PUISI GUS NAS

Fragmen Pohon dan Rimba

| dilihat 294

Nasruddin Anshoriy CH

 

PAKU

 

Korupsi para menteri memaku lidahku

Langit memucat di cakrawala

Gempa dukacita melepuhkan panas hatiku

 

Apa yang kalian cari wahai para pendurhaka bangsa?

Saat pandemi sedang meracuni bangsa ini

Ketika pengangguran mencekik leher anak-anak bangsa

Manakala kemiskinan menjelma api neraka

Tega-teganya kalian gorok tenggorokan ini

 

Berita pagi ini memaku bola mataku

Kebiadaban korupsi yang menusuk-nusuk nurani

Sabotase ekonomi yang membunuh anak-cucu di negeri ini

 

Dengan diksi apalagi aku harus mengucap rasa malu ini?

Kosakata tak lagi mendedah sukma

Bait-bait makin menjerit di ulu hati

 

Korupsi di negeri ini telah memaku jantungku

Hidup tanpa detak

Pekat dalam detik

Hujan paku menjelma banjir besi berkarat dalam auman doaku

 

(Gus Nas Jogja, 6 Desember 2020)

 

TERIMA KASIH, GURU

 

Terima kasih, Guru, untuk pohon aksara yang telah kautanam dalam ladang kalbuku

Kini pohon-pohon aksara itu telah berdiri tegak pada lurus pena jiwaku

 

Aksara yang menjelma rimba belantara pada bait-bait puisi

Hutan raya kata-kata yang menyedekahkan udara segar pada keruh tutur kata dalam kusam negeriku

 

Engkaulah, Guru, yang menanam ilmu di ladang pikiranku

Agar otak tak beronak

Agar pengetahuan menyilaukan cahaya

Agar peta kecerdasan membentangkan jagat semesta

 

Kugali abjad-abjad rahasia yang terkubur dalam dzikir abadi

Mutiara hati yang bersemayam di jantung puisi

 

Engkaulah, Guru, yang meluruskan kiblat kalbu pada rakaat cintaku

Yang mengajarkan kefasihan dalam diksi dan intonasi pada lekuk lebam lidahku

 

Sesudah nabi dan ibu menjadi tongkat makrifatku

Engkaulah, Guru, bianglala kebajikan yang memperindah kemanusiaanku

 

Gus Nas Jogja, 25 Nov 2020

 

 

IBUKU, GURUKU

 

Saat tatap muka tak lagi sempurna

Dan ruang-ruang kelas hanya menyisakan debu semata

Ibuku adalah guru sejatiku

 

Kepada siapa anak-anak bangsa ini mencari ilmu

Saat sekolah menutup pintu karena wabah sedang jumawa

Ketika jarak dijaga agar pandemi tak menaburkan duri

Bukankah rumah adalah awal dan akhir tempat kita belajar

 

Pada ilmu dan buku-buku

Kita mendaki puncak tertinggi

Bumi dan alam semesta mengajarkan segalanya

 

Pada kamus dan rumus-rumus

Kita jelajahi rimba kata-kata dan hutan angka

Sebab tebing filsafat dan gunung makrifat wajib dipanjat

 

Ibulah asal-muasal aku mengenal aksara

Ibulah perpustakaan yang di hatinya bertumpuk kitab-kitab kebijaksanaan sejak di zaman purba

 

Berguru keteladanan hanya pada Ibu

Sebab dalam jiwanya terbentang luas cakrawala

Pada tutur kata dan gerak jiwanya bersemayam ketulusan cinta

 

Ibuku adalah guruku

Ibumu adalah gurumu

Disanalah tali plasenta merajut dan merangkai kasih-mesranya

 

Kepadamu Ibu kutanam benih rindu

Kasih dan ilmu yang tumbuh tanpa benalu

Cinta dan kemesraan yang memekar di putik kalbu

 

Gus Nas Jogja, 25 Nov 2020

 

MATINYA DEMOKRASI

 

Matinya demokrasi tak pernah dikafani

Ketika para wakil rakyat hanya sibuk merias diri

Dan kekuasaan penuh seremoni

Sejatinya demokrasi hanyalah gemerlap kepalsuan dan basa-basi

 

Memandang Indonesia seperti kura-kura dalam perahu

Maka jawabku sudah gaharu cendana pula

 

Dalam secangkir cinta

Ada setenggak nestapa

Saat elite penguasa dimabuk korupsi

Ternyata wakil rakyat setali tiga uang adanya

 

Bertanya pada Kusbini

Kepada siapa negeri ini mewakafkan diri?

Untuk apa demokrasi dirayakan manakala korupsi tak mati-mati?

 

Bukankah demokrasi sudah lama dibeli oleh kaum priyayi?

Lalu diobral dengan janji manis dalam iklan dan jutaan baliho di negeri ini?

 

Matinya demokrasi hanya menyisakan lebam di ulu hati

 

Gus Nas Jogja, 22 Nov 2020

FRAGMEN POHON DAN RIMBA

 

Pohon-pohon tua itu menuliskan sejarahnya

Pada getah dan galih

Tentang rimba yang perih

 

Bermula sebutir benih

Ia tumbuh dan berserah

Saat kemarau ia tak mengucap risau

Kala hujan ia tak galau

 

Pohon-pohon tua itu begitu perkasa menempa takdirnya

Ia serap saripati bumi dengan akar-akarnya

Ia sedekahkan udara segar pada manusia

 

Ada simponi dan harmoni di hutan semesta

Ada cinta dan orkestra di rimba raya

 

Pohon-pohon tua itu hanya bisa memberi

Tak pernah meminta

Menjadi teladan tentang kebaikan hati

Ia tak pernah pamrih pada buah yang dihasilkannya

 

Saat angin berkesiur dan menjatuhkan daunnya

Pohon-pohon tua itu mengerti apa makna rahmat dan karunia

 

Lalu gergaji mesin itu datang dan membelah batang tubuhnya

Pohon-pohon tua itu hanya bisa menahan luka tanpa berkata-kata

 

Ia rebah ke tanah tanpa karangan bunga

Dan tanpa ucapan duka cita atau belasungkawa

Ia diseret-seret oleh tangan-tangan kasar dan bengis

Ia tinggalkan hutan sebagai rumah rimbanya

 

Hari ini aku persembahkan puisi ini

Dengan bait-bait tanya dan air mata

Kenapa akal manusia begitu tumpul dan gagal menumbuhkan kemanusiaannya?

 

Gus Nas Jogja, 23 Nov 2020

Editor : Web Administrator
 
Ekonomi & Bisnis
31 Agt 21, 19:09 WIB | Dilihat : 329
Pandemi dan Pemulihan Ekonomi Lokal
14 Mar 21, 23:46 WIB | Dilihat : 414
Sindroma Ambivalensia
16 Des 20, 07:56 WIB | Dilihat : 585
Peta Bank Syariah di Indonesia Berubah
Selanjutnya
Lingkungan
27 Sep 21, 12:15 WIB | Dilihat : 309
Selamatkan Kebun Raya Bogor
10 Sep 21, 14:55 WIB | Dilihat : 165
Ida Mengamuk Sejumlah Kota Amerika Serikat Berantakan
01 Agt 21, 09:31 WIB | Dilihat : 163
Membaca Sinyal Presiden Joe Biden tentang Jakarta
Selanjutnya