Bukan Diplomat Ujug Ujug

Sayyed Abbas Araghchi Idola di Tengah Perang AS dan Israel versus Iran

| dilihat 385

Catatan Jeahan

Masyarakat internasional (global) punya idola baru. Lelaki hensem dengan penampilan simpatik, senyum tipis, dan piawai menyimpan ketegasan sikap -- bahkan kemarahan -- di matanya, namun tersembunyi di balik tipis senyumnya.

Ia menjadi perbincangan hangat di berbagai medium, saluran dan platform media global karena kepemimpinan dan berbagai pernyataannya selama konflik geopolitik saat ini.

Pikiran yang mengalir lewat narasi, pilihan diksi, aksentuasi, dan ritme suaranya yang bagai mengekspresikan tembang -  tembang Irani nan melodius. Namun skali sekala hadir bak penyanyi dan musisi Rastak, ansambel yang khas menyajikan musik rakyat kontemporer di blantika musik dunia.

Pola retorika yang mengemuka dalam pidato dan percakapan diplomatiknya kerap bagai memadukan ekspresi suara keragaman melodi tradisional rakyat Iran dalam artikulasi kontemporer yang modern.

Suara aspirasi dan inspirasi bangsa dan berbagai ekspresi etnis rakyat Iran -- dengan anasir budaya Persia penuh makna filosofi -- dalam pola ungkap aspirasi global yang dinamis.

Tak salah, ketika siapa saja menyebut idola diplomasi internasional kiwari, itu adalah Sayyed Abbas Araghchi yang selalu keren dengan kesederhanaannya.

Di Iran sendiri, dia idola dan merawat banyak kader-kader diplomat kelas dunia, seperti dirinya. Diplomat kaya ilmu, pengetahuan, dan pengalaman, yang mencitrakan kepiawaian - terampil sebagai pakat - profesional dengan kearifan bertonggak kebijaksanaan budaya.  

Sayyed Abbas Araghchi tentu 'bukan diplomat ujug-ujug.' Presiden Masoud Pezeshkian sangat piawai memilih para menterinya sesuai tantangan yang dihitung mendalam. Tanpa kecuali, ketika ia mengangkat Abbas Araghchi sebagai Menteri Luar Negeri Iran (Agustus 2024).

Apalagi pengangkatannya tersebut berlangsung pada periode meningkatnya ketegangan geopolitik dan memerlukan kepemimpinan diplomatik yang kuat. Araghchi merupakan seorang diplomat dan politikus Iran yang yang teruji di lapangan diplomasi - hubungan internasional.

Bukan Diplomat 'Ujug Ujug'

Dengan pengalaman lebih dari tiga dekade, Araghchi dengan cepat menjadi pengambil keputusan kunci dalam membentuk kebijakan luar negeri dan strategi global Iran. Araghchi sendiri menunjukkan kepiawaiannya yang kuat dan menonjol.

Ia menekankan, bagi Iran diplomasi tetap menjadi pilihan, meskipun tekanan militer telah meningkat di kawasan tersebut. Ketika zionis Israel dan Amerika Sertifikat menodai jalan diplomasi dan menyerang Iran -- dengan mengorbankan 160 anak-anak perempuan, saat sekolahnya dirudal.

Serangan inilah yang menyebabkan Iran menyerang balik Israel dan pangkalan AS di Teluk Persia. Iran, kata Araghchi, tak tinggal diam ketika dipancing 'masuk' ke dalam perang yang dipaksakan oleh dua penjahat perang itu. Pelaku genosida dan penculik Presiden Venezuela.

Araghchi bersama para pemimpin pemerintahan, negara dan bangsa Iran pun segera mengingatkan dunia, bahwa Iran bukan Venezuela, bukan Irak, dan bukan negara-negara Arab di kawasan Teluk Persia yang bisa dipecundangi dengan mudah.

Ia tak sekadar berhasil sebagai Pakar Internasional Kementerian Luar Negeri (1988-1991), Wakil Departemen Masyarakat Islam, Regional dan Non-Blok Kementerian Luar Negeri (1991-1993), dan Wakil Duta Besar Iran untuk Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) 1992-1997.

Juga, bukan karena dia sukses menjalankan amanah sebagai Kepala Pusat Studi Teluk Persia, Pusat Studi Politik dan Internasional (1997-1998), Wakil Pemimpin Bidang Penelitian Pusat Studi Politik dan Internasional (1998-1999), dan Pemimpin Redaksi Jurnal Kebijakan Luar Negeri Triwulanan Pusat Studi Politik dan Internasional (sejak 1999).

Tentu, tak pula karena dia berjaya mengemban amanah sebagai Direktur Jenderal Pusat Studi Politik dan Internasional (1998-1999), Duta Besar Iran untuk Finlandia dan Estonia (1999 hingga 2003), Kepala Departemen Eropa Barat Pertama Kementerian Luar Negeri (2003-2004), Dekan Fakultas Hubungan Internasional (2004-2005), Wakil Menteri Bidang Hukum dan Urusan Internasional Kementerian Luar Negeri (2005 - 2007) dan Duta Besar Iran untuk Jepang (2007 - 2011).

Kejelian Politik Kebangsaan

Banyak nilai lebih pada dirinya yang dipandang sesuai dengan tantangan yang bakal (kini sudah) dihadapi Iran di tengah berbagai tantangan dunia internasional. Antara lain, kejelian dan kepekaan politik kebangsaan - kenegarawanan - yang memungkinkan Iran berada pada posisi penentu dan berada di depan dalam berjuang memerdekakan dan mengangkat muru'ah Palestina sebagai negara - bangsa.

Selain itu, kelebihannya dalam melakukan melakukan aksi-aksi diplomasi besar -- termasuk memenangkan perundingan -- dengan kawan dan lawan, dan menentukan konsistensi perjuangan ideologis Iran di panggung dunia -- global dan regional.

Tentu juga karena nyalinya dalam mengemban amanah dan otoritas yang diberikan Presiden Pezeshkian dalam menegaskan eksistensi Iran sebagai negara bangsa berdaulat dan tangguh dijiwai ghairah, ghirah, dan ideologi Revolusi Islam 1979, meski mengalami tekanan -- termasuk embargo -- lebih dari empat dekade.

Peran Kepemimpinan Abbas Araghchi selama krisis, dinilai sebagai faktor yang menyebabkannya sebagai sosok yang paling menonjol dalam struktur politik Iran. Ia menunjukkan prestasi menangani komunikasi internasional dan keputusan kebijakan yang menjadikan Iran sebagai pemeran penting dalam menjaga citra global Iran. Pun dalam bernegosiasi dengan para pemangku kepentingan internasional.

Sayyed Abbas Araghchi juga sosok 'petarung - pelarung' diplomasi dengan kemampuan bahasa dan sastra yang matang, sehingga mampu mengelola proses komunikasi politik tak hanya di forum formal.

Selebihnya adalah, Sayyed Abbas Araghchi dikenal sebagai lelaki yang mampu mengambil keputusan cermat ketika harus menghadapi 'badai' dalam skala domestik, komunal, dan sosial.

Lelaki asal Isfahan kelahiran Teheran, 4 Desember 1962, itu datang dari keluarga sederhana. Kakeknya pedagang karpet. Ayahnya seorang pegawai di Kementerian Luar Negeri Iran, yang meninggal dunia ketika Abbas Araghchi kehilangan berusia 17 tahun.

Ibunya, seorang perempuan Iran yang konsisten menjalankan fungsi sebagai 'pendidik dan pemandu' utama anak-anaknya.

Dalam Asuhan Kasih Sayang Ibu

Dalam asuhan ibu yang memberikannya cinta dan kasih sayang dan waktu yang penuh, laiknya keluarga Sayyed, Abbas Araghchi bersama tiga saudara perempuan dan tiga saudara laki-laki tumbuh dalam kehidupan keluarga entrepreneur - khasnya pedagang - sebagaimana kakeknya.

Salah seorang kakak lelakinya, menggeluti bisnis dan menjadi direktur perusahaan eksportir. Kakaknya yang lain, menjadi pemimpin perusahaan niaga yang sukses. Kemenakannya, Sayyed Ahmad Araghchi sempat mengemban amanah sebagai wakil Gubernur Bank Sentral Iran ( 2017 - 2018).

Sayyed Abbas Araghchi konsisten dan konsekuen memilih jalur sebagai diplomat lewat jalur kedinasan. Ia lulus, lantas menyandang gelar sarjana dalam hubungan internasional dari Fakultas Hubungan Internasional Kementerian Luar Negeri Iran.

Untuk menapaki karirnya -- yang menuntut pengetahuan, keilmuan, dan kemampuan praktis -- ia melanjutkan studi magister dalam ilmu politik di Universitas Islam Azad. Kemudian melanjutkan studi  doktor philosopy pemikiran politik dari Universitas Kent, Inggris.

Perjalanan studinya tersebut memberinya 'bonus' kefasihan bahasa Arab dan bahasa Inggris yang memberinya ruang kiprah profesional di bidang diplomasi sangat luas. Kepiawaiannya dalam berdiplomasi dan berkomunikasi, serta ketangkasannya dalam memberi solusi kala menghadapi kebuntuan negosiasi, menghantarkannya menjadi anggota tim negosiasi nuklir Iran (2013).

Namanya dibincangkan sebagai sosok diplomat yang piawai memainkan peran penting dalam kesepakatan Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA) yang bersejarah. Keberhasilan itu dicapainya, karena secara optimum ia memainkan dengan tangkas dan proporsional pengalamannya sebagai juru bicara, wakil hukum dan internasional, dan wakil politik selama pemerintahan Iran ke-12.

Prestasi demi prestasi ia capai, sehingga sejak September 2021, Sayyed Abbas Araghchi  beroleh kepercayaan mengemban amanah sebagai Sekretaris Dewan Strategis Hubungan Luar Negeri Iran.

Tokoh Kunci Kebijakan LN Iran

Sukses karir Sayyed Abbas Araghchi tak serta-merta diikuti keberhasilan dalam berumah tangga. Pernikahannya dengan Bahareh Abdollahian, kandas di perjalanan. Bahareh, putri dari Ali Abdollahian - salah satu tokoh paling berpengaruh di Kamar Dagang. Ali Abdollahian, pun tokoh politik yang dekat dengan Partai Koalisi Islam.

Sedangkan mertua perempuannya, Ibu Bahareh Abdollahian, seorang seniman dan pelukis. Kala Sayyed Abbas Araghchi menjabat Duta Besar Iran di Jepang, sang ibu sempat berpameran lukisan saat berada di Jepang. Selepas itu, Abbas Araghchi bercerai dengan Bahareh Abdollahian.

Dengan Bahareh Abdollahian, Sayyed Abbas Araghchi beroleh dua putera dan seorang putri. Dari salah seorang anaknya, itu ia mempunyai seorang cucu. Selang beberapa waktu, ia menikah lagi dengan Arezoo Ahmadvand. Pasangan ini dikaruniai seorang anak yang masih kecil.

Perjalanan hidup dan karirnya yang sangat dinamis ia lalui dengan keberanian dan keteguhan atas ketegasan bersikap sesuai dengan sikap politik negara, serta para pemimpin bangsa dan negaranya yang jelas dan berpandangan jauh ke depan. Khasnya terkait dengan keadilan dunia yang dinodai oleh ketidak-mampuan sebagian terbesar pemimpin dunia menegakkan hukum internasional.

Sayyed Abbas Araghchi telah memainkan peran sentral dalam penyampaian pesan diplomatik dan posisi strategis selama konflik yang sedang berlangsung antara Iran, Amerika Serikat (AS), dan Israel.

Dengan caranya yang 'menghunjam nalar, naluri, dan rasa,' ia mengeluarkan peringatan keras, bahwa Iran akan menunjukkan sikap "nir pengekangan," jika terjadi serangan lebih lanjut terhadap infrastrukturnya. Pernyataannya ini menandakan sikap tegas Iran sebagai negara - bangsa dalam perang yang mengempas AS berfriksi dan berkonflik dengan para sekutunya.

Menariknya adalah, kendati ketegangan meningkat, Araghchi terus terlibat dalam komunikasi diplomatik untuk mengelola eskalasi. Ia melakukannya, bahkan dengan cara-cara kultural. Antara lain, pesan Idul Fitri 1447 Hijriah.

Ke depannya, Abbas Araghchi diperkirakan akan tetap menjadi tokoh kunci dalam kebijakan luar negeri Iran. Perannya dalam perang dan negosiasi yang saat ini sedang berlangsung, akan membentuk masa depan stabilitas regional.

Pengalaman, pemikiran strategis, dan keterampilan diplomatik Sayyed Abbas Araghchi menempatkannya sebagai salah satu pemimpin terpenting dalam sistem politik Iran.. insyaAllah, kini dan yang akan datang |

Artikel terkait: Perwujudan Iman dan Kemenangan Atas Ego

Editor : haedar | Sumber : berbagai sumber
 
Ekonomi & Bisnis
16 Apr 26, 19:38 WIB | Dilihat : 183
Pertamina Hulu Energi Raih IFR Asia Award 2025
25 Feb 26, 18:17 WIB | Dilihat : 503
Kata Mat Sabu Stok Beras Cukup
06 Feb 26, 10:04 WIB | Dilihat : 645
Optimistis Iklim Bisnis Lebih Baik
Selanjutnya
Humaniora
17 Apr 26, 08:10 WIB | Dilihat : 224
Menguatkan Fungsi BAZNAS Melayani Umat
15 Apr 26, 02:13 WIB | Dilihat : 349
Pola Pembinaan a la Haji Agus Salim
27 Mar 26, 11:44 WIB | Dilihat : 374
Perwujudan Iman dan Kemenangan Atas Ego
10 Mar 26, 09:41 WIB | Dilihat : 366
Mengenang Profesor Diraja Syed Muhammad Naquib Al Attas
Selanjutnya