
AKARPADINEWS.COM | Episode 26 Rindu Satpam Kita (RSK) yang sedianya ditayangkan hari Minggu pekan lalu (karena jam siarnya dipakai TVRI untuk siaran langsung konser ulang tahun ke 53), sebenarnya adalah episode yang khas. Di episode ini, melalui Rindu (Krisni Dieta) kita diajak bercermin untuk bagaimana bersikap menghadapi sukacita dan kecewa yang datang bergantian.
Rindu bersukacita karena selesai di wisuda. Mbok Darmi (Lisa Syahtiani) yang lama tak pernah pakai kebaya, harus mengenakan kebaya. Ketika puterinya mengikuti prosesi wisuda, Mbok Darmi mengaku, dirinya seperti kijang yang masuk ke dalam gedung. Di kampus itu, Rindu memperkenalkan Roy (Sehmi) dengan Mbok Darmi dan Oyot (Erick) – kakak sepupu Rindu yang rada songong.
Anto (Arief Wibowo) dan Bu Gendon (Ida Zein) juga senang melihat Rindu usai melintasi satu etape kehidupannya. Irwan (Hendrayan) – pemimpin cabang – memberi kejutan, dengan mengundang Rindu dan Wulan (Erma Zarina) makan di resto. Tapi, mereka membuat kejutan yang menghentak dan memancing emosi Rindu.
Maklum, sebelum tiba di resto, Rindu terluka oleh sikap dan kelakuan Roy, yang ternyata adalah kekasih Yanti (Karina Meitha). Rindu mengendalikan dirinya, ketika Yanti, memperkenalkan dia dengan Roy. Hatinya geram, tapi dia masih sempat mengendalikannya. Sikap Roy, dianggap Yanti sebagai ekspresi ketidak-sukaan Roy kepada Wulan dan Rindu. Yanti memang tak tahu, kekasihnya itu sedang mendekati Rindu, dan Rindu mulai terpikat.
Kekecewaan itu mengusik pandangan Rindu tentang sikap dan watak lelaki. Rindu mempertanyakan hal itu kepada Shinta (Wina Marrino), yang dia anggap lebih berpengalaman tentang watak lelaki. Kekecewaan itu memang menghantui Rindu, sampai-sampai terbawa dalam angannya.
Rindu berusaha mengatasi masalah dengan fokus kembali kepada pekerjaannya sebagai satpam, karena dia sedang memasuki masa-masa akhir bertugas sebagai satpam. Selepas itu, dia mengikuti diklat sebagai calon bankir. Menjelang akhir bertugas sebagai satpam, Rindu dan Wulan sempat gulana. Keduanya gundah, karena akan berpisah.

ROY (SYEHMI), KEKASIH YANTI (KARINA MEITHA) SANGAT MENGECEWAKAN RINDU DAN MEMBUAT RINDU GERAM | FOTO: AKARPADISELARASMEDIA
Di episode yang merupakan episode mosaik batin dan aksi kehidupan manusia, mengubah realitas pertama menjadi realitas kedua kehidupan, ini banyak rima-rima kehidupan yang mempertemukan sukacita dan derita dalam satu tarikan nafas. Juga tentang luvifantasia (fantasi kedalaman cinta) Anto kepada Rindu, yang dia ekspresikan di dalam karya novelnya.
Kepada wartawati (Ratu Selvi Agnesia) yang mewawancarainya, Anto menjelaskan tentang Rindu, yang dia jelmakan dalam tokoh Syauqia di dalam novelnya. Satu di antara perempuan yang memengaruhi kehidupan Anto. Pada Rindu, fantasi itu memang hidup, karena Rindu adalah wanita biasa yang ingin dicinta dan menyinta.
Pada episode ini, para pemain sedang memasuki fase suspense yang menarik. Krisni, Erma, Wina, Arief, Wawan Wanisar, Ida Zein, Sehmi dan sejumlah pemain lainnya, termasuk Selvi mengolah daya mereka untuk menampilkan karakter sesuai yang diminta oleh skenario. Sutradara Tito Kurnianto, terlihat ketat menjaga porsi dan eksplorasi masing – masing pemain sesuai dengan karakter itu.
Sejak dari episode 10 sampai episode 25, Tito memang mengelola fase-fase peningkatan peran dari rising action sampai ke suspense dengan berbagai varian pendekatan. Tito nampak sadar, hampir seluruh pemain, selama ini bermain di berbagai sinetron kejar tayang dengan short shooting days, sehingga tak terbiasa dengan detil. Begitu juga kebanyakan kru yang terbiasa mengerjakan sinetron kejar tayang.

RINDU (KRISNI DIETA) CURHAT KEPADA SHINTA (WINA MARRINO) TENTANG WATAK LELAKI | FOTO : AKARPADISELARASMEDIA
Berkat kerjasama dengan director of photography dan kru yang juga bersemangat ingin menghasilkan film televisi yang prima, serta para aktor dan aktris yang bersungguh-sungguh pula, episode 26 ini mampu mengeksploitasi suasana batin dalam porsi yang pas.
Wawan Wanisar, aktor senior pemeran Gendon, mengungkapkan sukacitanya disutradari Tito. Dia melihat, sebagai sutradara Tito cukup detil dalam menjaga nilai-nilai. Karenanya, adegan, dialog, dan dimensi etik yang melingkupi terjaga dengan apik. Supriyadi, pemeran Kong Ucup juga melihat hal yang sama. Karena itu, dia bersama lawan mainnya, seperti Kardi dan Ali yang menjadi begundal, tak membuang waktu, sebelum tiba giliran take, melakukan reading. Cara itu ditempuh, agar proses syuting berjalan lebih efektif dan tidak bertele-tele.
Ucup memberikan isyarat, syuting yang efektif dan efisien hanya mungkin terjadi bila terjadi kolaborasi kuat, karena film merupakan karya kreatif kolektif kolegial. Begitu juga dengan mereka yang berada di barisan belakang, seperti editor (Nugi) dan penata musik (Areng Widodo). Terutama, karena Tito ketika mengarahkan pemain di lapangan, sudah mempunyai frame untuk memberi porsi yang proporsional dan fungsional bagi ekspresi artistik dan estetik pemain, kru artistik, DOP, make up, wardrop, dan lain-lain.
RSK yang diapresiasi Forum Film Bandung 2015 sebagai satu di antara lima nominee (bersanding dengan Preman Pensiun, Di Bawah Lindungan Abah, 3 Semprul Mengejar Surga, dan Cinta di Langit Tajmahal) untuk kategori Sinetron Serial Terpuji – dan Krisni Dieta sebagai nominee untuk Pemeran Wanita Utama Terpuji, memang dirancang sebagai film televisi dengan format edutainment. Lantas, pada perkembangan lanjutnya, RSK juga dikembangkan desainnya menjadi psychotherapy movie yang memberi ruang katarsis bagi pemirsa, pemain, dan kru.

WULAN (ERMA ZARINA) DAN RINDU (KRISNI DIETA) DI JELANG AKHIR TUGAS RINDU SEBAGAI SATPAM | FOTO: AKARPADISELARASMEDIA
Hal itu bisa terjadi, karena Bang Sem – Produser Eksekutif sekaligus ideator cerita dan penulis skenario – menjaga dengan cermat agar di dalam film seri televisi ini, dimensi artistik – estetik – etik terkelola dengan baik.
“Film televisi itu adalah konten yang akan menunjukkan media televisi menjadi medium pencerahan atau pembebalan bagi pemirsa dan semua orang yang terlibat di dalamnya. Karena itu, konsepnya harus jelas,”ungkap mantan General Manager Operasi Televisi Pendidikan itu.
Bagi Bang Sem, film televisi harus berpijak pada kearifan untuk menempatkan khalayak pemirsa sebagai subyek aktif yang dapat memilih dan memilah nilai kultural dan spiritual yang mencerahkan. Termasuk dalam mengaktualisasi penggunaan bahasa komunikasi. Terutama, ketika film ini diproduksi di penghujung peralihan era informasi ke era konseptual.
Sejumlah pemain, pada mulanya merasa berat mengaktualisasi saat syuting berlangsung. Karena itulah, pemain yang biasa mengucapkan dialog karena dipandu ketika take, mengalami kesulitan. Terutama dalam konteks persepsi atas dialog dan kemampuan mengelola intonansi, aksentuasi, dan performa dalam akting.
Tidak mudah memang, mengembalikan film televisi ke posisinya semula sebagai salah satu katarsis sosio budaya bagi khalayak pemirsa.. | JM Fadhillah