Profesor Hendrik van Breen

Penata Air Batavia

| dilihat 2675

AKARPADINEWS. COM | TAHUN 1819, Batavia diterjang banjir hebat. Tumpahan air bah menewaskan banyak korban jiwa. Batavia yang menjadi pusat perekonomian dan pemerintahan pun lumpuh. Pemerintah Hindia Belanda tidak tinggal diam. Upaya besar-besaran pun dilakukan untuk menangkal banjir lanjutan.

Adalah Professor Hendrik van Breen yang ditunjuk pemerintah untuk merancang strategi menangkal banjir. Kementerian Pekerjaan Umum Hindia Belanda (Burgerlijke Openbare Werken/ BOW) meminta guru besar teknik sipil bidang Bangunan Air Technische Hoogeschool te Bandoeng (TH Bandung), yang kini dikenal Institut Teknologi Bandung (ITB) itu, untuk mencari solusi. Van Breen pun bersedia. Langkah awal yang dilakukannya adalah mempelajari kondisi dan karakteristik sungai-sungai yang membelah Batavia.  

Secara geomorfologis, Jakarta adalah kawasan yang rentan banjir karena berada di dataran rendah, bahkan lebih rendah dari permukaan laut. Jakarta juga daerah aliran sungai. Ada 13 sungai yang bermuara ke Teluk Jakarta. Di wilayah bagian timur, terdapat Sungai Cakung, Kramat Jati, Buaran, Sunter, dan Cipinang. Sedangkan pada wilayah tengah, terdapat Sungai Ciliwung, Cideng, dan Krukut.

Di wilayah barat, ada Sungai Grogol, Sungai Sekretaris, Sungai Pesanggrahan, Sungai Mookervart, dan Sungai Angke. Dengan mengadopsi perencanaan tata ruang Amsterdam, Van Breen mencetuskan ide perlunya membuat sistem kanal segi empat di Batavia.

Selanjutnya, van Breen yang pernah menjabat sebagai pejabat Walikota Batavia (Waarnemend Burgemesster), mencari cara mengendalikan aliran air. Konsep van Breen bersama timnya sebenarnya sederhana. Namun, perhitungannya cermat. Van Breen mencari cara menata atau mengatur aliran air dari hulu dan membatasi volume air yang masuk ke Batavia.

Karena itu, dibangun saluran kolektor di pinggir selatan kota, untuk menampung limpahan air, yang selanjutnya dialirkan ke laut, melalui tepian barat kota. Saluran kolektor yang dibangun itu yang kini dikenal sebagai Banjir Kanal yang memotong Kota Jakarta dari Pintu Air Manggarai, bermuara di kawasan Muara Angke.

Van Breen bersama tim melakukan penggalian kanal, yang kemudian diarahkan menuju ke laut tepian barat kota. Banjir Kanal Barat, dibangun tahun 1922. Penggalian kanal 4,5 kilometer dengan kedalaman 4-12 meter itu dilakukan dengan tenaga manusia.

Pintu air Manggarai dibangun terlebih dulu agar air bermuara ke Muara Angke. Manggarai pun dipilih karena menurut hasil penelitian Van Breen, kawasan itu berada di batas wilayah selatan kota yang relatif aman dari banjir.

Dengan perhitungan cermat, maka dibuatlah Pintu Air Manggarai yang berfungsi sebagai pengatur debit air Sungai Ciliwung. Seperti dikutip dari laman Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Banjir Kanal itu dikerjakan secara bertahap, dari Pintu Air Manggarai menuju Barat, memotong Sungai Cideng, Sungai Krukut, Sungai Grogol, lalu ke Muara Angke.

Untuk mengatur debit aliran air ke dalam kota, Banjir Kanal dilengkapi beberapa Pintu Air, antara lain: Pintu Air Manggarai (untuk mengatur debit Kali Ciliwung Lama) dan Pintu Air Karet (untuk membersihkan Kali Krukut Lama dan Kali Cideng Bawah dan terus ke Muara Baru).

Dengan adanya Banjir Kanal, beban sungai di utara saluran kolektor relatif terkendali. Karena itu, alur-alur tersebut dan beberapa kanal yang dibangun, dimanfaatkan sebagai sistem makro drainase kota guna mengatasi genangan air di dalam kota.

Sedangkan Untuk mengendalikan air di hulu sungai dan membatasi volume air masuk kota, perlu dibangun saluran bagian selatan kota yang selanjutnya dialirkan menuju ke barat. Kanal pun terus melaju hingga memotong Sungai Cideng, Krukut, dan Grogol. Benar saja, kanal dapat mengendalikan banjir dibagian utara. Kanal tersebut yang kemudian disebut dengan Banjir Kanal Barat.

Tidak hanya Banjir Kanal Barat, sebelumnya Van Breen telah membuat bendung di Bogor setelah mengindentifikasi faktor-faktor penyebab banjir Batavia. Berlokasi di Kelurahan Katulampa Bogor Jawa Barat, bendung sepanjang 74 meter itu dibangunnya, dan diresmikan pada tahun 1912. Bendung Katulampa tidak sama dengan bendungan. Bila bendungan untuk mengendalikan volume air, maka Bendung Katulampa, berfungsi sebagai sirine awal peringatan banjir.

Bendung Katulampa dibangun di hulu Sungai Ciliwung. Bangunan beton tersebut sering menuai decak kagum karena masih berdiri kokoh hingga kini. Selain memegang fungsi krusial sebagai peringatan banjir Jakarta, Bendung Katulampa, menjadi pintu irigasi yang mengairi 5.000 hektare sawah pada waktu itu. Tidak hanya itu, hasil karya Van Breen masih terasa nyata digunakan sebagai jalur transportasi warga.

Sayang, realitas menunjukkan, banjir masih menjadi petaka yang kerap melanda Jakarta. Pola hidup masyarakat yang tidak ramah lingkungan, buruknya tata ruang kota dan sistem drainase, serta curah hujan yang tinggi, menjadi pemicu banjir yang sulit diantisipasi. Meski sudah ada upaya pencegahan banjir, namun Jakarta masih sering dikepung banjir, apalagi di saat musim hujan.

Di tahun 2007, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, kembali merealisasikan ide Van Breen, dengan membangun kanal baru yang diberi nama Banjir Kanal Timur. Tantangannya lebih berat, berbeda dibandingkan saat membangun Banjir Kanal Barat. Dulu, saat pembangunan Banjir Kanal Barat, Batavia luasnya 2.500 hektar dan berpenduduk sekitar 15.000 jiwa. Kini, luas Jakarta mencapai 664,01 kilometer persegi dan berpenduduk 9.988.495 jiwa.

Pesatnya perkembangan Jakarta mengharuskan pembangunan Banjir Kanal Timur dapat luwes berkompromi dengan tata ruang kota, tanpa mengesampingkan keberlanjutan aktivitas warga.

Van Breen menjadi sosok insinyur asal Belanda yang buah pemikirannya masih hidup hingga kini. Pembangunan kanal menjadi bukti nyata kelanggengan gagasan Van Breen terus menjadi acuan solusi banjir Jakarta.  Van Breen pun menawarkan alternatif penyelesaian banjir yang dapat menginspirasi wilayah-wilayah lain di Indonesia.

Ratu Selvi Agnesia

Editor : M. Yamin Panca Setia
 
Sainstek
20 Nov 19, 13:05 WIB | Dilihat : 1929
Rumah Ilmuwan Bukan di Menara Gading
08 Nov 19, 23:07 WIB | Dilihat : 2296
Kebijakan Perikanan Belum Berbasis Sains yang Utuh
Selanjutnya
Humaniora
13 Okt 21, 09:25 WIB | Dilihat : 114
Pendekar Mabuk di Tengah Coronastrope
05 Okt 21, 16:00 WIB | Dilihat : 242
Penista Nabi Muhammad Mati Dilahap Truk
03 Sep 21, 12:31 WIB | Dilihat : 205
Membaca Tantangan Abad 21 dan Hegemoni Pendidikan Global
20 Agt 21, 09:28 WIB | Dilihat : 566
Politik Kematian Simbol Kediktatoran
Selanjutnya