Kongres Partai Amanat Nasional - Nusa Dua Bali

Zulkifli Menang, Ketua Umum Tak Otomatis Capres

| dilihat 1968

AKARPADINEWS.COM | KEMENANGAN Zulkifli Hasan atas Hatta Rajasa dalam kompetisi pemilihan Ketua Umum dalam Kongres Partai Amanat Nasional (PAN) di Hotel Melia – Nusa Dua – Bali, Minggu (1/3) adalah keniscayaan. Partai politik sebagai mesin kekuasaan akan selalu bergerak mengikuti arus ke arah kekuasaan formal. Karenanya, sangat wajar bila Hatta Rajasa legowo, menyerahkan estafet kepemimpinannya kepada yuniornya itu.

Dibandingkan dengan Hatta, Zulkifli memang terkesan mampu memainkan soft power, kendati situasi kongres sempat diwarnai oleh laku para bocah, melempar-lempar kursi. Aksi melempar kursi di sidang paripurna kongres, bagi organisasi massa pemuda, boleh-boleh saja terjadi. Tapi, bagi Partai Amanat Nasional (PAN) yang selama ini dicitrakan sebagai partai orang muda intelektual, adalah cela.

Karena itulah pernyataan Zulkifli Hasan selepas terpilih sebagai Ketua Umum, saya nilai sebagai percik penyejuk di awal langkah. Zulkifli mengatakan, kemenangan yang diraihnya atas Hatta Rajasa adalah kemenangan semua kader PAN, suatu kemenangan demokrasi di dalam partai.

Zul yang juga Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) itu, pun memberi semacam garansi, akan menempatkan Hatta di tempat yang mulia. Kendati, posisi Ketua Majelis Pertimbangan Partai bakal diperebutkan dengan Sutrisno Bachir, mantan Ketua Umum yang digantikan Hatta di Kongres Semarang.

Hal lain yang menarik dicatat dari pernyataan Zul adalah komitmennya untuk membawa PAN sebagai partai penyeimbang di luar pemerintahan. Pernyataan itu menunjukkan, Zul mempunyai ghirah untuk menempatkan PAN sesuai dengan prinsip politik yang konsisten.

Dan, ini yang menarik. Zul juga menyatakan, Ketua Umum PAN Hasil Kongres Bali, itu tak otomatis menjadi Calon Presiden PAN pada Pilpres 2019. Karena yang jauh lebih penting adalah memenangkan Pemilu 2019 dan mengirim kader PAN sebanyak mungkin ke DPR RI di Senayan. Sekaligus menyiapkan diri untuk menghadapi Pilkada Langsung serentak, yang bakal berlangsung 2017 mendatang.

Zul yang unggul hanya enam suara dari Hatta Rajasa, juga akan mengakomodasi para pendukung Hatta dalam kepengurusan yang dipimpinnya, meski tentu ada beberapa orang pendukung utama Hatta Rajasa yang musti sadar menyingkir ke tepian jalan.

Amien Rais, dedengkot PAN yang adalah juga besan Zul, melihat kerja besannya itu memang patut berbuah kemenangan. Lepas dari itu, di kalangan luar PAN, Zul dikenal sebagai sosok politisi yang jelas garisnya, tetapi tak pernah berhenti bersilaturahim. Zul tidak membatasi ruang geraknya sebagai politisi.

Silaturahimnya bagus. Hal ini pertanda, Zul mempunyai jejaring kerja politik yang memungkinkan menjadikan PAN sebagai partai yang modern. Partai yang membuka ruang pluralitas secara proporsional kepada siapa saja. Sekaligus memberi tempat bagi kader muda usia untuk menempa diri. Dan yang lebih penting lagi, Zul menunjukkan sikap kenegarawanan.

Menjelang berlangsungnya Kongres PAN di Nusa Dua – Bali, sejumlah pengamat sudah mengkalkulasi, Zul jauh lebih pantas dan patut memimpin PAN menghadapi Pemilu 2019. Lelaki murah senyum yang dalam banyak hal ‘terlalu’ baik kepada teman, itu juga perlu diingatkan, agar dalam konteks mengelola ‘kekuasaan’ partai, dia kudu lebih berhati-hati.

Maklum, sejak Pemilu 2014 banyak para politisi ‘kutu loncat’ yang masuk ke dalam PAN dan mengadu peruntukan di partai berlambang Matahari Putih, yang didesain Joko Santoso Hp, seorang profesional periklanan itu. Zul juga perlu mengundang balik sejumlah kader PAN yang berkomitmen pada perkaderan, seperti Afni Achmad yang tak berhenti melakukan kaderisasi itu. | Sem Haesy

Editor : Web Administrator
 
Energi & Tambang
Seni & Hiburan
16 Nov 25, 10:19 WIB | Dilihat : 1023
Hazieq Rosebi Berjenaka dengan Nurlela
19 Nov 24, 08:29 WIB | Dilihat : 3115
Kanyaah Indung Bapak
Selanjutnya