup F nanti, Portugal harus menaklukan juara grup Hungaria. Untuk itu, Fernando Santos harus mengubah strateginya. Pada dua pertandingan sebelumnya, terlihat Portugal amat bergantung pada Ronaldo untuk menembus pertahanan lawan. Ronaldo dipaksakan sebagai penyerang, sekaligus playmaker. Padahal, pemain berusia 31 tahun itu bukan tipe seorang playmaker meski dia bisa mengumpan dengan baik.

Saat laga melawan Islandia, Ronaldo berjibaku sendiri untuk mengatur serangan demi serangan. Dia harus turun ke belakang mengambil bola dan menggiringnya hingga ke depan. Tentu saja itu bukan kebiasaannya seperti saat berlaga bersama Madrid.

Entah apa yang ada di benak teman-teman satu timnya, jika di laga itu sangat bergantung pada Ronaldo. Gol semata wayang yang dilesakkan Nani pun berasal dari permainan Ronaldo sebagai pengatur serangan.

Apa yang terjadi pada Portugal berbanding terbalik dengan lawannya. Pada laga 15 Juni kemarin, Islandia mampu bermain secara tim. Setiap pemain menunjukkan perannya dengan baik. Bahkan, beberapa pemain belakang Islandia berhasil membayangi Ronaldo sehingga tak memiliki ruang gerak yang nyaman untuk mencetak gol.

Di menit 50, Islandia berhasil menyamakan angka dari sepakan Birkir Bjarnason. Gol tercipta lantaran pemain belakang Portugal tidak fokus sehingga membiarkan posisi Bjarnason kosong. Pemain FC Basel itu memanfaatkan umpan lambung dari sisi kanan lapangan dengan tendangan volley-nya ke muka gawang. Kesalahan itu menyebabkan Portugal harus rela berbagi angka dengan Islandia.

Bila dilihat dari statistik pertandingan melawan Islandia, Portugal berhasil menguasai penguasaan bola dengan baik. Portugal mendominasi penguasaan bola hingga mencapai 72,3 persen sepanjang pertandingan. Selain itu, Portugal berhasil menembakkan bola sebanyak 26 tendangan ke arah gawang. Sayangnya, hanya sembilan tendangan yang berhasil mengusik penjaga gawang Hannes Thor Halldorsson.

Belajar dari kesalahan kala melawan Islandia, Portugal sebenarnya telah mengubah permainannya kala melawan Austria. Pada laga 19 Juni itu, Santos telah membuat timnya tidak terlalu bergantung pada Ronaldo. Masing-masing pemain sudah mulai memerankan perannya dengan sangat baik.

Joao Moutinho telah mengambil peran sebagai pengatur serangan sekaligus pertahanan tengah. Tak jarang, Moutinho melesakkan tendangan spekulasi keras ke arah gawang. Hanya saja, tendangan itu tak mampu membuahkan gol. Selain itu, kawalan ketat terhadap Nani dan Ronaldo membuat penyerangan sering tumpul di depan gawang.

Pada laga itu, Ronaldo menunjukkan ancamannya terhadap Austria. Dia berhasil menekan pertahanan lawan dengan serangan dari berbagai penjuru. Sayangnya, dari berbagai serangan itu, pemain yang telah berlaga untuk Portugal sebanyak 128 laga itu tak berhasil mencetak satu angka pun.

Pada babak kedua, Portugal mendapat hadiah penalti setelah Ronaldo dilanggar Martin Hinteregger di dalam kotak pinalti. Sayangnya, CR7 gagal memaksimalkan kesempatan itu. Tendangannya mengenai tiang kiri gawang.

Ronaldo hampir saja membuahkan angka dari sundulannya. Namun, gol itu dianulir wasit karena Ronaldo telah lebih dahulu offside. Hingga akhir pertandingan, Portugal harus puas dengan hasil imbang 0-0.

Sebenarnya, pada pertandingan kontra Austria, para punggawa Selecao bermain cukup apik. Sama seperti laga kontra Islandia, Portugal mampu menguasai penguasaan bola. Penguasaan bola Selecao pada laga itu mencapai 59 persen.

Total bola yang dilesakkan ke arah gawang pun cukup lumayan. Sekitar 23 tendangan, enam di antaranya mengarah tepat ke arah gawang. Sayangnya, semua tendangan itu tak satupun mencetak angka.

Keberhasilan Austria menahan gempuran tendangan Ronaldo cs adalah hasil dari jerih payah kiper utamanya, yakni Robert Almer. Kiper berusia 32 tahun itu bermain sangat apik. Berbagai tendangan dari pemain Portugal berhasil dihalaunya dengan baik. Tak jarang, Almer melakukan aksi akrobatik untuk menahan laju bola.

Kelemahan Portugal pada laga kontra Austria ialah terlalu banyaknya melakukan tendangan spekulasi dari luar kotak pinalti. Hal itu harus menjadi catatan penting bagi Santos untuk memoles timnya saat kontra dengan Hungaria.

Catatan tak kalah penting ialah perihal komunikasi pemain di lapangan. Pada dua laga sebelumnya, komunikasi pemain Portugal sangat mudah terbaca lawan. Operan-operan pendek dan umpan-umpan silang sangat mudah diantisipasi lawan. Terlebih, umpan-umpan itu kerap mengarah kepada Ronaldo.

Meski berakhir dengan hasil seri, Santos menanggapi performa timnya dengan tenang. Dia mengatakan, kedua hasil pertandingan Portugal memang mengecewakan. Namun, itu dapat menjadi alasan kuat mereka harus menang.

“Hungaria pastinya akan sangat bahagia bila laga nanti berakhir seri, karena mereka sudah dipastikan lolos ke fase selanjutnya. Motivasi tinggi Hungaria itu harus mampu kami hantam dengan segala daya upaya kami,” ungkapnya.

Untuk laga Kamis dini hari nanti, Santos harus mampu meracik strategi berbeda dari laga sebelumnya. Hal terpenting yang harus diingat ialah jangan terlalu berharap pada Ronaldo. Sebab, strategi membangun serangan mengarah kepadanya akan mudah terbaca lawan.

Untuk itu, Santos harus memaksimalkan peran Moutinho di lapangan tengah. Pemain berusia 29 tahun itu harus mampu berperan sebagai playmaker yang apik untuk dapat menyuplai bola ke depan.

Agar konsentrasi Moutinho tak terpecah, Santos harus mengkomandokan William Carvalho untuk menjadi lapisan pertahanan kala Moutinho tengah membangun serangan. Dengan begitu, pemain AS Monaco itu akan mampu memberikan umpan-umpan apik buat Ronaldo ataupun Nani.

Hal yang tak kalah penting ialah Santos harus mampu menempatkan Ronaldo pada posisi yang tepat. Sebab, posisinya sebagai penyerang tengah, tak terlalu tepat. Di Madrid, posisi Ronaldo ialah penyerang sayap kiri. Dari posisi itu, Ronaldo mampu membuahkan banyak gol dengan sangat baik.

Bila memungkinkan, Santos perlu mengubah strateginya dari 4-4-2 menjadi 4-3-3. Pada formasi itu, Ronaldo bisa diposisikan sebagai penyerang sayap kiri, Nani sebagai penyerang sayap kanan, dan Ricardo Quaresma sebagai penyerang tengah. Dengan komposisi itu, Ronaldo dapat bermain dengan potensi penuhnya.

Agar dapat bermain apik dengan formasi itu, Santos harus mencari pemain tengah yang tepat untuk mendampingi Moutinho di lini tengah. Selain berfungsi sebagai partner menyerang, pemain tengah itu harus mampu membantu pertahanan tengah yang kemungkinan diisi oleh W. Carvalho.

Di sisi Hungaria, dapat dipastikan sang pelatih, Bernd Storck, akan memasang penyerang andalannya Adam Szalai. Pemain berusia 28 tahun itu kemungkinan akan menjadi ancaman bagi pertahanan Portugal yang dipimpin Ricardo Carvalho. Szalai adalah penyerang Hungaria yang menorehkan gol perdana di Euro kali ini.

Bila penyerang dari klub Hannover 96 itu dibiarkan begitu saja, bisa jadi Portugal akan kecolongan angka lebih dahulu, seperti yang dirasakan oleh Austria. Agaknya, R. Carvalho dan Pepe harus mampu memotong suplai bola kepadanya sehingga kemungkinannya untuk mencetak angka menipis.

Seandainya Portugal kalah pada laga lawan Hungaria, maka Selecao akan menjadi tim besar pertama yang angkat koper dari Perancis. Untuk itu, kemenangan adalah harga mati Portugal untuk dapat melaju pada fase selanjutnya Euro 2016.

Bila sampai kalah, Ronaldo akan kehilangan panggung untuk pembuktian dirinya sebagai pemain yang tak hanya berprestasi di klub, tapi juga untuk negaranya. Tanpa keberhasilan Portugal menjuarai Euro 2016, tertutup kemungkinan untuk Ronaldo mampu mempersembahkan gelar apapun bagi Portugal.

Pasalnya, kemungkinan Ronaldo dapat berlaga di Euro 2020 sangat kecil, karena saat itu usia Ronaldo sudah 35 tahun. Oleh karena itu, laga melawan Hungaria adalah laga penentu terakhir untuk Ronaldo.

Muhammad Khairil

Editor : M. Yamin Panca Setia | Sumber : League Lane/Sky Sports/BBC/The Guardian/Daily Mail
 
Budaya
07 Okt 21, 09:26 WIB | Dilihat : 221
Cindai Kebangsaan yang Koyak dan Lusuh
05 Okt 21, 15:01 WIB | Dilihat : 210
Mengingat Siti Quburi di Tengah Arus Deformasi
30 Sep 21, 11:10 WIB | Dilihat : 166
Alih Rupa Sejarah
15 Sep 21, 11:09 WIB | Dilihat : 243
Prespektif Transformasi Budaya Betawi dari Setu Babakan
Selanjutnya
Sainstek
20 Nov 19, 13:05 WIB | Dilihat : 1936
Rumah Ilmuwan Bukan di Menara Gading
08 Nov 19, 23:07 WIB | Dilihat : 2299
Kebijakan Perikanan Belum Berbasis Sains yang Utuh
Selanjutnya