
PENGUNDURAN diri Joe Kent dari jabatannya sebagai Kepala Kontra-terorisme Amerika Serikat (AS) pekan lalu (Selasa, 17.03.26), masih belum habis gaungnya di AS. Bahkan, terkesan masih menghebohkan Washington DC.
Dalam surat pengunduran dirinya kepada Presiden AS Donald Trump, Kent menyatakan, "Iran tidak menimbulkan ancaman yang segera terjadi bagi negara kita." Lantas, dalam surat Kent tersebut, tersirat, Gedung Putih telah berperang atas nama Israel.
Pernyataan Joe tersebut, kontan ditentang para petinggi dalam pemerintahan Trump, dan masih bergema lantaran berbagai pandangan para analis politik di AS.
Pada cuitan di akun X-nya, Kent menuliskan, "Setelah banyak pertimbangan, saya telah memutuskan untuk mengundurkan diri dari posisi saya sebagai Direktur Pusat Kontraterorisme Nasional, efektif hari ini."
Kemudian ia menyatakan, "Dengan hati nurani yang baik, saya tidak dapat mendukung perang yang sedang berlangsung di Iran. Iran tidak menimbulkan ancaman langsung bagi negara kita, dan jelas bahwa kita memulai perang ini karena tekanan dari Israel ..." Ia menutup dengan harapan, " Semoga Tuhan memberkati Amerika."
Khalayak segera teringat dengan tulisannya yang dimuat-naik pada akun X-nya, 14 Februari 2025, sambil memuat naik cuitan Presiden AS Trump.
"Suatu kehormatan untuk kembali mengabdi kepada bangsa kita, saatnya menjaga bangsa kita tetap aman dan kuat!," tulis Kent.
Akan halnya Trump mengungkapkan suasana hatinya, suka-cita mencalonkan Joe Kent sebagai Ketua Pusat Kontra Terorisme Nasional. Trump memuji Joe sebagai seorang prajurit, anggota Pasukan Khusus Green Beret, dan Perwira CIA, yang telah memburu teroris dan penjahat sepanjang hidupnya.

Tolak Pandangan Kent
Trump juga menyatakan, Kent amat paham dampak buruk terorisme, sehingga ia kehilangan istri tercintanya, Shannon, akibat terorisma. Trump menyebut Shannon laksana ' seorang Pahlawan Amerika yang hebat, yang gugur dalam pertempuran.'
"Joe akan membantu kita menjaga keamanan Amerika dengan memberantas semua terorisme, dari para jihadis di seluruh dunia, hingga kartel di sekitar kita," pungkas Trump dalam cuitannya.
Karenanya, para petinggi AS seolah berlomba membantah pernyataan singkat Kent. Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt meyakinkan para juruwarta, bahwa keputusan Trump memiliki bukti untuk mendukung keputusannya menyerang Tehran (dan menewaskan lebih 100 orang siswa sekolah menengah perempuan).
Sedangkan Ketua Parlemen (DPR) AS, Mike Johnson, mempertanyakan informasi Kent dengan pertanyaan yang 'mengundang senyum,' ketika ia menyatakan, “Saya tidak tahu dari mana Joe Kent mendapatkan informasi ini. Dia tidak hadir dalam pengarahan -- penyerangan -- tersebut.”
Johnson menyatakan, “Seandainya presiden menunggu, kita akan mengalami banyak korban jiwa. Pernyataan itu jelas salah.”
Pernyataan Kent juga dibantah secara terbuka oleh Direktur Intelijen Nasional Tulsi Gabbard, yang menyatakan, pemerintah menolak pandangan bahwa 'Iran tidak menimbulkan ancaman.'
Kent sendiri tak mengubah pandangannya, bahwa AS telibat dalam perang Israel-AS versus Iran, terdorong oleh tekanan dari Israel dan para pendukungnya di AS. Bukan karena kebutuhan keamanan yang mendesak.
Menanggapi surat pengunduran diri Kent, Trump mengabulkan dan memandang pengunduran diri tersebut sebagai 'hal yang baik.' Bagi Trump pengunduran diri tersebut sebagai sesuatu yang 'sangat lemah dalam hal keamanan.' Ia juga menyatakan, 'Klaim Kent bertentangan dengan peringatan selama bertahun-tahun.'

Iran Timbulkan Ancaman
Berbagai analisis para analis segera menggemakan penilaian tersebut.
Shayan Samii, mantan pejabat pemerintah AS dan analis Iran-Amerika mengemukakan, bahwa Trump dalam pidato kenegaraannya, mengatakan bahwa Iran merupakan ancaman dan Iran sedang mempertimbangkan untuk menyerang Amerika Serikat secara langsung.
"Itu bukan imajinasi Trump,” kata Samii, seraya menunjuk pada program rudal dan aktivitas nuklir Iran sebagai bukti lebih lanjut. Ia menambahkan, posisi tersebut memperkuat kekhawatiran bahwa Iran menggunakan diplomasi untuk mengulur waktu.
Sedangkan Utusan Gedung Putih, Steve Witkoff mengemukakan, dalam percakapan dengannya dan Jared Kushner (menantunya) di dalam Air Force One (8.03.26), Trump menyatakan, “Mereka membual memiliki bahan bakar yang diperkaya 60 persen, cukup untuk sebelas bom. Kita tidak akan memberikan cara diplomatis apa yang dapat anda ambil secara militer."
Selaras dengan pandangan demikian, badan-badan keamanan AS telah lama memperingatkan bahwa Iran menimbulkan ancaman yang beragam, termasuk serangan siber terhadap infrastruktur penting, potensi operasi di wilayah AS, kemampuan drone, dan serangan proksi di seluruh Timur Tengah.
FBI juga telah memperingatkan penegak hukum di California tentang kemungkinan pembalasan yang terkait dengan perang, termasuk risiko aktivitas drone Iran yang menargetkan Pantai Barat AS.
Tak hanya itu, Kent juga dihadapkan oleh pertanyaan tentang akses dan hubungan masa lalunya terhadap intelijen dan motivasi di balik posisinya serta hubungan politiknya di masa lalu.
Pemandu siniar (podcast) Brink, Jake Wallis Simons -- yang juga kolomnis di The Telegraph, menyatakan, Kent memiliki sejarah supremasi kulit putih. Latar belakang Kent harus dipertimbangkan ketika mengevaluasi posisinya. | jeanny